Al-Baqarah ayat 99

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 11, 2011
0 Comments
1037 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 99

 

 

وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلاَّ الْفَاسِقُونَ

[Dan sungguh Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya melainkan orang-orang yang fasik.]

[And certainly We have revealed to you clear communications and none disbelieve in them except the transgressors.]

 

1). Untuk memahami dengan benar ayat ini, kita tidak boleh memisahkannya dengan ayat-ayat sebelumnya, minimal pembacaannya dimulai sejak ayat 92: “Sungguh Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kalian menjadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya (ke Gunung Thursina selama 40 malam). Kalian (sebenarnya) adalah orang-orang zalim.” Frasa “bukti-bukti kebenaran (mukjizat)” adalah terjemahan dari kata الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināt). Kata ini adalah yang kedua di sepanjang Surat al-Baqarah. Yang pertama di ayat 87 yang berkenaan dengan Nabi Isa as: وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ  [wa ātaynā ‘ĭysa bna maryama al-bayyināt, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada Isa putera Maryam]. Berarti kata بَيِّنَاتٍ (bayyināt) di ayat 99 ini adalah yang ketiga, dimana secara khusus berbicara kepada Nabi Muhammad. Ketiga nabi ini (Musa, Isa, dan Muhammad) adalah Nabi Besar, termasuk diantara lima orang nabi pembawa Syari’at yang bergelar Ulul Azmi. “Dia (Allah) telah mensyari’atkan kepada kalian agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kalian seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (42:13)

 

2). Yang berbeda dari ayat 87 dan 92 ialah bahwa kata بَيِّنَاتٍ (bayyināt) di ayat 99 ini—selain tanpa tambahan ال (alif-lam)—ada tambahan آيَاتٍ (āyātin, ayat-ayat atau tanda-tanda) di depannya, jadilah bunyinya: آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ (āyātin bayyinātin, ayat-ayat yang jelas). Sehingga, berdasarkan konstruksi frasa-nya, penekanan ayat ini justru pada kata آيَاتٍ (āyātin).  Kata بَيِّنَاتٍ (bayyinātin) hanya memberi sifat yang menerangkan kata آيَاتٍ (āyātin) tersebut. Yaitu bahwa ayat-ayat (yang diturunkn kepada Nabi Muhammad saw) tersebut adalah jelas, terang-benderang, tidak membuka celah kemungkinan terjadinya perselisihan pendapat. Ini masuk akal, sebab kalau ayat-ayat Allah kita anggap tidak jelas, sama dengan menuduh Allah ‘berbicara’ tidak jelas. Na’udzu billah min dzālik (kita berlindung kepada Allah dari tuduhan seperti itu). Kalau Allah ‘berbicara’ tidak jelas, bagaimana Kitab Suci-Nya bisa menjadi JALAN dan PETUNJUK. Sedemikian jelas dan terang-benderangnya ayat-ayat Allah sehingga tiadalah orang yang menolaknya kecuali bahwa di dalam jiwanya ada penyakit yang disebut بَغْي (baghyun, iri hati atau dengki)—lihat kembali ayat 90. Penyakit dan sifat بَغْي (baghyun, iri hati atau dengki) ini diungkapkan dalam bentuk menyamarkan, mengaburkan, bahkan membelokkan makna asli dari ayat-ayat tersebut. Ingat kembali istilah تحريف (tahrĭyf) yang sudah pernah kita bahas sebelumnya di ayat 75. “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah PETUNJUK  itu JELAS bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat demikian) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (47:25)

 

3). Kembali kepada الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināt). Kalau kepada Nabi Musa as dan Nabi Isa as, penekanan الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināt)-nya adalah pada mukjizat-mukjizat keduanya, yang memang sampai sekarang pun masih sering disebut-sebut dan dikagumi. Tetapi kepada Nabi Muhammad saw, penekanan الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināt)-nya justru pada ayat demi ayat yang termaktub di dalam al-Qur’an. Artinya, setiap ayat memiliki mukjizatnya sendiri-sendiri. Dan terbukti, setelah melintasi ruang-waktu selama 14 abad, hingga kini tidak ada satupun dari ayat-ayat tersebut yang berselisih dengan realitas-realitas yang berlangsung dan temuan-temuan ilmu-pengetahun yang sudah dinyatakan valid. “ (Maha Suci Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (67:3-4) Itulah mukjizat kauniyah (alam semesta). Maka kalau di dalam ayat-ayat kauniyah ini kita tidak menemukan ketidakseimbangan dan ketidaksempurnaan, niscaya begitu juga adanya di dalam ayat-ayat qauliyah (ayat-ayat yang terkatakan di dalam Kitab Suci-Nya). “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (yaitu Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).” (4:174)

 

4). Karena begitu jelas dan terang-benderangnya ayat-ayat al-Qur’an ini, maka tiadalah yang menolak dan mengingkarinya kecuali orang yang fasik. وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلاَّ الْفَاسِقُونَ (wa mā yakfuru biɦā illal-fāsiqŭwn, dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik). Thabari dalam Tafsir Jami’ul Bayan-nya menjelaskan bahwa yang disebut fasik ialah orang yang keluar dari sesuatu menuju kepada selainnya. Artinya, begitu jelasnya ayat-ayat al-Qur’an, baik dalam pengertian maknanya maupun dalam pengertian cakupannya, sehingga semua orang yang berakal sehat pasti bisa memahaminya. Maka yang menolaknya pastilah orang yang keluar dari pengakuannya sendiri. Paling tidak, pengakuan itu mereka simpan sendiri dalam hatinya. Dan penolakan ini tidak harus menyeluruh. Yang disebut fasik ialah mulai dari menolak sebagian hingga menolak secara keseluruhan. Menolak satu ayat sudah cukup. Seperti yang disifati Iblis saat diperintah bersujud kepada Adam oleh Allah: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia (Iblis) adalah dari golongan jin, maka ia fasik terhadap perintah Tuhannya. Patutkah kalian mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai wali bagi orang-orang yang zalim.” (18:50) Persis inilah yang terjadi pada Bani Israil saat mengethui kebenaran kenabian Muhammad dari kalangan Arab keturunan Ismail. Mereka keberatan menerimanya. Kebenciannya kepada Muhammad berimbas pada kebenciannya kepada Kitab Suci yang dibawanya, para malaikat suci, beserta seluruh Tatanan Ilahi.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kewajiban pertama manusia ialah belajar. Tujuan belajar ialah mendapatkan kejelasan tentang segala sesuatu. Dan konsekuensi logis dari kejelasan itu ialah: mengakuinya, menerimanya, mengimaninya, dan mengamalkannya. Simpul dari semua kejelasan itu ialah al-Qur’an. Maka menolak kebenaran Kitab Suci ini, walau hanya satu ayat, adalah kefasikan.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply