Al-Baqarah ayat 90

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 25, 2011
1 Comment
2079 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 90

 

بِئْسَمَا اشْتَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ أَن يَكْفُرُواْ بِمَا أنَزَلَ اللّهُ بَغْياً أَن يُنَزِّلُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَآؤُواْ بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ

[Alangkah buruknya (perbuatan) mereka, dimana mereka menjual dirinya sendiri dengan mengingkari apa yang telah Allah turunkan (kepada Muhammd) karena dengki; padahal Allah menurunkan karunia-Nya (Kitab Suci) kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir (disiapkan) siksaan yang menghinakan.]

 

[Evil is that for which they have sold their souls– that they should deny what Allah has revealed, out of envy that Allah should send down of His grace on whomsoever of His servants He pleases; so they have made themselves deserving of wrath upon wrath, and there is a disgraceful punishment for the unbelievers.]

 

 

1). Kita ulangi kembali kutipan ayat sebelumnya: وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُواْ  [wa kānŭw min qablu yastaftihŭwna ‘alalladzĭyna kafarŭw, dan mereka biasa memohon (dengan perantaraan Nabi yang akan datang) agar mendapat kemenangan atas orang-orang kafir (penyembah berhala)]. Ada dua hal yang perlu dijelaskan di penggalan ayat 89 ini. Pertama, pertemuan kata كَانُواْ (kānŭw)—yang arti harafiyahnya “adalah mereka”—dengan kata kerja mudlāri’ (waktu sekarang atau akan datang) yang diwakili oleh kata يَسْتَفْتِحُونَ (yastaftihŭwna), menunjukkan bahwa perbuatan يَسْتَفْتِحُونَ (yastaftihŭwna) ini sering mereka lakukan. Kedua, kata يَسْتَفْتِحُونَ (yastaftihŭwna) seasal dengan kata فَتْحٌ (fat-h)—yang berarti “kemenangan”—yang ada di 48:1, 61:13, dan 110:1. Dari kedua penjelasan ini terungkap bahwa Bani Israil atau orang-orang Yahudi Madinah sering meminta atau berdoa kepada Allah agar diberi “kemenangan” pada tiap kali cekcok atau perang dengan orang-orang Arab penyembah berhala, sambil menyebut-nyebut nubuwat kedatangan nabi berikutnya. Tetapi begitu Nabi yang mereka harapkan tersebut benar-benar datang, yang ciri-cirinya persis seperti ciri-ciri yang sering mereka sebut-sebut, maka mereka dengan serta-merta menolaknya. Dan alasannya, berdasarkankan ayat 90 ini, hanya karena بَغْي (baghyun), karena “iri hati” atau “dengki”. Karena nabi yang datang tersebut ternyata bukan dari kalangan mereka, kalangan Bani Israil, tapi dari kalangan bangsa Arab, yang selama ini selalu mereka rendahkan sebagai bangsa penyembah berhala dan bodoh. Selain itu, Nabi Muhammad adalah keturunan Nabi Ismail, yang mereka pandang sebagai keturunan budak hitam, Hajar, istri ayah mereka (Ibrahim) yang terpaksa dibuang karena dusir oleh ibu mereka (Sarah).

Dengan demikian, kata بَغْي (baghyun, iri hati atau dengki) ini kelanjutan dari sifat Bani Israil yang disebutkan di ayat 87 (lihat poin 4). Yaitu sifat istikbar (sombong dan angkuh), karena nabi yang datang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka. Sifat ini juga yang menyebabkan Iblis enggan dan tidak sudi bersujud kepada Adam, kendati itu perintah Allah. Melalui istilah بَغْي (baghyun, iri hati dan dengki) ini, Allah mengungkap rahasia paling penting penyebab manusia menolak KEBENARAN, bahkan di dalam internal agama yang sama sekalipun. Seperti kita ketahui bersama bahwa di dalam suatu agama, termasuk di dalam Islam, terdapat perbedaan-perbedaan. Sebetulnya perbedaan-perbedaan seperti ini adalah sesuatu yang positif, karena menunjukkan adanya gradasi di dalam mencari dan mendekatkan diri kepada KEBANARAN. Gradasi seperti ini adalah alamiah sifatnya. Sayangnya, sering justru perbedaan dieksploitasi sedemikian rupa sehingga berubah menjadi pemantik terjadinya benturan-benturan horizontal. Allah menyebut, benturan seperti itu pasti bukan karena membela KEBENARAN. Itu karena mereka yang memulai benturan tersebut mengidap penyakit istikbar (sombong dan angkuh) dan بَغْي (baghyun, iri hati dan dengki). Simak ayat berikut ini baik-baik. “Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab Suci yang berisi kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (Maka) tidaklah berselisih tentang Kitab Suci itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab Suci, (yaitu) setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (2:213)

 

2). Dibanding dengan nilai kemuliaan yang terkandung dalam KEBENARAN, maka alangkah buruknya pilihan mereka yang mengingkarinya hanya karena بَغْي (baghyun, iri hati dan dengki) di antara mereka. Inilah yang dikandung oleh pesan Allah ini: “Alangkah buruknya (perbuatan) mereka, dimana mereka menjual dirinya sendiri dengan mengingkari apa yang telah Allah turunkan (kepada Muhammd) karena dengki”. Betapa tidak, sebab bukankah orang yang menolak KEBENARAN pada dasarnya adalah menolak DIRI-nya sendiri? Dengan mengingat bahwa DIRI kita masing-masing adalah turunan primordial dari Sang Pemilik KEBENARAN. Sehingga yang dicari, yang dicita-citakan, yang diharapkan, oleh masing-masing DIRI kita adalah Dia. Artinya, Dia-lah puncak dari segala pencarian, cita-cita dan harapan manusia, siapapun orangnya. Inilah yang disebut kerinduan primordial. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari punggung-punggung mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (atas ke-Tuhanan-Mu)’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (keberadaaan Tuhan) ini’.” (7:172) Kemudian Dia, yang kita cari itu, ‘menjelmakan’ diri-Nya ke dalam diri nabi Muhammad dan Kitab Suci yang dibawahnya. Sehingga menolak Nabi Muhammad dan Kitab Sucinya, pada dasarnya menolak Dia. Menolak Dia adalah menolak diri-nya sendiri. Dan siapa saja yang menolak diri-nya sendiri, niscaya akan mengalienasi jiwanya dari diri-nya; inilah cikal bakal dari seluruh perbuatan buruk, mulai dari yang kadarnya ringan sampai yang kadarnya menghancurkan manusia dan kemanusiaan. Dia inilah yang menjual diri-nya sendiri demi setetes kesenangan duniawi. Itu sebabnya Allah berpesan agar jangan memelihara penyakit بَغْي (baghyun, iri hati dan dengki) ini. “Sesungguhnya Allah memerintahkan (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan dengki. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (16:90)

 

3). Konsekuensi tak terhindarkan dari perbuatan buruk seperti itu ialah: فَبَآؤُواْ بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ (fa bā’ŭw bi ghadlabin ‘alā ghadlabin, karena itu mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan). Murka pertama, mereka bersikap istikbar (sombong dan angkuh), sehingga Allah melaknatnya sebagaimana Dia melaknat Iblis yang menolak sujud kepada Adam. Murka kedua, mereka mengidap penyakit بَغْي (baghyun, iri hati dan dengki), sehingga Allah menyebutnya “jual diri” dengan cara yang paling buruk. Murka ketiga, mereka mendustakan Nabi dan Kitab Suci yang dibawanya, akibatnya mereka hidup dalam kegelapan, yang buntutnya juga gelap mata pada manusia dan kemanusiaan. Murka keempat, mereka bahkan tega mebunuh nabi-nabi.

Penggunaan anak kalimat : فَبَآؤُواْ بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ (fa bā’ŭw bi ghadlabin ‘alā ghadlabin, karena itu mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan) juga berarti bahwa dari satu generasi ke generasi berikutnya, Bani Israil semakin sangar, semakin menyerupai monster raksasa, yang siap melahap apa saja dan siapa saja tanpa welas asih sedikit pun. Karena semakin ke sini semakin banyak menanggung kemurkaan. Buktinya, di ayat 61 saat mereka meminta kepada Nabi Musa berbagai macam jenis makanan padahal mereka sedang berada dalam perjalanan panjang menempun medan yang berat, Allah hanya menyematkan padanya satu kali kata غَضَب (ghadlab, kemurkaan): “…mereka mendapat kemurkaan dari Allah.” (2:61)

 

4). Dan puncak dari kemurkaan itu kelak ialah: وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ [wa lil kāfirĭyna ‘adzābun muɦiyn, dan untuk orang-orang kafir (disiapkan) siksaan yang menghinakan]. Di sini Allah tidak lagi menyebut mereka sebagai “Bani Israil”. Allah menggunakan bahasa umum: orang-orang kafir. Sehingga dengan begitu pikiran kita akan dengan sangat mudah mengambil kesimpulan sendiri. Yaitu bahwa siapa saja (tanpa mengenal agama, ras dan warna kulit) yang menangung kemurkaan demi kemurkaan, maka pada dasarnya ia sudah kafir, dan kepadanya kelak akan ditimpakan azab yang menghinakan (di dunia dan di akhirat). “Dan sesiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (4:14)

 

 

AMALAN PRAKRIS

Menurut al-Qur’an, penyebab manusia menolak KEBENARAN ialah karena penyakit dengki yang bersarang di dalam jiwanya. Maka berhati-hatilah dengan argumen yang dikemukakan oleh orang bertipe seperti ini. Karena sebetulnya argumen mereka itu bukanlah dalil, tapi dalih, untuk menyembunyikan sifat dengkinya. Tidak mungkin ada kebenaran di dalam argumennya, sebab sedari awal mereka sudah menolaknya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply