Al-Baqarah ayat 77

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 12, 2011
0 Comments
1374 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 77

 

أَوَلاَ يَعْلَمُونَ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ

[Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui apa-apa yang mereka sembunyikan dan apa-apa yang mereka nyatakan?]

[Do they not know that Allah knows what they keep secret and what they make known?]

 

1). Keherenan Bani Israil di ayat sebelumnya berkenaan dengan wahyu yang diterima Nabi yang mengungkap semua detil perjalanan mereka bersama nabinya, yang mereka sangka sebagai bocoran dari sesama mereka sendiri, dijawab oleh ayat ini dengan sebuah pertanyaan: Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui apa-apa yang mereka sembunyikan dan apa-apa yang mereka nyatakan? Pertanyaan Allah ini mengingatkan kepada kita semua mengenai dua hal: keimanan Bani Israil dan hakikat kenabian. Yaitu bahwa Bani Israil tetap tidak mengakui kalau Muhammad itu adalah seorang nabi dan rasul, sehingga bagi mereka, semua pengetahuan Nabi Muhammad yang terbeberkan menjadi Kitab Suci itu tidak lebih dari pengetahuan pribadi Nabi yang diperolehnya melalui proses belajar, melalui proses berguru kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, termasuk kepada kawan-kawan mereka yang berpura-pura memeluk Islam. Bagi kita yang mengimani kenabian Muhammad saw, ayat ini adalah informasi penting mengenai hakikat kenabian. Yaitu bahwa kenabian adalah puncak kesempurnaan ruhani, dimana mereka yang mencapai derajat ini betul-betul telah melebur ke dalam Diri Tuhan-nya, sehingga sama sekali tidak ada lagi dualitas antara diri-nya dan Diri-Nya. Nabi telah kehilangan ego-nya, yang ada hanya Ego-Nya. Kehendak Sang Nabi telah sirna, yang ada hanya Kehendak Allah. Mari kita simak percakapan Musa dan Allah di Lembah Suci: “Maka ketika ia (Musa) datang ke tempat api itu, ia diseru: ‘Hai Musa. Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu (menjadi Nabi), maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada ilah (tuhan) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (20:11-14) Perhatikan, di dalam percakapan singkat ini, Allah setidaknya 6 (enam) kali menggunakan kata Aku. Lima kali dalam bentuk subyek (أَنَا, Ana, Aku) dan sekali dalam bentuk obyek (ى, ĭy, Ku). Jadi, sebelum Allah mewahyukan sesuatu kepada nabi-Nya, yang pertama Dia lakukan ialah menegaskan ke-Aku-an-Nya. Tujuannya? Agar “aku” Sang nabi melebur terlebih dahulu ke dalam Aku-Nya. Barulah setelah itu, proses pewahyuan bisa terjadi.

 

 

2). Itu sebabnya ayat 76 ini tidak lagi memperkenalkan Nabi secara personal. Yang diperkenalkan justru Allah dengan seluruh jangkauan pengetahuan-Nya. Padahal yang digugat oleh Bani Israil adalah Muhammd-nya, yang dicurigai sebagai tukang contek belaka saja. Allah menjawab gugatan ini dengan balik bertanya: Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui apa-apa yang mereka sembunyikan dan apa-apa yang mereka nyatakan? Allah seakan hendak mengatakan kepada mereka bahwa saat peleburan itu terjadi dan kehendak Sang Nabi telah berubah menjadi Kehendak Allah, maka totalitas diri Sang Nabi berubah menjadi mazhɦar (tempat penampakan) Sang Khaliq, sehingga perbuatan Nabi pada hakikatnya adalah perbuatan Allah. “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu (Muhammad) yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (8:17) Dengan demikian, semua pengetahuan Nabi adalah pengetahuan Allah. Maka kalau Nabi mengetahui apa-apa yang mereka sembunyikan atau mereka telah rubah dari isi Kitab Suci terdahulu, itu karena Nabi menerima pengetahuan tersebut melalui apa yang disebut “wahyu”. Dan karena Allah mengetahui apa yang mereka nampakkan dan apa yang mereka sembunyikan, maka Nabi mengethui semua itu. “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (53:2-4)

 

 

3). Ketika Allah menjelaskan jangkauan ilmu-Nya kepada manusia, Dia menyebut kata-kata yang penuh makna: مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ (mā yusirrŭwna wa mā yu’linŭwn, apa-apa yang mereka sembunyikan dan apa-apa yang mereka nyatakan). Di sini kita diperkenalkan kata sirr (rahasia). Selintas, kata ini sudah kita singgung di ayat 69 poin 3. Secara umum, Allah terkadang membagi wujud manusia menjadi dua bagian dengan menggunakan istilah sirr (yang tersembunyi) dan jaɦar (yang tampak). “Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (6:3) Yang sirr ini benar-benar rahasia, karena pemilik sirr itu sendiri sangat sedikit yang mengetahui hakikatnya. Kita menggunakannya tiap saat, kita menyadari keberadaannya, tapi kita tidak mengenal banyak tentang sifat dan asal-usulnya. “Dan (apa yang tersembunyi) pada dirimu, mengapa kalian tidak memperhatikannya?” (51:21) Segala sesuatu yang kita pendam sendiri, maka rahasianya terletak di sirr ini. Apabila apa yang terpendam itu kita ungkapkan (dengan kata atau perbuatan), disebut يُعْلِنُونَ (yu’linŭwn), mengi’lankan atau mengumumkan sehingga orang-orang mengetahuinya.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kita boleh merancang suatu makar secara rahasia, dengan harapan tidak ada orang lain yang mengetahuinya, sehingga pada saat makar itu benar-benar terjadi tidak ada yang mengetahui kalau kitalah pelakunya. Ketahuilah, Anda boleh bersembunyi di balik ketidaktahuan manusia, tetapi Anda tidak akan sanggup bersembunyi dari jangkauan pengetahuan Allah yang meliputi sirr (yang tersembunyi) dan jahar (yang tampak) dari diri Anda.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply