Al-Baqarah ayat 85

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 21, 2011
3 Comments
1798 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 85

ثُمَّ أَنتُمْ هَـؤُلاء تَقْتُلُونَ أَنفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقاً مِّنكُم مِّن دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِم بِالإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِن يَأتُوكُمْ أُسَارَى تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاء مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

[Kemudian kalian (Bani Israil) membunuh dirimu (sesama) dan mengusir segolongan daripada kalian dari kampung halamannya, kalian bantumembantu dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap mereka; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kalian tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kalian beriman kepada sebahagian Kitab Suci (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat.]

[Yet you it is who slay your people and turn a party from among you out of their homes, backing each other up against them unlawfully and exceeding the limits; and if they should come to you, as captives you would ransom them–while their very turning out was unlawful for you. Do you then believe in a part of the Book and disbelieve in the other? What then is the re ward of such among you as do this but disgrace in the life of this world, and on the day of resurrection they shall be sent back to the most grievous chastisement, and Allah is not at all heedless of what you do.]

1). Faktanya, tidak ada dari JANJI tersebut yang Bani Israil penuhi. Persis sepertimana ketika mereka menyaksikan sendiri 9 mukjizat, tetapi setelah itu, alih-alih menjadikan mereka semakin lembut, jiwa mereka justru semakin keras, bahkan lebih keras dari batu. Baru beberapa saat setelah mengikrarkan janjinya, mereka sudah kembali saling menumpahkan darah, saling membunuh, mengusir sesama dari kampung halamannya, dan saling bantu-membantu dalam dosa dan permusuhan. “Kemudian kalian (Bani Israil) membunuh dirimu (sesama), mengusir segolongan dari kalian dari kampung halamannya, dan kalian bantumembantu dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap mereka.” Pelanggaran terhadap JANJI mereka ini memang tidak dengan serta-merta. Penggunaan kata sambung ثُمَّ (tsumma, kemudian)—yang berfungsi sebagai ‘athaf (penghubung) dalam bentuk tartĭb infishāl (pengurutan terpisah)—di awal ayat menunjukkan bahwa pelanggaran (terhadap janji yang disebutkan di ayat sebelumnya) itu terjadi belakangan. Yaitu setelah wafatnya Nabi Musa, meninggalkan mereka untuk selamanya. Tetapi cikal bakal pelanggarannya sendiri sudah kelihatan saat Nabi Musa meninggalkan mereka untuk sementara, menghadap Allah di Gunung Thursina selama 40 malam, seraya menunjuk Harun sebagai Khalifah Ilahi penggantinya (ayat 51).

2). Melanggar Janji Ilahi yang Bani Israil ikrarkan sendiri di ‘hadapan’ Allah, tentu dosanya sangat besar. Apalagi, ternyata, Bani Israil tidak sekedar melanggar janji, mereka juga saling bahu-membahu di dalam melakukan pelanggaran tersebut. “Kalian bantumembantu dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap mereka.” Dan watak pelanggaran ini tidak berhenti hanya pada suatu waktu tertentu saja, tetapi berlanjut hingga zaman Nabi di Madinah, bahkan sampai hari ini. Sebelum Nabi dan para sahabatnya hijrah ke Madinah (Yatsrib), di sana sudah bermukim banyak komunitas Bani Israil, yang lebih populer dikenal sebagai kaum Yahudi. Mereka ini mempunyai hubungan krusial dengan suku-suku Arab yang ada di sana, terutama dengan ‘Aus dan Khazraj yang merupakan rivalitas abadi dalam perang saudara. Untuk mengikat mereka (komunitas-komunitas Yahudi dan suku-suku Arab) menjadi satu kesatuan bangsa dan negara, pada tahun 622 M Nabi menyusun Piagam Madinah yang dalam pasal-pasalnya melibatkan semua unsur yang ada di Yatsrib. Pasal 25 menyebutkan: “Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan kaum mukmin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslim agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. (Karena) hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.” Dan seluruh komunitas Yahudi diperlakukan seperti Bani ‘Awf ini. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Bekerjasama dengan kaum munafiq, meraka tak henti-hentinya merecoki Nabi dan kaum mukmin, baik di masa damai maupun di masa perang. Tak ada dari pasal-pasal perjanjian tersebut yang mereka penuhi. Sampai Allah menurunkan ayat yang menceritakan keadaan mereka yang sebenarnya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepada kamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah (pola hidup agama) mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu (kehendak) mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (2:120) Puncaknya, tahun 629 M Nabi terpaksa mengerahkan pasukan perang untuk menghadapi mereka di Khaibar. Wilayah subur yang terletak 165 km  utara Madinah ini, menampung benteng-benteng pertahanan Yahudi yang tangguh. Begitu tangguhnya sehingga Abu Bakar dan Umar yang secara berturut-turut mempanglimai pasukan Islam, gagal melumpuhkannya. Di tangan Ali-lah benteng-benteng  ini takluk. Akibatnya, secara bertahap, orang-orang Yahudi meninggalkan wilayah ini dan menyebar entah ke mana.

Hari ini, benteng-benteng Khaibar itu muncul kembali di wilayah Palestina dalam bentuk pemukiman-pemukiman ilegal yang dibangun mewah di tanah-tanah penduduk asli yang pemiliknya mereka bunuh dan usir dengan cara perang dan teror. Bani Israil datang bertahap ke sana atas dukungan penuh dari Amerika, Inggeris dan negara-negara kolonialis lainnya. Di sini, mereka kembali memperlihatkan keingkarannya kepada Janji Ilahi-nya. Mereka setiap hari menumpahkan darah dan mengusir sesamanya manusia. Bahkan, sampai saat ini, 1,5 juta penduduk Gaza masih hidup dalam penjara raksasa sepanjang sejarah kemanusiaan, karena ditutup aksesnya ke dunia luar, dari darat dan dari laut. Sedihnya lagi, PBB, para penggiat liberalisme dan pluralisme, aktivis HAM, misionaris yang sering berbicara tentang KASIH, raja-raja, penguasa-penguasa Muslim, bahkan sebahagian besar ulama, sekan menutup mata terhadap horor kemanusiaan ini. Televisi-televisi lebih senang menayangkan upaya heroik penyelamatan ikan lumba-lumba dan orang utan, ketimbang konvoi bantuan kemanusiaan ke Palestina. Hanya organisasi seperti Hamas, Ikhwanul Muslimin, Hezbollah, segelintir aktivis kemanusiaan dari Barat dan Timur, pemerintah Syria dan Iran yang banyak memberikan perhatian terhadap masalah ini. “Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (wahai kaum muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (yaitu saling bantu-membantu), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (8:73)

3). Janji Ilahi Bani Israil ini telah menjadi ajaran Kitab Suci. Di sinilah letak ironi-ironi agama samawi yang telah mengalami dekadensi. Menumpahkan darah dan mengusir sesama dari tempat-tempat tinggal mereka dilarang, tapi Bani Israil melanggar larangan ini. Sebaliknya, Kitab Suci mengajarkan agar membebaskan teman sebangsa yang menjadi tawanan perang dengan cara menebusnya sejumlah bayaran, dan Bani Israil mematuhi ini. Artinya, demi mempertahankan gengsi pribadinya, mereka rela membunuh dan mengusir sesamanya. Dan demi gengsi pula, mereka rela membayar dengan harga berapa pun asal tidak merasa dipermalukan melalui penawanan saudara mereka. Sebahagian isi Kitab Suci mereka langgar, sebahagian lainnya mereka patuhi. “Apakah kalian beriman kepada sebahagian Kitab Suci (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?” Dan ukuran mana yang harus dilanggar mana yang harus dipatuhi, sangat sederhana: gengsi pribadi. Mereka beragama menurut kehendak hawa nafsunya.

4). Potongan ayat selanjutnya mewartakan ke arah mana sejarah bergerak, dan kepada siapa Tuhan berpihak. “Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat.” Ayat ini memetakan masa depan. Yaitu bahwa disebabkan oleh watak keingkarannya terhadap Janji Ilahi, Bani Israil beserta kolaborator-kolaborator dan supporter-supporternya pada akhirnya akan ternistakan dalam kehidupan dunianya, dan tersiksakan dalam kehidupan akhiratnya. Dan ini pasti. Tidak ada kemungkinan lain. Karena di situ ada huruf mim mād (مَا, )—yang bertugas menegasikan seluruh jasa atau imbalan—kemudian berjumpa dengan huruf إِلاَّ  (illā, kecuali)—yang bertugas mengafirmasi imbalan yang musti. Dengan begitu, ayat ini mempersenjatai kita data futuristik untuk menentukan sikap yang benar di masa sekarang. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penentang (terhadap orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat…. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” (4:105 dan 107)

5). Apakah Janji Ilahi seperti ini hanya berlaku bagi Bani Israil? Tidak. Selain karena isinya menyangkut prinsip-prinsip agama samawi yang sangat penting, Islam juga telah meratifikasinya menjadi hukum yang berlaku umum. “Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (5:2) Sayangnya, watak Bani Israil ternyata juga menjangkiti sebahagian kaum Muslim. Apa yang terjadi paska kemangkatan Nabi Musa, terjadi juga paska kewafatan Rasulullah. Sesaat sebelum Mu’awiyah bin Abi Sofyan meninggal, dia secara sepihak menunjuk anaknya, Yazid, sebagai Khalifah penggantinya. Yazid kemudian mengintimidasi dan menteror tokoh-tokoh Sahabat dan Ahli Bayt Nabi yang menolak berbaiat kepada dirinya. Imam as-Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’-nya mengutip al-Waqidi yang meriwayatkan melalui beberapa jalur dari Abdullah bin Hanzhalah berkata: “Demi Allah, kami tidak melakukan pemberontakan kepada Yazid hingga kami khawatir Allah melemparkan batu-batu siksa dari langit kepada kami. Sesunguhnya dia adalah seorang laki-laki yang mengawini budak-budak, anak-anaknya, dan saudaranya, serta peminum khamar dan sering meninggalkan salat.” Tidak tahan dengan intimidasi dan teror, Alhusein bin Ali bin Abi Thalib—cucu kesayangan Nabi yang disebut dalam doa-doanya sebagai Imamul Muttaqin (25:74)—kemudian ‘terusir’ dari kampung halamannya, Madinah dan Mekah. Saat Alhusein menuju ke Kufah, ia beserta 72 pengikut dn keluarganya dibantai dengan sangat sadis di Padang Karbala oleh lebih dari 4000 pasukan terlatih kiriman Yazid. Kepalanya kemudian dipenggal dan ‘dihadiahkan’ kepada putra Mu’awiyah bin Abi Sofyan tersebut. Imam as-Suyuthi menulis: “Tatkala Alhusein dibunuh, dunia sekan terhenti selama tujuh hari, sedangkan matahari merapat ke dinding laksana kain yang menguning. Bintang-bintang saling bertabrakan. Dia terbunuh pada tanggal 10 Muharram (Hari Asyura). Terjadi gerhana matahari dihari itu. Ufuk langit memerah selama enam bulan serta ufuk merah tersebut kelihatan terus-menerus yang sebelumnya belum terjadi seperti itu.”

Berkaca dari peristiwa ‘pengusiran’ dan penumpahan darah putri Fathimah Zahra, dan cucu Khadijah al-Kubra tersebut, apa yang kita kaum Muslim katakan tentang ayat ini: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (4:93)

AMALAN PRAKTIS

Tidak menumpahkan darah dan mengusir sesama dari kampung halaman mereka adalah prinsip agama dan Janji Ilahi yang sangat penting. Allah mengatakan, siapa yang melanggar JANJI ini, dia akan ternistakan di dunia dan di akhirat. Hidup adalah pertemanan. Maka gunakanlah peringatan Allah ini sebagai modal untuk memilih teman yang benar, agar Anda kelak tidak menyesal. (25:28-29)

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply