Al-Baqarah ayat 86

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 22, 2011
0 Comments
1172 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 86

 

أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُاْ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالآَخِرَةِ فَلاَ يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ

[Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.]

[These are they who buy the life of this world for the hereafter, so their chastisement shall not be lightened nor shall they be helped.]

 

 

1). Penggunaan kata أُوْلَئِكَ (ŭwlāika)—isim isyārah lil ba’id (kata tunjuk jauh, dalam bentuk jamak)—di awal ayat ini, menunjukkan bahwa Allah hendak mendeklarasikan secara defenitif para pelanggar Janji Ilahi di ayat-ayat sebelumnya. Hebatnya lagi, Allah bukan menunjuk identitas personnya, tapi menunjuk sifat yang mengantarkan para pelaku ‘berani’ melakukan pelanggaran terhadap janji yang sakral tersebut. Kalau Allah menunjuk identitas personnya, maka para pelaku terbatas pada orang (yang hidup pada masa) itu saja, dan tidak pada orang lain. Tapi dengan menunjuk sifatnya—atau lebih tepatnya jenis ‘penyakit’ jiwa yang diidapnya—maka para pelaku selalu bisa didentifikasi di sepanjang lintasan ruang dan waktu, hingga kini dan di masa-masa yang akan datang. Artinya, penggunaan kata أُوْلَئِكَ (ŭwlāika) yang sejatinya hanya membatasi deskripsinya pada Bani Israil, kini berubah menjadi deskripsi umum: siapa saja dan kapan saja. Itu dari satu sisi. Dari sisi lain, setiap orang di kapan tempo bisa berusaha menghindari ‘penyakit’ ini dengan memantang sebab-sebabnya. Dengan demikian, setelah kalimat ini diterakan sebagai suatu ayat dalam al-Qur’an, maka fugsinya telah melampaui dirinya. Ia tak lagi sekedar sebagai sebuah kalimat berita, tapi sekaligus telah menjadi peringatan dan petunjuk buat generasi-generasi sesudahnya. “Sesungguhnya (ayat al-Qur’an) ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki niscaya ia (menjadikan ayat tersebut sebagai pedoman untuk) menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya.” (73:19, 76:29)

 

2). Person yang dimaksud—yang memelihara sifat dan sekaligus mengidap ‘penyakit’ yang menyebabkan yang bersangkutan mudah melangar janji—ialah “orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat”. Jadi person tersebut ternyata seorang ‘pedagang’ yang ‘berhasil’. Yakni ‘berhasil’ menjual akhiratnya dan mengambil dunia sebagai gantinya. Sehingga semua aktivitasnya tidak ada lagi yang bertujuan akhirat, semuanya beraroma dunia, demi kepentingan sesaat: gengsi, prestise, pengakuan, popularitas, konsumerisme, hedonisme, dan materialisme. Sadar atau tidak, semua itu hanya akan membesarkan egonya, mengerdilkan imannya. Hingga pada tingkat tertentu, mereka tega dan berani menumpahkan darah dan mengusir saudaranya sendiri dari kampung-kampung halamannya atau dari posisi-posisinya semula, agar mereka bisa mengambil semuanya. Baik menjadi pelaku langsung ataupun hanya menjadi juru bicara, pemberi justifikasi keagamaan, atau argumentator intelektual—supaya kejahatan tersebut kelihatan sakral dan tak menyalahi nalar. Dari sini muncul terminologi baru: ulama piaraan dan pelacur intelektual. Pada saat “pelaku utama” tengah menjalankan makarnya, menumpahkan darah dan melakukan kerusakan, ‘aparat-aparat’ tersebut diorkestrasi sedemikian rupa (untuk berbicara sesuai dengan kapasitas ke-‘pakar’-annya masing-masing) sehingga semuanya sekan-akan berjalan alamiah dan wajar; justru yang mencurigai orkestrasi itu yang kelihatan tidak wajar, patut dipojokkan, dan penganut teori konspirasi. Al-Qur’an mengumpamakan para ‘penjual’ akhirat demi setetes kenikmatan duniawi ini sebagai anjing yang kahausan. “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat (peringatan) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (7:176) Mengapa Allah memisalkan mereka sebagai anjing yang tak henti-hentinya menjulurkan lidahnya? Karena mereka menjadikan kapasitas ke-‘pakar’-annya tadi untuk menjilat dan menjilat. Allah menggunakan kata أُوْلَئِكَ (ŭwlāika), yang artinya “mereka itulah”, agar umat mengenali mereka, sehingga tidak tertipu dan terperdaya oleh ulahnya.

 

3). Apabila seseorang sudah menjadi ‘pedagang’ yang ‘berhasil, maka dia itulah yang dimaksud “…sesiapa melakukan keburukan dan dia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, (dan) mereka kekal di dalamnya.” (2:81) Sehingga sangat tidak masuk akal kalau mengklaim diri masuk neraka hanya beberapa hari saja (2:80). Bahkan Allah memastikan: “tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” Maksud dari klausa “tidak akan diringankan siksa mereka” ialah bahwa mereka kelak tidak berhak lagi menerima ‘pahala’ kebaikannya yang seyogyanya meringankan siksaan yang bakal diterimanya; karena mereka memang tidak pantas lagi mendapatkan bagiannya di akhirat sebab bukankah mereka telah menjualnya dulu dunia. Sementara maksud dari klausa “mereka tidak akan ditolong” ialah bahwa mereka tidak mungkin menerima syfa’at dari Khalifah Ilahi pada zamannya karena mereka justru memilih berada di belakang Khalifah Duniawi kendati harus menjilat sana menjilat sini. “…Maka di antara manusia ada yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kesenangan hidup) di dunia (ini)’; maka (orang yang seperti itu) tiada lagi baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (2:200)

 

4). Ayat ini aslinya berbicara tentang Bani Israil. Tapi coba simak ayat berikut ini: “Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tiadalah beruntung perniagaannya dan mereka tidak mendapat petunjuk”. (2:16) Ayat ini juga dimulai dengan kata أُوْلَئِكَ (ŭwlāika), yang juga mendeskripsikan para ‘pedagang’ yang ‘berhasil’. Hanya saja ayat yang barusan kita kutip ini berbicara mengenai orang-orang munafik. Sehingga, semakin jelas kini, bahwa Bani Israil dan orang-orang munafik itu adalah ibarat dua sisi dari satu mata uang. Mereka bahu-membahu, tolong-menolong, dalam upaya mensukseskan ‘perniagaan’  masing-masing. Mereka sama-sama ‘pedagang’ akhirat demi mendapatkan keuntungan duniawi yang mereka pikir akan mengekalkannya. Padahal satu-satunya perniagaan yang tidak akan merugi ialah: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itulah (yang) mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (35:29) Itu sebabnya sedari awal Allah telah mengingatkan Bani Israil agar jangan melakukan ‘perniagaan’ yang akan membawa kepada kerugian dan kenistaan: “Dan berimanlah kalian kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan (hanya) kepada-Kulah kalian (hendaknya) bertakwa.” (2:41)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Rasa-rasanya tidak ada di antara kita yang tidak berdosa. Cuma saja kita tidak perlu bersedih hati sebab Allah menjanjikan pintu ampunannya yang begitu luas. Syaratnya: Anda jangan pernah mencoba menjual akhirat Anda untuk mendapatkan kesenangan duniawi. Karena kalau Anda sudah menjualnya, tentu tidak mungkin lagi Anda menemukannya di sana.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply