Al-Baqarah ayat 78

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 14, 2011
0 Comments
1075 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 78

 

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لاَ يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلاَّ أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّونَ

[Dan di antara mereka ada yang ummi, (yaitu) tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali angan-angan kosong belaka dan mereka hanya menduga-duga.]

[And there are among them illiterates who know not the Book but only lies, and they do but conjecture.]

 

 

1). Di ayat 76 disebutkan bahwa dari kalangan Bani Israil ada yang mengetahui isi Kitab Suci yang asli. Terbukti dari keterperanjatan mereka saat mendengar hujjah dari Nabi Muhammad yang menggunakan data sejarah yang akurat. Di ayat 78 ini Allah juga menginformasikan bahwa (tetapi) diantara mereka ada juga yang أُمِّيُّ (ummĭy). Dan ayat ini juga sekaligus mendefenisikan apa yang dimaksud أُمِّيُّ (ummĭy) tersebut. Ternyata, menurut ayat ini, أُمِّيُّ (ummĭy) ialah mereka yang “tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali angan-angan kosong belaka dan mereka hanya menduga-duga”. Pengertian ini sejalan dengan sifat Nabi Muhammad sebelum menerima wahyu: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al Qur’an) dari urusan Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apa Al Kitab (Al Qur’an) itu dan tidak (pula mengetahui apa) iman (itu), tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (42:52) Terbagi duanya Bani Israil menjadi: kelopok pertama, yang mengetahui Kitab Suci yang asli, dan kelompok kedua, yang أُمِّيُّ (ummĭy), yang tidak mengetahui sama sekali Kitab Suci kecuali ajaran-ajaran kosong yang berisi dugaan-dugaan belaka; menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan antara kalangan ulama dan kalangan awam. Dan kesenjangan itu bukan pada banyaknya (kuantitas), tapi pada jenisnya (kualitas). Kalangan ulamalah satu-satunya kelompok masyarakat yang punya akses kepada Kitab Suci yang kebenarannya lalu mereka simpan sendiri, sementara yang diajarkan kepada umatnya tidak lebih dari mitos-mitos dan dongeng-dongeng masa lalu belaka saja. (Tentu mitos-mitos itu mereka bumbui dengan rempah-rempah teologis—misalnya dengan mengatakan bahwa ini adalah sunnah Nabi Musa dan Harun—agar umat menerimanya dengan penuh keyakinan). Kalangan ulama memelihara dan mengeksploitasi kebodohan umatnya demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Karena kalau umat juga mengakses langsung Kitab Suci, maka sangat mungkin kepercayaan mereka kepada ulamanya kian pudar, bahkan bisa meninggalkannya. “Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar (tersebut) di dalam Kitab-Kitab umat terdahulu. Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (26:197) Karena kebenaran ini mereka simpan (atau sembunyikan) sendiri sementara yang diajarkan kepada umatnya ialah angan-angan kosong belaka saja padahal mereka setiap saat menerima zakat dari umat, maka Allah menyebutnya begini: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta manusia (umatnya) dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah….” (9:34)

 

 

2). Kata أَمَانِيَّ (amanĭy, angan-angan kosong) muncul di 4 ayat dalam al-Qur’an (2:78, 2:111, 4:123, 57:14), dengan makna yang hampir sama. Pada awalnya bermakna wishes, desires, aspirations, tetapi pada penggunaannya dalam al-Qur’an semuanya bermakna negatif. “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Sesiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan atas kejahatannya itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (4:123) Menurut al-Baghawi, أَمَانِيَّ (amanĭy) adalah bentuk jamak dari أُمْنِيّةِ (amnĭyyah) yang pada penggunaannya dalam al-Qur’an (22:52) berarti “tilāwah” atau “bacaan” atau “recitation” (pengertian ini juga yang dipakai oleh Shakir); walaupun tidak sedikit juga yang mengartikannya dengan “keinginan” atau “desire” (semisal Yusuf Ali, Pickthall dan Terjemah Depag RI—tetapi di dalam Syaamil al-Qur’an, Depag RI menerjemahkannya dengan “angan-angan”). Kalau kita kaitkan dengan pengertian tahrif—yang telah kita bahas sebelumnya—semua pengertian ini bisa diterima, karena dalam tahrif sangat mungkin bukan hanya kandungannya yang dirubah (sehingga berisi angan-angan kosong belaka yang menampung keinginan hawa nafsu mereka) tetapi juga redaksi dan atau bacaannya. Di antara angan-angan kosong mereka yang disebutkan dalam al-Qur’an ialah: Satu, “Dan mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.’ Katakanlah: ‘Sudahkah kalian menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kalian hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui?’.” (2:80). Dua, “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani’. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kalian adalah orang yang benar’.” (2:111). Tiga, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya’. Katakanlah: ‘Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?’ (Kalian bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kalian adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (5:18) Angan-angan kosong ini tentu dipelihara dengan rapih, diulang-ulangi dan disebarkan secara turun-temurun di kalngan mereka oleh ulama mereka sehingga menjadi ‘kebenaran’ yang mereka yakini. Lalu apa makna penyebutan أَمَانِيَّ (amanĭy) oleh ayat 78 ini bagi kita? Tentu agar agama Islam terpelihara dari ajaran yang berisi angan-angan kosong belaka, yang tak bisa dipertangungjawabkan secara rasional. Dan adalah ulamalah yang paling bertanggung jawab dalam membersihkannya dan bukan malah memeliharanya.

 

3). Setelah agama mereka tangkap sebagai angan-angan kosong belaka saja, Allah lalu mempertegasnya dengan mengatakan: وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّونَ (wa inɦum illa yazhunnŭwn, dan mereka hanya menduga-duga). Semua angan-angan kosong itu mereka ciptakan berdasarkan praduga-praduga yang tak berdasar. Padahal, menurut Allah—dan tentu menurut akal sehat juga—yang namanya praduga tidak bernilai “ilmu”, dan karenanya tidak punya nilai “kebenaran” sama sekali. “Dan mereka tidak mempunyai suatu ilmu tentang (tuhan buatan) itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan padahal sesungguhnya persangkaan itu sedikitpun tidak membawa kepada kebenaran.” (53:28) Ketika agama dibangun di atas praduga-praduga, maka pasti tidak akan kuat menghadapi hujjah (yang dibangun di atas pondasi rasionalitas yang kokoh). Di sinilah agama samawi menemui titik dekadensinya. Dan jikalau agama seperti ini tetap harus dipertahankan, maka cara mempertahankannya hanya satu: doktrinasi; yaitu ajarannya dipaksakan dengan ancaman-ancaman, bisa melalui retorika, bisa melalui raga. Jalan inilah yang ditempuh oleh ulama Bani Israil untuk bisa melestarikan pengaruhnya dan mempertahankan kharismanya. “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka saja. (Padahal) sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (10:36).

 

 

AMALAN PRAKTIS

Agama adalah hal penting dalam hidup ini, lebih penting dari kegiatan hidup manapun. Karena agama pegangan hidup, menyangkut kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Untuk itu berhati-hatilah dalam beragama. Apabila ajarannya berisi angan-angan kosong belaka saja, berarti yang Anda jadikan pegangan hidup adalah angan-angan kosong. Sementara angan-angan kosong tidak mungkin menghasilkan kebahgiaan dan keselamatan. Tugas besar Anda adalah memilah dan memilih mana angan-angan dan mana kebenaran.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply