Al-Fatihah ayat 5

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Fatihah
December 12, 2010
0 Comments
1739 Views

SURAT AL-FATIHAH  Ayat 5

[(Hanya) kepada Engkaulah kami menyembah, dan (hanya) kepada Engkaulah kami meminta pertolongan].

1). Ayat 1 sampai 4 semuanya berbicara tentang Dia, tentang Allah. Di ayat 5 ini, seakan-akan kita berkata begini: “Ya Tuhan, setelah kami mengenal-Mu dengan benar, sekarang kami yakin bahwa Engkaulah yang pantas kami sembah sehingga Engkau pulalah yang pantas kami mintai pertolongan.” Jadi ayat ini mengasumsikan bahwa kita telah mengenal-Nya (ma’rifatullah) dengan benar, baru kemudian kita mengibadahinya. Karena bagaimana mungkin menyembah sesuatu yang tidak kita kenal. Bagaimana mungkin kita meminta pertolongan kepada sesuatu yang masih kabur di pikiran. Setelah itu, tidak mungkin kita meminta uang kepada sesorang yang kita yakini tidak punya uang. Tidak mungkin kita meminta pertolongan kepada sesorang yang kita yakini tidak bisa memberikan pertolongan. Camkan ini: awwaluddin ma’rifatullah (awal dari agama adalah mengenal Allah).

2). Konsekuensi logis atas pengakuan kita akan ke-Tuhanan-Nya adalah dengan menyembah-Nya (dengan melakukan ibadah-ibadah yang diajarkan-Nya). Konsekuensi logis atas pengakuan kita akan ke-Rajaan-Nya adalah dengan menjadi hamba-Nya (dengan mengikuti seluruh Kehendak-Nya). Konsekuensi logis atas pengakuan kita akan ke-Penguasaan-Nya adalah dengan mematuhi-Nya (dengan mentaati seluruh hukum-Nya). Setelah itu, baru kita berhak meminta (pertolongan) kepada-Nya. Oleh karena itu, kata “nasta’in” (meminta) tidak boleh mendahului kata ”na’budu” (menyembah). Karena hak meminta nanti muncul setelah menyembah. Orang yang  meminta sebelum mengabdi adalah orang yang tidak tahu diri.

3). Kata “na’budu” satu asal kata dengan “’ibādah” (penyembahan) dan “’ibād” (hamba). Bahwa semua manusia adalah hamba-Nya (dalam pengertian umum), itu betul. Tetapi hanya manusia yang mengibadahi-Nya dengan sempurnalah yang disebutnya dengan’ibād (hamba dalam pengertian khusus). Hamba dalam pengertian ’ibād inilah yang dimaksud dalam ayat ini:  “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sungguh Aku dekat (kepadanya). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila mereka berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu (tetap) memenuhi-(perintah)Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada di jalan yang benar.” (2:186)

4). Perbuatan ‘meminta’ mempunyai dua pengertian: hakiki (sejati) dan majazi (semu). Kepada sesama kita boleh meminta, karena kalau tidak saling meminta, kehidupan tidak bisa berjalan. Tetapi meminta dalam pengertian ini sifatnya semu. Sebab seperti telah diuraikan pada ayat sebelumnya, pemilik dan penguasa sejati segala sesuatu adalah Allah. Maka apa yang manusia aku sebagai miliknya, pada hakikatnya adalah semu. Meminta dalam pengertian hakiki inilah yang disebut isti’anah (bentuk isim/kata-benda dari kata-kerja nasta’in). Sehingga objek isti’anah dalam al-Qur’an selalu Allah. “Musa berkata kepada kaumnya: ‘Mintalah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; Dia mewariskan kepada siapa yang Dia keihendaki diantara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa’,” (7:128). Saat menempati posisi sebagai objek isti’anah, Allah menyebut diri-Nya dengan al-Musta’an, Yang dimintai pertolongan, (12:18 dan 21:112).

5). Ada dua kata yang sering menyertai kata isti’anah ini. Yaitu kata SABAR dan SALAT (2:45 dan 153). Dan urutan ini tidak pernah bertukar. Sabar mendahului salat boleh jadi karena sabar itu adalah kualitas pribadi yang mutlak menyertai pemiliknya setiap saat. Sementara salat hanya dilakukan lima kali sehari semalam. Sabar juga dibutuhkan agar setiap saat kita tetap istiqamah (konsisten) berpegang pada prinsip hakiki di atas tadi. Yaitu bahwa apapun yang kita lakukan, apapun profesi dan pekerjaan kita dalam mencari nafkah, sejatinya Allahlah yang kita ‘minta’ melalui hukum sebab-akibat yang ada pada perbuatan atau pekerjaan atau profesi tersebut. Ini yang menyebabkan kata SABAR lebih banyak (yang menyandingi kata isti’anah) ketimbang SALAT.

6). Dengan ayat ini maka tuntaslah jenis tauhid yang dibahas dalam al-Qur’an. Pertama, tauhid uluhiyah (ayat1); yakni dengan menempatkan Allah sebagai satu-satunya Zat yang pantas di-ilah-kan atau di-Tuhan-kan. Kedua, tauhid rububiyah (ayat 2), dengan menempatkan Allah sebagai rabb Yang mencipta, memelihara, mengatur, dan mendidik seluruh alam. Ketiga, tauhid ubudiyah (ayat 5), dengan menempatkan Allah sebagai satu-satunya ma’bud (objek ibadah) yang pantas disembah. Keempat, tauhid fi’liyah (ayat 5), dengan meyakini bahwa Allahlah satu-satunya sumber fi’il (perbuatan) dan objek (yang dituju oleh) perbuatan sehingga semua perbuatan pada dasarnya adalah isti’anah kepada-Nya.

AMALAN PRAKTISSendainya Anda lalai ketika sedang salat (dengan mengingat selain Allah), maka usahakan sedapat mungkin mengingat-Nya kembali pada saat sedang membaca ayat ini. Karena jika Anda mengingat selain-Nya, maka “Engkau” yang ada di ayat ini bukan lagi Allah tapi sesuatu yang Anda ingat tersebut; yang boleh jadi harta, pangkat, manusia, popularitas, dsb.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply