Al-Fatihah ayat 7

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Fatihah
December 12, 2010
0 Comments
2099 Views

SURAT AL-FATIHAH  Ayat 7

[(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat].

1). Pengulangan kata “shirath” (jalan) di ayat ini menunjukkan bahwa Allah hendak mengunci pengertian kata “shirath” tersebut sehingga kita tidak terjerumus ke dalam pengertian yang abstrak, rabun dan terbuka. Terbukti dengan disambungnya kata (shirath) ini dengan kata “alladzyna” (isim maushul/kata penyambung), yang berfungsi mendeskripsikan kata sebelumnya dengan kalimat lengkap sesudahnya. Sehingga pengertian kata “shirath” di sini tidak boleh keluar (atau tidak boleh difahami lain) dari isi kalimat sesudahnya: an’amta ‘alayhim (orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya), ghayril maghdlubi ‘alayhim [bukan (jalan) mereka yang dimurkai], dan wa lād-dlāllyn [dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat].

2). Frase “shiratal-mustaqym” (jalan yang lurus) di ayat yang lalu berbentuk ‘kumpulan teks’, ‘konsep’, ‘gagasan’, ‘ajaran’. Walaupun arti harafiahnya—setelah membacanya—tersaji sangat jelas di layar pikiran kita, tetapi saat bertindak dengan shiratal-mustaqym, sangat mungkin tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh si Pemberi shiratal-mustaqym itu. Sebab masih dimungkinkan terjadinya senjang yang lebar antara arti harafiah yang difahami pikiran tadi dengan pemangku komando diri yang bernama AKU. Maka demi mencegah kejadian seperti ini, Allah selalu menyertakan figure hidup yang juga berpredikat shiratal-mustaqym, yang telah terakreditasi oleh-Nya. Maka setiap Nabi dan Rasul dan orang-orang yang ditugaskan melanjutkan risalah mereka adalah figur shiratal-mustaqym itu sendiri. Hubungan di antara keduanya bisa diterangkan seperti ini: shiratal-mustaqym ini tereksposisi (terpapar) ke dalam diri figur dan diri figur ini juga tereksposisi (terpapar) ke dalam shiratal-mustaqym, sehingga tidak ada dualitas di antara keduanya. Sehingga ada shiratal-mustaqym yang maktub (terkonseptualisasi) da ada yang maf’ul (teraktualisasi).

3). Figur itulah yang dimaksud: an’amta ‘alayhim (orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya). Itu sebabnya ni’mat yang dimaksud di sini pasti bukan hal-hal yang bersifat material. Jika mencermati penggunaan kata ni’mat dalam al-Qur’an, maka makna yang dikandungnya kebanyakan merujuk kepada ajaran agama (shiratal-mustaqym secara konseptual) yang tereksposisi ke dalam figur nabi dan orang-orang yang mewarisinya (lihat misalnya: 2:40 dan 231, 3:103, 5:3 dan 7, dan 37:57). Detail paling rinci mengenai figur orang-orang yang mendapatkan ni’mat itu diungkapkan oleh ayat ini: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, shiddiiqiin, syuhāda’, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (4:69) Dan ayat ini: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Nabi Ya’qub), dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayātur Rahman (ayat-ayat Allah) kepadanya, mereka menyungkur seraya bersujud dan menangis.” (19:58)

4). Untuk melokalisasi figur an’amta ‘alayhim, sehingga tidak terkacaukan oleh figur lain, kelanjutan ayat menggunakan kata “ghayr” (bukan) yang bermakna negasi atau penolakan terhadap figur lain tersebut: al-maghdlub (yang dimurkai) dan ad-dlallyn (yang sesat). Siapakah mereka ini? Sederhananya, tentu mereka yang tidak meniti jalan shiratal-mustaqym. Untuk figur al-maghdlub, dengan mudah kita mengidentifikasinya melalui penelusuran kata “gha-dli-ba” dalam al-Qur’an, yang ternyata hanya ada 5 (lima) ayat: 4:93, 5:60, 48:6; 58:14, dan 60:13. Dari kelima ayat tersebut keluar 3 (tiga) postur. Pertama, mereka yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja (4:93). Kata ‘seorang’ harus dipertegas, karena apatah lagi jika membunuh banyak orang mukmin. Dan membunuh di sini tentu tidak harus  diartikan ‘dengan tangan sendiri’, sebab boleh jadi yang bersangkutan hanya mengobarkan perang, memerintahkan atau cuma berdiri di belakang layar sebagai aktor intelektual. Kedua, orang-orang Yahudi yang maninggalkan Hari Sabat karena terpukau oleh kenikmatan dunia (5:60). (Bandingkan juga dengan 62:11). Ketiga, orang munafik dan orang musyrik (48:6). Setelah al-maghdlub terdefenisikan begitu transparannya, Allah kemudian melarang kita untuk berwilayah kepada mereka (60:13). Dan siapa yang berwilayah kepada mereka, Allah mengancamnya dengan azab yang sangat keras dan menyebut itu sebagai perbuatan yang paling buruk (58:14-15).

5). Terakhir, ad-dlallyn (yang sesat). Yang termasuk dalam golongan ini ialah: satu, mereka yang tidak menemukan kebenaran sehingga menjadikan agama sekedar sebagai tempat transit atau beragama berdasarkan asumsi-asumsi, atau bahkan mendustakan ayat-ayat Allah (3:90, 6:77, 23:106). Dua, orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya (15:56). Tiga, orang jahiliyah , yang menjadikan ibadah sekedar sebagai kebanggaan primordial (2:198). Kalau : al-maghdlub adalah mereka yang telah berhasil mengidentifikasi diri sebagai penentang agama Allah (shiratal-mustaqym), baik dari luar ataupun dari dalam, maka ad-dlallyn adalah mereka yang tidak bisa mengidentifikasi diri dengan tegas di jalan mana mereka sedang bergerak. Andai mereka menganut suatu agama, maka merekapun menganutnya secara dogmatik belaka.

AMALAN PRAKTISIngatlah, saat membaca ayat ini (terutama di dalam salat), Anda mengidentifikasi diri di hadapan Allah sebagai bagian dari nabi-nabi, shiddiiqiin, syuhāda’, dan orang-orang saleh. Kemudian meminta dan berjanji untuk tidak masuk ke dalam golongan orang-orang yang dmurkai dan golongan orang-orang yang sesat. Peganglah ini sebagai prinsip dan terapkan pada semua lini kehidupan Anda. Terutama dalam kehidupan politik, berbangsa dan bernegara.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply