Al-Baqarah ayat 91

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 27, 2011
0 Comments
1079 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 91

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرونَ بِمَا وَرَاءهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاءَ اللّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

[Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada (al-Qur’an) yang diturunkan Allah!  Mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka ingkar kepada (apa yang diturunkan) sesudahnya, padahal (alQur’an) itu adalah (Kitab Suci yang mengandung) kebenaran, yang membenarkan (Kitab Suci) yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian orang-orang yang beriman?”]

[And when it is said to them, Believe in what Allah has revealed, they say: We believe in that which was revealed to us; and they deny what is besides that, while it is the truth verifying that which they have. Say: Why then did you kill Allah’s Prophets before if you were indeed believers?]

 

1). Pada ayat yang lalu dikatakan “Alangkah buruknya (perbuatan) mereka, dimana mereka menjual dirinya sendiri dengan mengingkari apa yang telah Allah turunkan (kepada Muhammd) karena dengki”. Yang diturunkan kepada Muhammad tiada lain ialah al-Qur’an. Yakni bahwa kedengkian kepada sosok Muhammad karena alasan-alasan yang telah disebutkan terdahulu, menyebabkan Bani Israil juga ikut mengingkari Kitab Suci yang dibawahnya, al-Qur’an. Sedemikian dengki dan ingkarnya, sehingga apabila dikatakan kepada mereka “Berimanlah kepada (al-Qur’an) yang diturunkan Allah! Mereka berkata: ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’.” Di sini mereka mengaku hanya mengimani Taurat dan Injil, “Dan mereka ingkar kepada (apa yang diturunkan) sesudahnya”. Yaitu al-Qur’an. “Padahal (alQur’an) itu adalah (Kitab Suci yang mengandung) kebenaran, yang membenarkan (Kitab Suci) yang ada pada mereka.” Maka di sini timbul pertanyaan, apakah penolakan Bani Israil kepada al-Qur’an beserta argumen yang dikemukakannya itu suatu dalil (hujjah) atau bukan? Untuk membuktikannya, Allah mengajukan cukup satu pertanyaan: “Mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian orang-orang yang beriman (kepada nabi-nabi sebelum Muhammad beserta Kitab Suci yang dibawahnya)?” Karena pada faktanya memang “sebagian (di antara mereka) kalian (telah) dustakan dan sebagian (yang lain) kalian (akan) bunuh? (padahal para nabi tersebut berasal dari kalangan kalian—Bani Israil—sendiri)” (2:87) maka bisa dipastikan bahwa argumen mereka itu bukanlah “dalil”, tapi hanya “dalih” untuk menyembunyikan kedengkian dan keingkaran mereka yang sesungguhnya. “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Kitab Suci (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka pelbagai rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (lain, pada masanya). Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.” (45:16-17)

 

2). Ada tiga argumen penting yang diajukan Allah di ayat ini, yang seharusnya menjadi tonggak diterimanya al-Qur’an: Pertama, al-Qur’an berasal dari Allah; kedua, al-Qur’an mengandung kebenaran; dan ketiga, al-Qur’an membenarkan Kitab Suci-Kitab Suci sebelumnya. Ketiga poin penting ini kita bahas secara terpisah.

Pertama, al-Qur’an berasal dari Allah. Setiap karya atau pemikiran yang sampai kepada kita hanya dua kemungkinan sumbernya: dari manusia atau dari Allah. Kalau dari manusia disebut “kitab” atau “buku”. Kalau dari Allah disebut al-Kitab atau Kitab Suci. Setiap karya manusia tidak pernah menjadi produk pemikiran yang berdiri sendiri dari penggagas atau penulisnya, tapi selalu merupakan hasil dari proses ‘perguruan’ panjang dari guru-guru atau sumber-sumber lain yang ada di sekitarnya. Itu sebabnya tidak prnah ada karya besar dan monumental yang lahir di tengah-tengah masyarakat primitif dan masyarakat yang terisolasi, tapi selalu lahir di pusat (atau tidak jauh dari pusat) peradaban. Nah, cara paling sederhana untuk membuktikan bahwa al-Qur’an itu betul-betul dari Allah ialah dengan terbukti munculnya dari tengah-tengah masyarakat yang benar-benar tidak pernah menjadi bagian geopolitik ataupun protektorat dari peradaban besar waktu itu (Romawi dan Persia). Abrahah, orang kepercayaan Romawi di Yaman, lebih memilih menunda (menarik) Ka’bah (walaupun akhirnya tidak berhasil) ketimbang menjadikan wilayah ini sebagai koloninya. Sehingga, sejauh informasi yang sampai ke kita, Mekah adalah wilayah yang sungguh-sungguh terisolasi dan teralienasi dari hembusan angin keilmuan dan keagamaan dari dua peradaban besar tadi. Wilayah Romawi beserta koloni-koloninya mantap dengan Nasrani-Yahudinya, wilayah Persia bersama protektorat-protektoratnya puas dengan Majusi-Zoroasternya. Dan Mekah beserta penduduknya tidak terpengaruh sama sekali oleh keduanya. Sehingga Mekah tetap ‘istiqamah’ dengan berhala-berhalanya. Nabi Muhammad juga terbukti tidak pernah ketahuan bepergian agak lama untuk berguru ke pusat-pusat perguruan dan keilmuan yang dimiliki oleh kedua peradaban besar tersebut. Juga tidak pernah ketahuan pernah menjadi penyair atau menulis syair sebelumnya. Al-Qur’an ini betul-betul ‘lahir’ dari sosok yang tak pernah bersentuhan intensif dengan penyair kawakan, guru besar teologi, filsafat, dan sains manapun. ‘Karya Besar’ ini justru ‘lahir’ di tengah-tengah masyarakat yang أُمِّيُّ (ummĭy) dan jahiliyah, di ‘tangan’ seorang yang juga أُمِّيُّ (ummĭy). Bani Israil yang sudah turun-temurun bermukim di Yatsrib (Madinah) tahu persis semua ini. “Dia-lah (Allah) yang mengutus kepada kaum yang أُمِّيُّ (ummĭy) seorang Rasul dari kalangan mereka (sendiri), yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikannya dan mengajarkan kepadanya Kitab Suci dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelum datangnya (Rasul tersebut) benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (62:2) Sedangkan أُمِّيُّ (ummĭy) Nabi ialah: “Dan kamu (Muhammad) tidak pernah membaca satu Kitab Suci-pun sebelumnya  dan kamu tidak (pernah) menulisnya dengan tangan kananmu; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang (berniat untuk) mmbatilkan (al-Qur’an).” (29:48)

Sekali lagi, setiap karya atau pemikiran yang sampai kepada kita hanya dua kemungkinan sumbernya: dari manusia atau dari Allah. Itu makanya pasti tidak masuk akal kalau ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an atau karya besar itu berasal dari jin karena Nabi Muhammad atau pemilik karya tersebut adalah “majnŭn” (terpengaruh oleh jin), karena pada faktanya, di sepanjang sejarah kemanusiaan, tidak pernah ada karya besar yang diperoleh dari hasil kesurupan jin. “Maka tetaplah memberi peringatan, karena berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) bukanlah tukang tenung dan bukan (pula) kemasukan jin.” (52:29)

 

3). Kedua, al-Qur’an mengandung kebenaran. Hal ini bisa dilihat dari subyek bahasannya yang mengolah tema-tema penting kehidupan, cakupannya yang melingkupi aspek-aspek lahiriah-batiniah, duniawiah-ukhrawiah, ibadah mahdah-ibadah muamalah, fardiah (personal)-jama’iah (sosial), kultural-struktural, alam nyata-alam ghaib, alam gelap-alam cahaya, hukum keluarga-hukum tata negara, ciptaan dan Penciptanya, dari alam mineral sampai alam lahut, kandungannya yang berisi kebenaran-kebanaran yang tak terbantahkan, ketinggian bahasanya, narasi tuturannya yang bersastra tinggi, hingga metode paparannya yang tak sama dengan karya ilmiah manapun. Seandainya pun al-Qur’an adalah karya manusia, sungguh penulisnya pastilah seorang yang luar biasa hebat; karena rasa-rasanya belum ada karya keilmuan manapun yang ruang lingkup pembicaraannya seluas itu bentangannya dan sedalam itu kupasannya. Belum ada karya keilmuan manapun yang tidak mengalami kritik substansil yang menggugurkan tesis-tesisnya setelah melewati rentang waktu 1400 (baca: seribu empat ratus) tahun, seperti al-Qur’an ini—(bandingkan karya Aristoteles yang menghadapi kritik sengit dan menggugurkan beberapa tesisi empiriknya setelah mendapat serangan panas dari kaum saintis abad pertengahan). Betul, banyak yang mengkritiknya, tapi tak satupun dari mereka yang berhasil menggugurkan teorema-teoremanya, apalagi membuat yang serupa dengannya. “Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Kitab Suci (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim (berserah diri).” (16:89)

 

4). Ketiga, al-Qur’an membenarkan Kitab Suci-Kitab Suci sebelumnya. Kata “membenarkan” di sini hendak menunjukkan kontinuitasnya dengan Kitab Suci-Kitab Suci sebelumnya. Bahwa al-Qur’an bukanlah ‘barang’ baru yang tak ada hubungan konseptualnya  dengan Kitab Suci samawi pendahulunya. Semua tokoh bersama lakon-lakonnya yang disebutkan oleh al-Qur’an sudah sangat akrab di telinga Bani Israil. Al-Qur’an datang sebagai “penjaga”, “pelestari”, “perluasan” dan sekaligus  “penyempurnaan” dari Kitab Suci sebelumnya. “Dan Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan Kitab-Kitab sebelumnya dan penjaga terhadapnya. Maka putuskanlah perkara manusia menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembalimu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kalian perselisihkan itu.” (5:48) Dengan begini, maka tidak ada lasan lagi sebetulnya bagi Bani Israil untuk berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Saat diminta untuk menerima al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup, Bani Israil berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.”  Dan Anda mungkin berkata: “Kami hanya percaya kepada apa yang telah dirumuskan oleh para ilmuan.” Ketahuilah, al-Qur’an itu “menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (untuk menerimanya).” Maka menolak keberlakuannya akan menjadi kerugian besar bagi manusia itu sendiri.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply