Minggu, Januari 06, 2019

Gus Mus: Tidak Ada Islam KTP

Setiap orang yang mengucapkan dua kalimat Syahadat yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah utusan Allah, maka secara otomatis ia adalah orang yang beragama Islam. Setiap muslim tidak berhak menilai keislaman muslim lain, apalagi sampai mengkafirkannya. Sikap menjustifikasi muslim lain dengan sebutan kafir dan syirik bukanlah spirit yang diajarkan agama, justru menuding muslim lain sebagai sesat adalah cerminan dari tingginya hawa nafsu yang mengitari kepribadiannya.

Pesan itulah yang disampaikan KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di Youtube. Menurut Gus Mus, setiap orang yang bersyahadat adalah muslim. Tidak ada seorang pun yang berhak menilai apakah seseorang telah keluar dari Islam, selama ia masih bersyahadat. Sekalipun seorang Muslim jarang menunaikan shalat, belum menunaikan ibadah haji, bahkan masih belum menunaikan zakat, kita tidak berhak menjustifikasi muslim itu telah kafir.

“Orang yang mengatakan lailahaillallah itu muslim. Muslim belum shalat ada, muslim belum haji banyak, muslim belum zakat lebih banyak lagi. Tapi begitu dia bersyahadat itu sudah Islam,” ungkap Kiai yang juga pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah itu.

Menurut Gus Mus, perilaku seorang muslim yang memberi cap ‘Muslim KTP’ kepada muslim lain yang belum taat dalam menunaikan ajaran-ajaran agama, merupakan tindakan yang tidak dibenarkan, terlebih sampai menuduh muslim lain sebagai syirik dan kafir. Tuduhan semacam itu menurut Gus Mus telah melampaui otoritas Tuhan. Tuduhan itu sejatinya berasal dari nafsu belaka, dan bukan semangat dalam beragama.

“Jadi tidak benar ada Islam KTP, ada Islam macem-macem itu. Apalagi mengkafirkan orang yang jelas-jelas shalat, itu tidak benar sama sekali. Tidak benar. Itu nafsu, bukan semangat keagamaan,” tegas Gus Mus.

Semangat beragama menurut Gus Mus harus dibawa kepada hal-hal yang menggembirakan, bukan justru yang menakutkan. Masyarakat Indonesia berbondong-bondong memeluk agama Islam karena agama ini ditampilkan oleh para ulama-ulama terdahulu melalui hal-hal yang menggembirakan dan memudahkan. Tidak ada dalam sejarahnya para pembawa Islam ke Nusantara mudah menyesatkan dan mengkafirkan orang lain. Yang menjadi prioritas ulama-ulama dahulu adalah Islam yang membahagiakan.

“Semangat beragama itu adalah semangat mengajak semua orang untuk berbahagia di dunia, maupun akhirat,” pungkas Gus Mus.
This Is The Newest Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
This Is The Newest Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner