Al-Baqarah ayat 87

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 22, 2011
0 Comments
1550 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 87

 

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِن بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءكُمْ رَسُولٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقاً كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقاً تَقْتُلُونَ

 

[Dan sungguh Kami telah mendatangkan Kitab Suci (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan hawa-nafsumu lalu kalian (bersikap) angkuh (terhadapnya); maka sebagian (di antara mereka) kalian (telah) dustakan dan sebagian (yang lain) kalian (akan) bunuh?]

 

[And most certainly We gave Musa the Book and We sent messengers after him one after another; and We gave Isa, the son of Marium, clear arguments and strengthened him with the holy spirit, What! whenever then a messenger came to you with that which your souls did not desire, you were insolent so you called some liars and some you slew.]

 

 

1). Di ayat 62 kita telah berbicara tentang konsep monorelitas kenabian; bahwa nabi datang silih berganti dalam rangka melanjutkan dan atau menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya, sehingga menutup kemungkinan munculnya paralelitas dan pluralitas agama (samawi) yang valid di suatu waktu tertentu. Ayat 87 ini dimulai dengan pernyataan yang tegas mengenai konsep monorelitas ini: “Dan sungguh Kami telah mendatangkan Kitab Suci (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul…”. Perjumpaan Musa (sebelum diangkat jadi nabi) dengan Nabi Syua’ib di Madyan kemudian melayaninya selama delapan atau sepuluh tahun menunjukkan bahwa sebelum diangkat jadi nabi, dirinya (Musa) adalah epngikut nabi (sebelumnya) yang masih sedang in-charge (bertugas). “Berkatalah dia (Nabi Syu’aib): ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua putriku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik’. Dia (Musa) berkata: ‘Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan. Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung….(inilah awal kenabian Musa)” (28:27-29) Waktu itu Nabi Syu’aib sudah sangat tua sehingga bisa dipastikan bahwa Musa ‘dilantik’ jadi nabi sepeninggalnya. Setelah Musa menjadi Nabi, ia pun langsung mempersiapkan pembantu dan sekaligus calon penggantinya dari kalangan keluarga dekatnya sendiri, Harun, saudaranya. “Berkata Musa: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku khawatir bahwa mereka akan mendustakanku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun’.” (26:12-13, lihat juga 20:30-31, dan 28:34) Inilah monerelitas itu.

 

2). Setelah itu, setelah rangkaian nabi-nabi dari kalangan Bani Israil, dari keturunan Ibrahim melalui jalur Ishaq dan Ya’qub, Allah menutupnya dengan kedatangan Isa putra Maryam: “dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada Isa putera Maryam”. Bukti historis menunjukkan bahwa setelah Nabi Isa, tidak ada lagi nabi yang terutus setelahnya dari kalangan Bani Israil hingga kini. Lalu bukti kebenaran apa yang dimaksud di ayat ini? Banyak bukti yang dipertunjukkan selama hidup Nabi Isa, diantaranya ialah: “Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (Nabi Isa berkata kepada mereka): ‘Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kalian dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kalian sungguh-sungguh beriman’.” (3:49) Di 5:110 ditambahkan bahwa dia berbicara kepada manusia sejak dari buaian.  Juga mendatangkan hidangan (al-maidah) dari langit: “Isa putera Maryam berdoa: ‘Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezki Yang Paling Utama’.” (5:114) dan sebagainya. Tapi bukti paling jelas ialah bahwa dia lahir tanpa ayah biologis. Karena bukti yang dimaksud di sini ialah mukjizat, perbuatan langsung Tuhan yang melampaui hukum-hukum alam (sebab-akibat), maka hal itu seharusnya tidak perlu mengherankan—justru yang mengherankan kalau Tuhan tidak mampu melakukan itu. Karena bukankah karena keheranan itu yang membuat sebagian besar pengikutnya lalu ‘melantik’-nya menjadi salah satu tuhan. Padahal penalarannya sangat sederhana: “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (3:59) Yaitu bahwa kalau Nabi Isa di-tuhan-kan karena kelahirannya tanpa ayah biologis, maka seharusnya Nabi Adam lebih pantas jadi tuhan, karena tidak punya ayah tidak punya ibu, benar-benar ‘lahir’ dari ‘tangan’ Tuhan langsung, tanpa melalui sebab-sebab lahiriah.

 

3). Masih tentang Nabi Isa, Allah berfirman: “…dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus.” Penyandingan Nabi Isa dengan Ruhul Qudus, selain di ayat ini, juga disebutkan di 2:253, 5:110. Apa atau siapakah sebetulnya Ruhul Qudus ini? Ulama tafsir berbeda-beda pendapat soal ini. Al-Baghawĭy merekam beragam pendapat ini dalam buku tufsrinya. Ada yang mengatakan, Ruh di situ ialah ruh yang ditiupkan ke dalam diri setiap orang saat diciptakannya, seperti dalam firman-Nya: “Maka apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya, dan telah Kutiupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (15:29, 38:72, lihat juga 32:9) Sedang Qudus-nya merujuk kepada Allah atau nama Allah yang menunjukkan kesucian dan kemuliaan, sehingga Ruhul Qudus diartikannya sebagai Ruh Allah. Pendapat ini didasarkan pada ayat-ayat di 4:171 dan 66:20.

Ada yang mengartikannya sebagai Malaikat Jibril; dengan asumsi bahwa Ruh-nya berarti malaikat sementara Qudus-nya bermakna at-Thāɦirah (suci, tak ternodai oleh hawa nafsu). Pendapat ini didasrkan pada ayat ini: “Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” (16:102) Ada yang menyebut Ruhul Qudus itu sebagai salah satu dari nama Allah, yang Dia gunakan untuk menghidupkan orang mati dan memperlihatkan keajaiban-keajaiban atau mukjizat-mukjizat. Nabi Isa kemudian menggunakan Ruhul Qudus ini untuk mendemonstrasikan berbagai mukjizat sebagai bukti atas kenabiannya.

Ada juga yang mengartikan Ruhul Qudus sebagai Injil itu sendiri, sebagaimana Allah menyebut al-Qur’an sebagai ruh. “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al Qur’an) dari urusan Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apa Kitab Suci itu dan tidak (pula mengetahui apa) iman (itu), tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (42:52). Kitab Suci disebut demikian karena diantara fungsinya ialah menghidupkan jiwa.

 

4). Konsep monorelitas kenabian menyampaikan kepada Bani Israil bahwa apabila ada sosok yang mengaku nabi yang kedatangannya selain sesuai dengan nubuwat nabi sebelumnya juga bisa memperlihatkan keberlanjutan dan atau penyempurnaan terhadap ajaran nabi-nabi terdahulu, maka nabi tersebut benar. Konsekuensinya, harus mengakui, menerima, mengikuti, menganut ajarannya, dan berjuang bersamanya. Allah tahu apa yang ada pada diri mereka di sepanjang sejarahnya, sehingga Dia bertanya ‘sinis’: “Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan hawa-nafsumu lalu kalian (bersikap) angkuh (terhadapnya)…?” Frase “bersikap angkuh” diterjemahkan dari kata aslinya: اسْتَكْبَرْتُمْ (istakbartum, kalian bersikap istikbar atau sombong). Kata ini mengingatkan kita pada ayat 34 dari Surat al-Baqarah ini: “Dan (ingatlah) tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka mereka pun bersujud kecuali Iblis; ia enggan dan istikbar (arogan) dan ia (pun) menjadi kafir.” Artinya setiap penolakan kepada Nabi Allah beserta ajaran yang dibawahnya, selalu menunjukkan adanya pengaruh Iblis di dalamnya, sehingga pelakunya berhak masuk ke dalam Hizbusy-Syaithan (Golongan Setan).

 

5). Dan kesombongan Bani Israil tidak hanya berhenti pada sikap jiwa. Karakter jiwa mereka tidak pasif, tapi sangat agresif. Mereka menindaklanjutinya dengan perbuatan nyata. Yaitu: “maka sebagian (di antara mereka) kalian (telah) dustakan dan sebagian (yang lain) kalian (akan) bunuh”. Yang menarik di sini ialah perubahan tensis dari bentuk lampau (mādli)—saat menggunakan kata “kalian dustakan” (kadzdzabtum)—menjadi bentuk sekarang atau akan datang (mudlāri’)—pada kata “kalian bunuh” (taqtulŭwn). Cermati baik-baik bahasa aslinya, terutama pada kata-kata yang bercetak tebal dan bergaris bawah: فَفَرِيقاً كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقاً تَقْتُلُونَ (farĭyqan kadzdzabtum wa farĭyqan taqtulŭwn). Seperti diterangkan di ayat sebelumnya (86), mereka melakukan semua ini karena motif materi dan ketiadaan harapan akan akhirat. Karena ayat ini turun ketika Nabi Muhammad masih hidup, dari penggunaan tensis bisa ditebak siapa gerangan nabi selanjutnya yang akan menjadi target operasi mereka. Ayat berkut ini agaknya isyarat atas kejadian itu: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (3:144)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Ada dua hal yang tidak bisa bertemu pada satu jiwa: ruh suci dan kesombongan. Semakin angkuh seseorang semakin kotor jiwanya. Maka kalau Anda hendak mensucikan jiwa, berusahalah sedikit demi sedikit menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada padanya. Dan induk dari sifat buruk itu ialah istikbar (sikap sombong dan angkuh).

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply