Al-Baqarah ayat 95

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 3, 2011
0 Comments
911 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 95

 

وَلَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَداً بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمينَ

[Dan mereka sekali-kali tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena apa (kesalahan-kesalahan) yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.]

[And they will never invoke it on account of what their hands have sent before, and Allah knows the unjust.]

 

1). Apakah Bani Israil berani menerima ‘tantangan’ Allah untuk menyambut kematian dengan sikap redla dan suka rela? Ternyata, “…mereka sekali-kali tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya”. Kalau mereka takut mati, lalu dimanakah korelasinya dengan pengakuannya sendiri bahwa mereka adalah أَوْلِيَاء لِلَّهِ (awliyā’ullah, anak-anak kinasih Allah)? Bukti apa lagi yang musti diminta dalam kaitannya dengan klaim mereka bahwa kehidupan akhirat dan surganya hanya untuk wangsa mereka saja dan tidak untuk yang lain?  Jawaban Allah di ayat 95 ini menunjukkan bahwa pengakuan dan klaim mereka itu benar-benar hampa belaka. Seandainya pengakuan mereka itu tulus bahwa mereka itu adalah أَوْلِيَاء لِلَّهِ (awliyā’ullah, anak-anak kinasih Allah), tentu merekalah yang paling merindukan perjumpaan dengan-Nya, yang diantara indikasinya ialah menyambut kematian dengan redla dan suka rela. Karena bukankah puncak perwujudan kerinduan itu justru setelah kematian datang menjemput? “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan redla dan diridlai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (89:27-30)

 

2). Perasaan takut mati adalah indikasi kezaliman yang telah dilakukan oleh orang yang bersangkutan. “…Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukuli (mereka) dengan tangannya, (sambil berkata): ‘Keluarkanlah jiwamu’. Di hari ini kalian dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kalian selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (6:93)  Malaikat pencabut nyawa menghardik mereka dengan kasar seraya berkata “keluarkanlah jiwamu”, karena begitu sulitnya mereka menerima kenyataan bahwa kematian pada akhirnya sampai jua kepadanya. Mereka merasa belum puas dengan pelbagai kesenangan dunia.  “Seandainya kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan punggung mereka (dan berkata): ‘Rasakanlah olehmu siksa yang (serasa) membakar (ini)’, (tentulah kamu akan merasa ngeri melihatnya).” (8:50) Betapa tidak, sebab “….Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): ‘Siapakah yang dapat menunda (kematianmu saat ini)?’ Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). Maka bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan)—karena sakitnya. Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” (75:26-30) Hingga pada akhirnya mereka terpaksa menyerah kepada malaikat pencabut nyawa, dan yang mereka bisa perbuat hanyalah meminta: “…Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sejenak, agar aku dapat bersedekah dan masuk ke dalam golongan orang-orang saleh?” (63:10)

 

3). Perasaan takut mati itu, menurut Allah, ialah karena بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ (bimā qaddamat aydĭyɦm, karena apa  yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri). Yakni bahwa perasaan seperti itu bukanlah hasil rekayasa. Perasaan seperti itu muncul secara spontan, refleksi dari iman seseorang. Sehingga kalau mereka mengaku beriman kepada Allah dan Kitab Suci yang diturunkan kepada mereka, maka perasaan takut mati adalah fakta obyektif yang tak bisa mereka pungkiri, yang berbicara secara blak-blakan bahwa mereka pada hakikatnya adalah orang-orang yang telah kecanduan kesenangan duniawi sehingga teramat sangat takut berpisah dengannya. Kata بِمَا  (bimā) di ayat ini adalah kombinasi dua huruf yang mempunyai tugasnya masing-masing. Huruf بِ (bi)-nya adalah ب (ba’) sababiyah (yakni mengandung makna sebab). Sementara huruf مَا ()-nya adalah maushŭlah (penyambung) yang mengganti posisi kata benda, yaitu “kesalahan-kesalahan” atau “dosa-dosa” yang telah mereka sendiri perbuat. Jadi perasaan takut mati yang Bani Israil idap adalah ‘hukuman’ yang mereka pilih sendiri, karena ‘hukuman’ itu adalah akibat yang dimunculkan oleh sebab yang mereka pilih secara sadar. Maka fungsi kata بِمَا  (bimā) di ayat ini benar-benar luar biasa, karena meski hanya terdiri dari dua huruf tetapi memiliki konsekuensi teologis yang sangat tinggi. Huruf بِ (bi)-nya menunjukkan adanya ‘hukum’ SEBAB, sedangkan huruf مَا ()-nya menunjukkan ‘jenis’ SEBAB-nya. Frase قَدَّمَتْ أَيْدِيهِم (qaddamat aydĭyɦm) kemudian menerangkan bahwa ‘jenis’ SEBAB ini adalah dipilih atau dikerjkan oleh tangan mereka sendiri, bukan oleh yang lain—bukan oleh sesama manusia, juga bukan oleh Allah. Sehingga jelas bahwa “perasaan takut mati” yang kita simpulkan dari frase لَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَدا (lan yatamannawhu abadan, mereka sekali-kali tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya) yang disebutkan sebelumnya hanyalah AKIBAT belaka saja.

 

4). Ekor ayat بِالظَّالِمينَ (bizh-zhālimĭyn, orang-orang yang zalim) mempertegas makna negatif yang dikandung oleh huruf مَا () maushŭlah yang telah diuraikan sebelumnya. Bahwa setiap yang namanya kezaliman selalu melahirkan perbuatan salah dan dosa. Itu sebabnya, sejak awal Allah sudah mewanti-wanti hambanya: وَلاَ تَقْرَبَا هَـذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الْظَّالِمِينَ [wa lā taqrabā ɦadhiɦisy-syajarata fatakŭwna minazh-zhālimĭyn, dan janganlah kamu (berdua) dekati pohon ini, (karena akan) menyebabkan kamu (berdua) termasuk orang-orang yang zalim] (2:35). Karena kezaliman bahkan bisa memiliki konsekuensi kemanusiaan yang sangat panjang, lebih dari yang diperkirakan pelakunya. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali dengan perniagaan yang berlaku suka sama-suka di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan zalim, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (4:29-30)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Zalim adalah kata yang sudah sangat akrab di telinga kita. Tetapi mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa zalim itu bermula dari dalam diri sendiri. Itu sebabnya kemudian muncul istilah “menzalimi diri sendiri”. Tidak ada kezaliman terhadap orang lain sebelum pelaku kezaliman terlebih dahulu menzalimi dirinya sendiri. Sebabnya? Lagi-lagi: CINTA DUNIA.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply