Al-Baqarah ayat 97

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 5, 2011
0 Comments
1775 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 97

 

قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

[Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.]

[Say: Whoever is the enemy of Jibreel–for surely he revealed it to your heart by Allah’s command, verifying that which is before it and ance and good news for the believers.]

 

1). Di ayat yang lalu (96), Allah memberi kita informasi penting mengenai Bani Israil—yang faktanya ternyata memang benar adanya—bahwa mereka itu adalah أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ [ahrashan-nāsi ‘ala hayātin, manusia yang paling loba kepada kehidupan (dunia)].  Kehidupan dunia, dalam pengertian materialnya, adalah ufuk terbawah dari rangkai gradasi alam kehidupan secara keseluruhan—sejauh yang bisa kita ketahui—yang memancar dari pusat eksistensi, dan karenanya juga paling singkat masanya dan akan binasa semuanya. Di ufuk yang lain, yang merupakan kebalikan dari ufuk yang terbawah tadi, ada alam ruh, alam yang paling tinggi. Alam ruh bergradasi lagi, dan yang bertahta dipuncak gradasi itu ialah Malaikat Jibril. Sehingga Ruhul Amin, bahkan Ruhul Qudus, terkadang diatributkan kepadanya. Karena posisinya yang dipuncak itulah yang menyebabkannya begitu dekat dengan Allah. Sebegitu dekatnya sehingga ILMU-Nya, yang merupakan kunci penyingkap rahasia-rahasia, hanya Dia percayakan kepada Jibril untuk diantarkan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Karena benak dan pikiran Bani Israil sudah terperangkap lengkap dalam kecintaan kepada kehidupan dunia material ini, maka yang paling mereka benci ialah lawannya, alam ruh, Malaikat Jibril. Inilah yang menerangkan mengapa orang yang materialistik cenderung anti spiritualistik. Inilah juga yang menerangkan mengapa Bani Israil begitu membenci Jibril sebagaimana mereka membenci Nabi Muhammad dan Kitab Suci al-Qur’an yang dibawah oleh Malaikat Jibril kepada Sang Nabi tersebut. “Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (26:192-294)

 

2). Walaupun ayat ini secara khusus berbicara soal bagaimana wahyu dibawah oleh Jibril ke dalam kalbu Nabi, tetapi secara umum sebetulnya memberikan infomasi sangat berharga kepada kita semuanya. Informasi sangat berharga itu ialah “pentingnya kalbu” dalam urusan wahyu. Perlu dicatat baik-baik bahwa wahyu itu landing-nya di jiwa, dan karenanya masuk dalam matra kalbu (ruhani) dan bukan kaldu (jasmani). Malaikat Jibril sering disebut juga sebagai Ruhul Qudus (Ruh Suci) karena kesuciannya. Nama lain dari wahyu ialah Kalam Suci karena ia memang merupakan Kalam Allah yang Maha Suci. Makanya tidak heran kalau Malaikat Jibrillah yang dipercaya Allah untuk membawanya ke Kalbu Suci diantara hamba-hamba-Nya. Dengan demikian, persoalan kunci yang berkenaan dengan kemampuan menyerap wahyu, ialah “kalbu yang suci”. Tanpa ini, jangan pernah berbicara tentang wahyu lagi; dan Kitab Suci niscaya hanya berhenti sekedar sebagai bacaan yang menggiurkan. Bacaan yang melahirkan kebanggaan, dan bukan kecerdasan. Yang melahirkan fanatisme, dan bukan kreativisme. Perpecahan, dan bukan persatuan. Tak lebih. Renungkanlah ayat tentang Maryam ini: “Dan Maryam puteri Imran, yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam(diri)-nya ruh Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.” (66:12) Dan tentang al-Qur’an: “Sekali-kali jangan (mengabaikan ajarannya)! (Karena) sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya. Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan. Di tangan para penulis. (Yaitu malaikat) yang mulia lagi berbakti.” (80:11-16) Sehingga untuk menggapainya, tidak boleh tidak, juga harus dengan jiwa yang suci.

 

3). Bisakah orang menjadi Ahli Kitab tanpa kesucian hati? Bisa. Inilah yang diterangkan sebelumnya (ayat 78) berkenaan dengan Bani Israil yang begitu kokoh menyebut dirinya penganut Kitab Suci. Tetapi karena jiwa mereka disesaki oleh cinta dunia dan kedengkian kepada sesama, maka pengetahuan mereka tentang Kitab Suci tidak lebih dari أَمَانِيَّ (amanĭy, angan-angan kosong) belaka saja. Mereka seperti keledai yang memikul kitab-kitab tebal tapi tidak faham sama sekali isi dari kitab-kitab tersebut (62:5). Sehingga suara mereka pun seperti suara keledai, dalam pengertian hanya mengandalkan intonasi dan resonansi, mengandalkan politisasi dan alat-alat komunikasi, bukan kualifikasi dan kejernihan hati. Mereka berbicara tanpa tuntunan wahyu. Mereka berbicara bukan untuk memperlihatkan kebenaran tapi untuk menguburkannya. Maka ambillah ibrah (pelajaran) dari nasihat Luqman kepada anaknya:  “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah (pula) kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (31:17-19)

 

4). Diantara fungsi al-Qur’an ialah: مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ [mushaddiqan limā bayna yadayɦi wa busyrā lil-mu’minĭyn, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman]. Pertama, membenarkan Kiba Suci-Kitab Suci sebelumnya, dengan maksud memperlihatkan kepada manusia bahwa Nabi Muhammad dan al-Qur’an bukanlah Nabi dan Kitab Suci yang lepas dari konteks nabi dan Kitab Suci sebelumnya, yang membawa sesuatu yang benar-benar baru, baik dalam pengertian tujuan ataupun dalam pengertian syari’at. Nabi Muhammad dan al-Qur’an datang dalam rangka melanjutkan dan menyempurnakan Milah Ibrahim. “Katakanlah: ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan’.” (46:9) Kedua, al-Qur’an adalah petunjuk. Yaitu membimbing dan menuntun manusia untuk mencapai tujuan-tujuan primordialnya, tujuan-tujuan fithrawinya, dalam rangka mencapai puncak kebahagiaan hakiki. Ketiga, juga berfungsi sebagai berita gembira. Bahwa kehidupan dunia hanyalah singkat masanya, namun jika melewatinya menurut Tuntunan Ilahi bersama Khalifah Ilahi, maka kenikmatan abadi menanti di sana, di alam akhirat di sisi Allah swt.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Banyak diantara kita yang berfikir bahwa tugas Malaikat Jibril sudah selesai dengan tuntasnya ragkain Kitab Suci pada al-Qur’an. Pertanyaannya: lalu siapa yang mengantar faham itu ke dalam kalbu saat Anda mempelajarinya? Tentu tetap Jibril. Dan karena Jibral adalah Ruh Suci maka ia hanya meletakkan faham itu di dalam kalbu yang suci pula.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply