Al-Fatihah ayat 4

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Fatihah
December 12, 2010
0 Comments
1984 Views

SURAT AL-FATIHAH  Ayat 4

(Yang Menguasai Hari Pembalasan)

1). Kata malik bisa berarti “pemilik” bisa juga berarti “penguasa” atau “raja”. Keduanya bermakna sama. Sebab jika kita memiliki (sesuatu), secara otomtis kita juga berkuasa (atas sesuatu tersebut).  Begitu juga jika kita menguasai (sesuatu), sudah tentu kita juga memilikinya. Pemilik dan penguasa mempunyai otoritas mutlak terhadap yang dimiliki dan dikuasainya. Sementara yang dimiliki dan dikuasai harus menyerahkan diri secara mutlak kepada pemilik dan penguasanya. Yang dimiliki dan dikuasai secara mutlak, tidak boleh punya kehendak yang mandiri atau kehendak bebas (free-will) lagi. Semua kehendaknya adalah kehendak pemiliki dan penguasanya. Itu sebabnya malaikat penjaga neraka juga bernama Malik, karena ahli neraka sama sekali tidak punya kehendak lagi selain mengikuti (secara terpaksa) hukum-hukum yang berlaku di neraka dan diawasi ketat oleh Malaikat Malik.

2). Kata malik dalam al-Qur’an hanya muncul tiga kali. Dua (1:4 dan 3:26) untuk Allah dan satu (43:77) untuk malaikat penjaga neraka. Di Surat 3:26, Allah menjelaskan posisi-Nya sebagai Malik: “Katakanlah: ‘Wahai Tuhan Pemilik kerajaan (langit dan bumi), Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tanganMulah (segala) kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” Perhatikan, betapa sifat Pemilik yang ada pada-Nya tidak menyisakan ruang kehendak sedikitpun pada selain-Nya. Maka pengakuan kita atas ke-Pemilik-an-Nya harus dimaknai sebagai leburnya seluruh kehendak kita ke dalam kehendak-Nya. “Kehendak saya ialah tidak lagi berkehendak,” kata seorang Arif Billah.

3). Yang menarik ialah frase “…. Hari Pembalasan” yang diterjemahkan dari “…. Yaum ad-Dyn”, Padahal kalau diterjemahkan secara harafiah, harusnya terjemahannya: “…. Hari Agama.” Karena kata ad-dyn dalam al-Qur’an lebih banyak merujuk kepada agama. Umpamanya: “Innaddyna ‘indallahil Islam,” [Sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah ialah Islam] (3:19). Ingat juga frase Dinul Islam (Agama Islam). Penjelasan atas masalah ini adalah bahwa pada Hari Pembalasan nanati, manusia benar-benar sudah tidak punya kehendak bebas (free-will) lagi. Yang ada hanyalah kehendak Allah belaka, Yang akan mengadili manusia berdasarkan (Kitab Undang-Undang) Agama yang telah diturunkan kepada mereka melalui Nabi dan Rasul-Nya. “Tahukah kamu apakah Hari Agama itu? Kemudian (sekali lagi), tahukah kamu apakah Hari Agama itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak (lagi) memliki kemampuan sedikitpun untuk (menolong) orang lain; dan segala urusan pada hari itu (hanyalah) milik Allah.” (82:17-19).

4). Maka peran agama dalam kehidupan ini tiada lain kecuali membimbing manusia untuk menyamakan kehendaknya dengan kehendak Tuhannya. Karena ‘kehendak’ (iradat) yang ada pada manusia adalah pmberian dari-Nya—yang merupakan bagia dari Kehendak (Iradat)-Nya—yang tidak diberikannya kepada selain manusia. Itu sebabnya, orang yang menggunakan kehendak itu bertentangan dengan Kehendak-Nya, disebut durhaka atau berdosa. Orang yang kehendaknya sejalan dengan Kehendak Allah disebut orang taat atau patuh. Maka arti lain dari ad-dyn ialah taat: “Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah keta’atan (ad-dyn) itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?” (16:52)

AMALAN PRAKTISBerusahalah untuk selalu taat dan patuh kepada (agama) Allah dimanapun dan kapanpun, sebelum datangnya hari dimana Anda tidak lagi bisa melawan Kehendak-Nya. Mulailah dari disiplin waktu dalam beribadah kepada-Nya. Karena kalau Anda bisa tepat waktu dalam urusan dunia Anda, seharusnya lebih bisa lagi tepat waktu dalam berurusan dengan-Nya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply