Al-Baqarah ayat 8

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
December 14, 2010
0 Comments
913 Views

SURAT AL-BAQARAH  Ayat 8

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِين

[Dan diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir”, padahal mereka itu bukan orang-orang yang beriman].

1). Di sini ada pengakuan dan ada penyangkalan. Diantara manusia ada yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Tetapi Allah sendiri yang kemudian menyangkalnya. Menunjukkan bahwa menusia ( di dunia ini) benar-benar merdeka untuk melakukan apa saja dan mengatakan apa saja sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Ini yang disebut free-will (kehendak-bebas), yang merupakan karunia terbesar Allah kepada manusia, yang tidak diberikan kepada hewan manapun. Saking bebasnya, manusia bisa mengatakan sesuatu yang tidak sesuai fakta sekalipun. Manusia bisa menyebarkan kebohongan, ketidakbenaran, yang isinya tak lebih dari provokasi, agitasi, manipulasi, dan iklan murahan. Dan supaya free-will itu bisa diterapkan, sehingga tidak hanya berhenti pada konsep, Allah pun memberikan karunia dalam bentuk free-choice (pilihan bebas): ya atau tidak, syukur atau kufur, mengakui Tuhan atau menolaknya, taat atau menentang. Di titik inilah nanti manusia dimintai pertanggung jawaban atas pilihan-pilihannya, karena di balik kehendak-bebas tersebut—agar tidak salah pilih—Allah mengaruniakan alat yang luar biasa: qalbu-pendengaran-penglihatan (yang telah dibahas pada ayat sebelumnya). Sehingga, pada saatnya nanti kita melihat bahwa bukan perbuatan manusia yang dimintai pertanggungjawaban tapi alasan kenapa melakukan perbuatan tersebut.

2). Tetapi dibalik kehendak-bebas yang dimiliki manusia, Allah juga punya otoritas dan prerogative untuk melakukan penilaian. Dan penilaian Dia adalah penilaian yang benar, penilaian yang tak memiliki cacat sedikitpun, sesuai dengan sifat-sifat ketuhanan yang dimiliki-Nya. Pertanyaannya kemudian: yang namanya penilaian pasti ada standarnya, ada parameternya, lalu apa parameter yang Allah gunakan dalam menerapkan otoritas dan prerogative penilaian-Nya tersebut? (Kalau parameter ini tidak jelas, tentu Allah menganiaya hamba-Nya). Di sini kita berjumpa kembali urgensi Kitab Suci. Jadi selain fungsinya sebagai PETUNJUK, al-Qur’an juga berfungsi sebagai HUKUM, yang kepadanyalah nanti Allah merujukkan penilaian-Nya tersebut. Maka pada saat Allah mengatakan: wa ma hum bi mu’minyn (padahal mereka itu bukan orang-orang yang beriman), penolakan ini sungguh tidak bersifat semena-mena, kendati itu keluar dari otoritas dan prerogative Allah. Penolakan ini bisa dilacak alasannya dalam Kitab Suci. Lagi-lagi kita dipaksa kembali untuk menyadari betapa urgennya Kitab Suci dalam hidup ini, sebelum kita menyesal di hari dimana tidak berguna lagi yang namanya penyesalan. Dan supaya kita mau menerima realitas Kitab Suci ini, Allah jauh-jauh hari—sejak awal mula kita diciptakan di alam ghaib—menyimpan semacam chips dalam diri kita untuk menerima kemutlak-hadiran Kitab Suci tersebut. Chips tersebut berisi: qalbu-pendengaran-penglihatan, yang dipersiapkan untuk menangkap sinyal yang datang dari-Nya. “Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi (orang-orang tua) mereka dan Allah meminta kesaksian dari jiwa mereka (dengan berkata): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi (atas ketuhanan-Mu)’. [Kami melakukan itu) agar di Hari Akhir kalian (punya alasan untuk) mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (dulu di dunia) adalah orang-orang yang lengah terhadap (isi kesaksian) ini’.” (7:172) Catatan: “orang-orang yang lengah” artinya orang-orang yang tidak memanfaatkan chips tersebut.

3). Yang menarik, di ayat ini Allah menggunakan kata “wa minan-nāsi” (dan diantara manusia), yang sebetulnya bisa berbunyi: “wa minkum” (dan diantara kalian) atau “wa minal a’rabi” [dan diantara orang-orang Arab (Badui)] yang penggunaannya banyak bertebaran di dalam al-Qur’an. Bisa kita terka bahwa maksud Allah di sini ialah Dia hendak menetapkan keumuman free-will dan free-choice tadi, juga keumuman alat penilaian (qalbu-pendengaran-penglihatan) sehingga manusia bisa faham bahwasanya mereka diciptakan dengan potensi yang sama. Saat menciptaan hamba-Nya, Dia sudah bersikap egaliter, dan saat menghukuminya pun Dia bersikap egaliter. Dan karena agama datang dari-Nya, secara otomatis, agama pun sejalan dengan chips seluruh manusia. Dan karenanya agama pun berporos pada sikap egalitarianisme ini. Sehingga kita bisa berkesimpulan bahwa ketidakadilan pun adalah lawan frontal dari agama yang benar. Atau agama yang benar tidak mungkin memiliki toleransi terhadap pelaku ketidakadilan.

4). Penyangkalan Allah terhadap pengakuan keberimanan mereka, mengajarkan kepada kita bahwa iman itu tidak cukup dengan pengakuan. Iman itu ialah konsistensi atau garis lurus yang menghubungkan antara tiga titik: perbuatan-perkataan-jiwa. Cara membacanya begini: perbuatan itu adalah refleksi dari perkataan dan perkataan itu adalah refleksi dari jiwa. Jadi jiwalah yang menjadi awal dari semuanya, sehingga jiwa pulalah yang berfungsi sebagai mesin pendorong dari perbuatan tersebut. Maka kalau ada orang yang mengaku beriman tetapi pengakuannya itu belum landing di jiwanya, pada hakikatnya belum beriman. “Wahai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (kembali) kepada kekafiran, (yaitu) di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: ‘Kami telah beriman’, padahal jiwa mereka (sebetulnya memang) belum beriman…” (5:41)

AMALAN PRAKTIS

Ingatlah, lidah kita lebih terlatih daripada jiwa kita. Karena keterampilan berbicara kita mendahului 15 tahun usia akil balig kita. Maka agar keterampilan jiwa kita bisa mengejar keterampilan berbicara kita, hendaknya lebih banyak berfikir atau merenung ketimbang berbicara. “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya berbicara yang baik-baik (saja). Atau (kalau tidak bisa, maka lebih baik) diam.” (al-Hadits)

 

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply