Al-Baqarah ayat 89

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 25, 2011
0 Comments
869 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 89

 

وَلَمَّا جَاءهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَاءهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّه عَلَى الْكَافِرِينَ

[Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (dengan perantaraan Nabi yang akan datang) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.]

[And when there came to them a Book from Allah verifying that which they have, and aforetime they used to pray for victory against those who disbelieve, but when there came to them (Prophet) that which they did not recognize, they disbelieved in him; so Allah’s curse is on the unbelievers.]

 

 

1). Huruf و ‘athaf (wāw sambung, artinya “dan”) di awal kalimat menunjukkan bahwa ayat ini masih merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya. Telah diterangkan di ayat 88 bahwa بِكُفْرِهِمْ  [bikufriɦim, karena kekufuran mereka (sendiri)], maka hanya sedikit di antara Bani Israil yang beriman, kebanyakan dari mereka dilaknat oleh Allah. Menurut ayat 89 ini, bukan hanya itu, بِكُفْرِهِمْ  [bikufriɦim, karena kekufuran mereka (sendiri)] mereka juga akhirnya mendustakan nabi yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya, seperti yang Allah janjikan kepada mereka melalui Kitab Suci sebelumnya. Firman Allah kepada Nabi Musa: “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka (yaitu Bani Ismail, pen.), seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.” (Ulangan 18: 18-19). Nabi Isa as juga bersabda: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. Yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” (Yohannes 14: 16-17) Di dalam Injil Barnabas disebutkan: “Para murid bertanya: ‘Ya guru, siapakah gerangan orang yang engkau sebut-sebut akan datang ke dunia ini?’ Yesus menjawab denga  hati yang gembira: ‘Dia adalah Muhammad Rasul Allah. Maka apabila ia datang ke dunia ini ia akan menjadi sebab terwujudnya amal-amal yang saleh di kalangan manusia dengan rahmat besar yang dibawah olehnya. Sebagaimana hujan menjadikan tanah itu mengeluarkan buah setelah lama hujan berhenti.” (Pasal 163: 7-10) Al-Qur’an mengabarkan kembali kandungan Kitab Suci tersebut. “Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)’. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata’.” (61:6) Kendati demikian, Bani Israil tetap saja mengingkarinya. Padahal seluruh ciri yang mereka ketahui sudah ada pada diri Nabi Muhammad saw. “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah (bersikap) tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (48:29)

 

2). Pengingkaran mereka kepada Nabi, untuk konteks waktu itu, sebetulnya sangat mengherankan. Karena seluruh penduduk Yatsrib (Madina) menjadi saksi hidup atas penantian mereka terhadap akan datangnya Nabi baru yang, katanya, bakal memenangkan agama samawi mereka terhadap kaum pagan (para penyembah berhala). Setiap saat, di hadapan orang-orang Arab penyembah berhala, mereka selalu menyebut-nyebut nubuwat Kitab Suci mereka tersebut. Penantian itu terekam di penggalan ayat ini: يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُواْ [yastaftihŭwna ‘alalladzĭyna kafarŭw, mereka biasa memohon (dengan perantaraan Nabi yang akan datang) agar mendapat kemenangan atas orang-orang kafir (penyembah berhala)]. Imam as-Suyuthi dalam Luabābun Nuqŭl fĭy Asbābin Nuzŭl-nya menukil Ibnu Abi Hatim yang meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang yahudi memohon kepada Allah dengan bertawassul kepada nama Muhammad sebelum beliau diutus untuk mendapatkan kemenangan atas orang-orang Aus dan Khazraj. Tetapi, begitu Rasul tersebut benar-benar datang dari kalangan bangsa Arab, mereka pun kafir dan mengingkari apa yang telah mereka katakan. Maka Mu’adz bin Jabal, Bisyr bin al-Barra’, dan Dawud bin Salamah berkata, “Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah dan masuklah Islam. Kalian dulu memohon kepada Allah dengan bertawassul kepada Muhammad untuk dapat mengalahkan kami ketika kami masih musyrik. Dan kalian memberi tahu kami bahwa dia pasti akan diutus dan kalian juga pernah menyebutkan sifat-sifatnya sesuai dengan sifat-sifatnya saat ini.”  Maka Salam bin Misykam, salah seorang Yahudi Bani Nadhir, menjawab: “Dia tidak datang kepada kami dengan apa yang kami ketahui. Dan yang kami sebutkan kepada kalian bukan dia.” Lalu turunlah ayat 89 ini. Padahal, dalam kenyataannya, sungguh mereka mengenal betul ciri kenabian tersebut pada diri Rasulullah saw sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Kitab Suci (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (2:146, lihat 6:20)

 

3). Dan karena mereka mengingkari Nabi Muhammad, secara otomatis juga mengingkari al-Qur’an, walaupun isi al-Qur’an jelas-jeas sangat akrab di telinga meraka, baik dari sisi tuturannya maup dari sisi subyek bahasannya. Semua tokoh dan kejadian yang mengitari tokoh tersebut mereka kenal dengan baik. Tidak ada satu pun subyek cerita al-Qur’an yang tak mereka kenal. Cuma justru mereka mencurigai teman-temannya sendiri yang mendiktekan isi Kitab Suci mereka kepada Nabi Muhammad: “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang beriman, mereka berkata: ‘Kamipun telah beriman,’ tetapi apabila sebahagian mereka kembali bersua dengan sebahagian yang lain, mereka berkata: ‘Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) dengan apa yang telah Allah ungkapkan kepadamu, sehingga dengan (pengetahuan) itu mereka mndebatmu di hadapan Tuhanmu; mengapa kalian tidak menggunakan aqal?’.” (2:76)  Tetapi tidak semua bersikap seperti itu. “…maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (2:88, 4:46 dan 4:155) Artinya, tetap ada yang beriman. Yang sedikit ini sekaligus menjadi pembenar terhadap kebenaran isi al-Qur’an, ketika yang lain menyangkalnya. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad saw). Mengapa kami tidak beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?’.” (5:83-84)

 

4). Kalau sebelumnya Bani Israil yang menyebut orang Arab penyembah berhala sebagai orang kafir, setelah mereka menginkari Nabi Muhammad dan Kitab Suci yang dibawahnya, kini giliran Allah yang menyebut mereka kafir. Bahkan Allah kembali mempertegas—setelah menyebutnya di ayat sebelumnya (88)—bahwa mereka itu adalah orang-orang yang dilaknat oleh-Nya: فَلَعْنَةُ اللَّه عَلَى الْكَافِرِينَ (fa la’natullahi ‘alal kāfirĭyn, Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu). Kenapa Allah melakukan pengulangan atas atribut yang teramat keras dan menyesakkan nafas (bagi yang memahami makna laknat Allah) ini? Karena ini adalah al-Qur’an, maka tentu tujuannya agar dicamkan baik-baik oleh mereka yang mengimaninya, untuk selanjutnya dipedomani dalam setiap mengambil kebijakan dan melakukan suatu tindakan. Agar kelak tidak heran atas risiko-risiko kemanusiaan yang ditimbulkannya. Dan agar bisa mengenal dengan mudah siapa yang masuk ke dalam rahmat-Nya, dan siapa yang masuk ke dalam laknat-Nya.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Seluruh manusia di dunia mengharapkan hal yang sama: KEBENARAN. Dan Allah tahu ini, karena Dialah yang menyimpan ‘chips’ itu di dalam sanubari hamba-Nya. Maka, demi memenuhi harapan itu, Dia mengirim Kitab Suci yang berisi KEBENARAN tersebut. Siapa yang tidak mengenal KEBANARAN itu, berarti menganiaya dirinya sendiri. Dan siapa yang mengenalnya tapi sengaja menolaknya, maka Allah melaknatnya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply