Al-Baqarah ayat 93

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 2, 2011
0 Comments
1005 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 93

 

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُواْ مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُواْ قَالُواْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُواْ فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُمْ مُّؤْمِنِينَ

[Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kalian dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (lantas Kami berfirman): “Peganglah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tetapi kami mendurhakai”. Dan telah diresapkan ke dalam jiwa mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Alangkah jahatnya perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kalian beriman (kepada Taurat)”.]

[And when We made a covenant with you and raised the mountain over you: Take hold of what We have given you with firmness and be obedient. They said: We hear and disobey. And they were made to imbibe (the love of) the calf into their hearts on account of their unbelief Say: Evil is that which your belief bids you if you are believers.]

 

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang kelimabelas. Yang kandungannya hampir sama dengan kandungan إِذْ (idz, ketika) yang kesepuluh, dimana ayatnya persis berselang 30 ayat dari sekarang, yaitu ayat 63. Bedanya, di ayat 63 Allah menjelaskan alasan kenapa mesti harus berpegang dengan teguh kepada Kitab Suci, yaitu agar Bani Israil bertakwa: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kalian dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): ‘Peganglah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kalian bertakwa.” (2:63) Lalu apa yang terjadi kemudian? Ayat 64 yang menjawabnya: “Kemudian kalian berpaling setelah (adanya perjanjian) itu…..” Cuma alasan keberpalingan mereka di sana (ayat 64) tidak disebutkan. Di sinilah urgensi pengulangan “janji” Bani Israil di ayat 93 ini, karena alasannya disebutkan dengan jelas. Urgensi selanjutnya ialah dalam kaitannya dengan pengakuan keberimanan mereka sebelumnya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kepada (al-Qur’an) yang diturunkan Allah!’  Mereka berkata: Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” (ayat 91) Lagi-lagi menunjukkan bahwa pengakuan mereka itu hanyalah pernyataan kosong, sebab pada faktanya, “Mereka menjawab: ‘Kami mendengarkan tetapi kami mendurhakai’.” Maka di ayat 93 ini Allah sekaligus menjelaskan apa sesungguhnya yang terjadi dengan iman mereka: “Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya.” Sehingga tidak sepatutnya lagi mempercayai pengakuan keberimanan mereka. Karena kecintaan kepada materi (yang disimbolkan dengan patung anak sapi) selalu menjadi hijab yang menghalangi iman yang sesungguhnya. Semakin kuat cinta kita kepada materi semakin tebal juga hijab penghalang masuknya iman, semakin kuat juga kita menyembah materi tersebut. “Katakanlah: ‘Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kalian beriman (kepada Taurat)’.”.

 

2). Di ayat ini Allah menggunakan kata وَاسْمَعُواْ (wasma’ŭw, dan dengarkanlah) sebagai ganti dari kata وَاذْكُرُواْ  (wadzkurŭw, dan ingatlah) di ayat 63. Kedua kata ini mempunyai makna yang sama karena tujuan dari keduanya juga sama. Baik dalam kata وَاسْمَعُواْ (wasma’ŭw, dan dengarkanlah) ataupun dalam kata وَاذْكُرُواْ  (wadzkurŭw, dan ingatlah), sama-sama mengandung makna “pelajarilah baik-baik”. Jadi tujuan “mendengar” dan “mengingat” adalah agar dapat mengambil pelajaran dari apa yang didengar dan diingat tersebut. Maka apabila tidak berhasil mengambil pelajaran daripadanya, berarti pekerjaan “mendengar” dan “mengingat” tersebut tidak membawa pelakunya kemana-mana selain kepada kerugian. Dan penyebab ketidakberhasilan itu ialah karena adanya hijab yang menghalangi antara jiwa (yang seharusnya mengambil pelajaran) dengan instrumen-instrumen indrawi yang melakukan pekerjaan “mendengar” dan “mengingat” tersebut. Dan, seperti disebutkan di poin 1, hijab itu ialah cinta materi atau cinta dunia, yang untuk seterusnya memicu pemiliknya untuk memperturutkan hawa nafsunya. Untuk itu Allah mengingatkan: “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu dengan memperdayakan kalian akan Allah.” (35:5) Dari Abu Sa’id al-Khudri ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah mewakilkan kalian terhadap dunia itu. Dia akan melihat apa yang kalian perbuat. Maka takutlah akan (terperdaya oleh) dunia dan takutlah (pula) akan (terperdaya oleh) wanita”. (HR. Muslim)

 

3). Hijab dunia itulah yang membuat Bani Israil berani dengan lantang menjawab: “Kami mendengarkan tetapi kami mendurhakai”.  Artinya mereka mengakui bahwa memang Allah pernah membuat janji yang mengikat mereka berkenaan dengan Kitab Suci yang dibawah oleh Nabi Musa as. Dan mereka juga mengakui secara tidak langsung bahwasanya persoalan-persoalan kemanusiaan yang menimpa mereka dan yang mereka timpakan kepada orang lain adalah karena mereka “tidak mentaati” Janji Ilahi tersebut. “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kenistaan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (3:112) Yang demikian itu karena “telah diresapkan ke dalam jiwa mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya.” Makna dari klausa “telah diresapkan ke dalam jiwa mereka” tiada lain bahwa hijab duniawi yang mereka ciptakan sendiri itu telah menutupi seluruh relung-relung jiwanya, sehingga tidak ada lagi celah sedikit pun untuk ‘melihat’ Fajar Ilahi di ‘ufuk’ sana. Sehingga yang ada hanyalah kedurhakaan demi kedurhakaan, yang dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, semakin menjadi-jadi. “(Tetapi) karena mereka (Bani Israil) melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) akan terus melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat)….” (5:13) Di sini muncul kembali kata بِكُفْرِهِمْ (bikufriɦim, karena kekafiran mereka sendiri) yang telah pernah kita bahas di ayat 88 poin 3.

 

4). Allah kemudian menyuruh Nabi-Nya: “Katakanlah: ‘Alangkah jahatnya perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kalian beriman (kepada Taurat)’.” Fahaman yang bisa kita tangkap di sini ialah bahwa iman itu menggerakkan. Sehingga cepat atau lambat, hakikat iman yang mengisi relung-relung jiwa seseorang akan terungkap jua dalam bentuk tindakan nyata. Apabila seseorang benar imannya kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan kepada Kitab Suci-Nya, maka niscaya akan menggerakkannya untuk mematuhi-Nya. Kedurhakaan Bani Israil kepada Nabi Musa dan Kitab Suci yang dibawanya dengan tetap menyembah الْعِجْل (al-‘ijl), tuhan produk Samiri, menunjukkan dengan sangat jelas bahwa iman mereka bukan kepada Musa, tapi kepada Samiri; iman mereka bukan kepada Allah, tapi kepada materi. Kalau toh beriman, maka imannya sangat tipis: “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan (Kitab Suci) dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: ‘Kami mendengar, tetapi kami mendurhakai’. Dan (juga mengatakan): ‘Dengarlah!’ Padahal kalian sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): ‘Raa’ina’, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan patuh, maka dengarlah, serta perhatikanlah kami’, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah melaknat mereka, karena kekafirannya. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (4:46) Sebuah hadits dari Anas ra, bahwa Nabi saw bersabda: “Sungguh orang-orang dari sahabatku akan datang kepadaku di telaga (al-hawdl), tetapi tatkala aku mengenalinya, mereka lantas dipisahkan dariku; maka aku berkata (kepada Allah). Allah pun berfirman: Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.” (HR. Bukhari, yang juga dikutip dalam al-Ahādĭyts al-Qudsiyyah oleh Lembaga al-Qur’an dan al-Hadits Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Kementerian waqaf Mesir)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Apakah Anda hendak mengetahui derajat iman Anda? Gampang. Cobalah renungkan, apa gerangan yang mengisi benak, cita-cita, dan harapan-harapan hidup Anda. Juga renungkan, apa saja tindakan dan amal perbuatan Anda tiap hari. Hasil dari renungan Anda menjadi jawaban mengenai derajat iman Anda. Karena penggerak pikiran dan amal perbuatan seseorang ialah imannya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply