Al-Baqarah ayat 92

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 1, 2011
0 Comments
949 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 92

 

وَلَقَدْ جَاءكُم مُّوسَى بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ

[Sungguh Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kalian menjadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya (ke Gunung Thursina selama 40 malam). Kalian (sebenarnya) adalah orang-orang zalim.]

[And most certainly Musa came to you with clear arguments, then you took the calf (for a god) in his absence and you were unjust.]

 

1). Di ayat yang lalu disebutkan, apabila dikatakan kepada Bani Israil “Berimanlah kepada (al-Qur’an) yang diturunkan Allah! Mereka berkata: ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’.” Allah kemudian bertanya: “(Tapi) mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian orang-orang yang beriman (kepada nabi-nabi tersebut)?” Bahkan, “Sungguh Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kalian menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya (ke Gunung Thursina selama 40 malam). (Alih-alih beriman), kalian (sebenarnya) adalah orang-orang zalim”. Di ayat ini, Allah mengingatkan kembali Bani Israil akan dua hal penting: mukjizat-mukjizat yang jumlahnya 9 itu (lihat ayat 74), dan penyembahan mereka kepada الْعِجْل (al-‘ijl, patung anak lembu yang terbuat dari emas dan mengeluarkan suara melalui teknik pembuatannya) sepeninggal Musa ke Gunung Thursina selama 40 malam. Artinya, mkjizat sebanyak itu ternyata tetap tidak membuat mereka beriman. Buktinya, baru ditinggal 40 malam oleh Musa, mereka sudah kembali ke zaman ‘jahiliyah’ dengan menjadikan الْعِجْل (al-‘ijl) sebagai sembahan (tuhan) mereka. Dengan begitu, pengakuan mereka bahwa “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami” adalah sebuah pernyataan hampa. Yang betul ialah “Kalian (sebenarnya) adalah orang-orang zalim”.

 

2). Stiap pengakuan “iman” tetapi faktanya adalah sebaliknya, maka pada dasarnya itu adalah “kemunafikan”. Sehingga bisa dikatakan bahwa orang munafiq ialah orang-orang yang selalu membuat pengakuan hampa. Pengakuan yang tidak punya bobot sama sekali. Inilah yang menjelaskan kenapa orang-orang munafik (dalam Islam) selalu kerja samanya dengan Bani Israil, dari zaman Nabi di Madinah hingga zaman Hamas di Palestina. Maka sanggahan Allah di ayat ini seraya pemberian predikat kepada mereka sebagai “orang-orang zalim”, menyatukan mereka (Bani Israil) dan orang-orang Munafik dalam Islam, bahwa mereka semua itu (Bani Israil dan orang munafik) sungguh-sungguh tidak beriman. Pengakuan iman mereka hanyalah lips service belaka saja. Mereka pada hakikatnya adalah “orang-orang zalim”. Dan karena “zalim” adalah lawan daripada “adil”, maka jangan pernah mengharapkan mereka akan menegakkan keadilan. Semua kata “adil” beserta terma-terma yang sekaitannya dengannya yang mereka dengung-dengungkan, pun adalah lips service belaka saja. Yang benar ialah “Di dalam qalbu mereka ada penyakit, lalu Allah menambah (terus) penyakitnya; dan bagi mereka (merasakan) siksa yang pedih, disebabkan apa yang mereka dustakan.” (2:10) Mereka pada dasarnya adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Nabi dan agama yang dibawanya, walaupun mengaku sebagai penganut suatu agama. Di dalam peperangan, mereka saling mempengaruhi untuk lari dari medan perang dan meninggalkan Nabi.“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya’. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: ‘Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kalian’. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)’. Padahal rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari (dari medan perang).” (33:12-13)

 

3). Tentang الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināt, keterangan-keterangan, bukti-bukti, mukjizat-mukjizat), ini adalah yang kedua di sepanjang Surat al-Baqarah. Yang pertama di ayat 87 yang berkenaan dengan Nabi Isa as: وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ  [wa ātaynā ‘ĭysa bna maryama al-bayyināt, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada Isa putera Maryam]. Dengan demikian الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināt) yang diberikan kepada Nabi Musa sama dengan yang diberikan kepada Nabi Isa. Bukan pada jenisnya tapi pada “kemampuannya membuktikan kenabian” keduanya. Lalu kenapa mukjizat disebut juga dengan الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināt)? Kata الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināt) adalah bentuk jamak dari بَيِّنَة (bayyinah) yang dalam al-Mu’jam al-Wasĭyth diartikan sebagai الواضحة الحجة (al-hujjah al-wādlihah, argumen yang jelas). Sementara Kamus al-Mawrid al-Qareeb mengartikannya dengan اثبات (itsbāt, evidence) atau دليل (dalĭyl, proof). Mungkin disebut demikian karena begitu jelasnya di semua alat pembuktian: indra lahir dan indra batin. Bagi mereka yang menyaksikan suatu بَيِّنَة (bayyinah), maka tertutuplah pintu pertanyaan atau keberatan selanjutnya. Yang bisa mereka lakukan hanya dua kemungkinan: menerima dengan lapang dada, atau menolak dengan kesombongan dan tanpa alasan. Itu sebabnya yang disebut بَيِّنَة (bayyinah) bukan hanya mukjizat, tapi semua yang menjadi bukti terang-benderang akan adanya Tuhan. Seorang Nabi yang membawa Kitab Suci pun disebut بَيِّنَة (bayyinah): “Orang-orang kafir dari (kalangan) ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata. (Yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan (kepada mereka) lembaran-lembaran suci (Al Qur’an). (Yang) di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus.” (98:1-3) Rasulullah saw disebut بَيِّنَة (bayyinah) karena argumennya tidak bisa digugurkan, ajarannya tidak bisa ditemukan cacatnya atau ketidakselarasannya dengan fithrah manusia. Bekas reruntuhan kota yang dikutuk juga disbut بَيِّنَة (bayyinah): “Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota (Sodom) ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya bukti yang nyata bagi orang-orang yang berakal.” (29:34-35) Karena bekas-bekas kota itu berbicara banyak tentang penyimpangan seksual yang dilakukan penduduknya dan tidak menghiraukan nasehat-nasehat Nabi luth. Itu sebabnya al-Baghawĭy menafsirkan kata الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināt) di ayat 92 ini sebagai الباهرة والمعجزات الواضحة الدلالات (ad-dalālāt al-wādlihah wa al-mu’jizāt al-bāɦirah, bukti yang jelas dan mukjizat yang memukau). Saking jelas dan memukaunya sehingga orang kafir biasanya tidak bisa berkata-kata kecuali menyebutnya sebagai “sihir yang nyata” (5:110, 6:7, 10:76, 11:7, 27:13, 34:34, 37:15, 46:7, 61:6).

 

4). Bani Israil lupa bahwa sebetulnya yang dicari manusia itu sebetulnya adalah sesuatu yang luar biasa. Itu sebabnya gerak menanjak dalam segala hal yang positif itu tak henti-hentinya terjadi. Manusi akan terus mencari alat-alat kecantikan agar kelihatan lebih cantik dan indah dari generasi sebelumnya. Ilmuan tak pernah diam dalam menemukan mesin-mesin yang bisa mempercepat laju gerak manusia. Saintis mengobservasi alam sekitarnya agar menemukan bibit tanaman yang buahnya lebih lezat, lebih banyak buahnya, dan lebih cepat panen. Olahragawan membuat perangkat fitness agar bisa lebih berotot dan lebih bugar dari waktu ke waktu. Usahawan tak pernah bosan bekerja dan bekerja untuk menjadi lebih kaya dari saudagar-saudagar sebelumnya. Software terus menerus di-upgrade agar lebih cepat dan lebih kaya dari jeroan-jeroan komputer yang sudah-sudah. Begitulah seterusnya, sehingga kemajuan demi kemajuan dicapai. Pertanyaannya: lalu ke arah mana semua gerak menanjak itu mengarah? Jawabannya: ke arah Yang Maha Segala-galanya. Maka, tanpa mereka sadari, Bani Israil dan siapa saja yang menentang الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināt) sama saja dengan menetang kebutuhan fithrahnya. Kepada mereka, Allah menyebutnya: “Kalian (sebenarnya) adalah orang-orang zalim”.  Tentang al-Qur’an Allah berfirman: “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (29:49)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Tahukah Anda bagaimana cara paling gampang untuk mengetahui seseorang itu pintar atau bodoh? Berikan kepadanya dua pilihan: yang satu kelereng, yang satu lagi berlian. Kalau memilih kelereng, berarti dia benar-benar bodoh. Allah menurunkan Kitab Suci yang nilai kebenarannya tak bisa disamai oleh pemikir manapun, tetapi kebanyakan manusia tetap bersikap acuh terhadap al-Qur’an. Allah menjulukinya: “Kalian (sebenarnya) adalah orang-orang zalim”.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply