Al-Baqarah ayat 94

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 2, 2011
0 Comments
1159 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 94

 

قُلْ إِن كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الآَخِرَةُ عِندَ اللّهِ خَالِصَةً مِّن دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُاْ الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

[Katakanlah: “Jika kalian (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu (saja) di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka harapkanlah kematian (mu), jika kalian orang yang benar.]

[Say: If the future abode with Allah is specially for you to the exclusion of the people, then invoke death if you are truthful.]

 

1). Di ayat yang lalu ada penggalan kalimat yang berbunyi: Dan telah diresapkan ke dalam jiwa mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi. Aslinya seperti ini: وَأُشْرِبُواْ فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ (wa usyribŭw fĭy qulŭwbiɦimul ‘ijl). Kata “diresapkan” adalah terjemahan dari أُشْرِبُواْ (usyribŭw), yang berasal dari bentuk tsulātsiy (tiga-kata) sya-ri-ba, yasy-ra-bu, yang artinya “meminum” atau “meneguk”. Kemudian berubah menjadi bentuk ruba’iy (empat-kata) a-sy-ra-ba, yang artinya “memberi minum”, atau “menyiram” , atau “memberi air” alias “membasahi”. Bentuk pasif tunggalnya berubah menjadi u-sy-ri-bu (diminumi, diairi, dibasahi, atau disirami), sementara bentuk pasif jamaknya ialah أُشْرِبُواْ (usyribŭw). Dalam pengertian “diminumi” terkandung makna “dihilangkan hausnya” (karena biasanya “minum” adalah pasangan dari “rasa haus”); sedangkan dalam pengertian “diairi”, “dibasahi”, dan “disirami” mempunyai makna yang hampir sama: “air meresap ke seluruh bagian-bagiannya hingga menguasainya.” Dengan demikian, kata أُشْرِبُواْ (usyribŭw) ini bisa diterjemahkan secara bebas dengan: mereka telah diminumi, diairi, dibasahi, atau disirami oleh…..hingga rasa hausnya hilang dan air pun meresap masuk ke seluruh bagian-bagiannya. Sehingga dalam konteks kalimat وَأُشْرِبُواْ فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ (wa usyribŭw fĭy qulŭwbiɦimul ‘ijl) bisa diartikan: “Jiwa mereka (Bani Israil) telah dibasahi atau disirami oleh cintanya kepada (patung) anak sapi sampai (ke seluruh bagian-bagian jiwanya sehingga menghilangkan rasa haus imannya kepada Tuhan)”.

 

2). Perasaan puas dengan ‘iman’ (kepada patung anak sapi) seperti itu muncul karena mereka berkeyakinan bahwa mereka itu adalah “wangsa pilihan”, “kekasih-kekasih Allah”, dimana seluruh bentuk kesejahteraan akhirat pun khusus untuk mereka saja, dan tidak untuk yang lain. Sehingga seandainya pun suatu saat mereka ‘terpaksa’ masuk neraka, maka hanya untuk beberapa hari saja (lihat kembali ayat 80). Itu sebabnya, di ayat 94 ini, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk menyampaikan satu pertanyaan: “Katakanlah: ‘Jika kalian (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu (saja) di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (mu), jika kalian orang yang benar’.” Ayat ini mirip bunyinya dengan Surat al-Jum’ah (62) ayat 6: “Katakanlah: ‘Hai orang-orang Yahudi, jika kalian mempropagandakan bahwa sesungguhnya kalian sajalah kekasih-kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kalian orang yang benar’.” Dan ayat di Surat al-Jum’ah ini adalah kelanjutan dari keengganan mereka mengamalkan isi Kitab Taurat sehingga Allah memisalkan mereka dengan keledai yang memikul beban: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (62:5) Bandingkan ayat ini (62:5) dengan ayat yang lalu (93). Jadi karena sedemikian teresapnya kecintaan mereka kepada dunia (yang disimbolkan dengan patung anak sapi) ke dalam jiwanya sehingga  mereka pun pantas diumpamakan dengan keledai. Keledai bisa memanggul kitab-kitab yang tebal tetapi tak satu pun dari kitab-kitab tersebut yang mereka faham. Sebagai apologetikanya, mereka lalu menyebut wangsa mereka sebagai أَوْلِيَاء لِلَّهِ (awliyā’ullah, anak-anak kinasih Allah).

 

3). Lalu kenapa Allah mengatakan: فَتَمَنَّوُاْ الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ (fa tamannawul mawta in kuntum shādiqĭyn, maka harapkanlah kematian (mu), jika kalian orang yang benar). Ingat, dunia itu adalah lawan dari akhirat. Karena jiwa mereka (Bani Israil) telah dibasahi atau disirami oleh cintanya kepada (patung) anak sapi sampai (ke seluruh bagian-bagian jiwanya sehingga menghilangkan rasa haus imannya kepada Tuhan), yaitu cinta kepada kehidupan dunia sedemkian rupa, maka tidak mungkin kiranya mereka mau mendengar kata “kematian”, apalagi mengharapkannya. Kata Nabi saw, cinta dunia akan menyebabkan orang takut mati. Maka pertanyaan Allah kepada mereka ini bisa dimaknai sebagai bentuk sinisan kepada pengakuan mereka bahwa kampung akhirat hanya untuknya saja, dan tidak untuk orang lain. “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keberimanan (maka dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (16:106-107)

 

4). Terungkap sudah kini bahwa keengganan mereka untuk memberi tempat bagi orang lain nanti di akhirat, bukanlah bagian dari iman mereka yang benar kepada Allah dan Akhirat, tetapi justru karena kecintaan mereka yang tak terperikan kepada kehidupan dunia beserta kesenangan-kesenangannya. Implementasi nyata dari kecintaan seperti ini kepada dunia ialah بَغْي (baghyun, iri hati atau dengki)—baca kembali ayat 90. Jadi klaim mereka sebagai mendapatkan perlakuan khusus nanti di akhirat ternyata adalah wujud kedengkian mereka kepada sesama. Sedemikian kronisnya penyakit dengki mereka, sampai mereka pun tidak sudi ada orang lain yang mendapatkan kebahagiaan nanati di akhirat. Mata mereka sungguh-sungguh telah tertutup, hingga lupa bahwa akhirat itu tidak terbatas, dimana kapling orang lain tidak mengurangi kapling mereka di surga—seandainya mereka masuk surga. Sehingga seharusnya—dalam kaitannya dengan negeri akhirat—tidak perlu lagi ada dengki dan iri hati. “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran’. Dan diserukan kepada mereka: ‘Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan’.” (7:42-43)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kita sering merasa bahwa berkat agama yang kita anut, kita sudah mengantongi tiket surga. Tapi anehnya, setiap kita berada pada situasi yang bisa mengancam nyawa kita, perasaan takut mati sontak menguasai perasaan kita. Kita menangis karena saking takutnya. Kita tiba-tiba mengingat urusan dunia dan anak-anak karena tidak siap berpisah. Gejala apakah ini? CINTA DUNIA. Sehingga tiket surga hanyalah ilusi.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply