Al-Baqarah ayat 76

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 11, 2011
0 Comments
1043 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 76

 

وَإِذَا لَقُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلاَ بَعْضُهُمْ إِلَىَ بَعْضٍ قَالُواْ أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ اللّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَآجُّوكُم بِهِ عِندَ رَبِّكُمْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

[Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang beriman, mereka berkata: “Kamipun telah beriman,” tetapi apabila sebahagian mereka kembali bersua dengan sebahagian yang lain, mereka berkata: “Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) dengan apa yang telah Allah ungkapkan kepadamu, sehingga dengan (pengetahuan) itu mereka mndebatmu di hadapan Tuhanmu; mengapa kalian tidak menggunakan aqal?”]

[And when they meet those who believe they say: We believe, and when they are alone one with another they say: Do you talk to them of what Allah has disclosed to you that they may contend with you by this before your Lord? Do you not then understand?]

 

1). Cerita tentang tahrif nanti kembali diurai lebih rinci di ayat 79. Sementara ayat 76, 77, dan 78, melanjutkan apa yang sudah dibaas di ayat 75, yakni menyambungkan benang merah antara Bani Israil di satu pihak dan Nabi beserta kaum Muslim di pihak yang lain. Dengan demikian, jelas kelihatan, bahwa penceritaan panjang-lebar Bani Israil adalah sebagai ibrah (pelajaran) dan sekaligus peringatan kepada Nabi (pada saat itu) dan kaum Muslim (kapan saja) untuk berhati-hati dalam bersikap kepada mereka agar tidak salah di dalam mengambil sikap tersebut. Karena kesalahan dalam mengambil sikap akan berakibat fatal dan berjangka panjang. Ayat 76 ini mengungkap hubungan konspiratif antara orang-orang munafiq di sekitar Nabi dan Bani Israil. Maka bunyi ayat ini rada mirip dengan ayat 14 yang secara spesifik berbicara tentang orang-orang munafik: “Dan apabila mereka berjumpa orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman.’ Dan apabila mereka kembali kepada syaitan-syaitannya, mereka mengatakan: ‘Sungguh kami (tetap) bersama kalian, hanya saja kami memperolok-olok (mereka)’.” (2:14) Artinya, yang disebut orang munafiq selalu tidak bekerja sendirian. Ada pihak-pihak lain ‘dibelakang’ sana yang mengendalikannya, yang oleh 2:14 tadi disebut “syaitan-syaitannya”. Antara orang munafiq dan syaitan-syaitannya tersebut terjadi mutualisme simbiosis (saling menghidupi, saling mendukung kepentingan). Itu sebabnya al-Qur’an menggunakan redaksi بَعْضُهُمْ إِلَىَ بَعْضٍ (ba’dluɦum ilā ba’dlin, sebahagian mereka terhadap sebahagian yang lain).

 

 

2). Kali ini “syaitan-syaitannya” menggugat balik kawan mereka yang selalu berpakaian iman dan bergaul di tengah-tengah kaum Muslim, bahkan berhasil masuk ke lingkaran dekat Rasulullah. Para “syaitan-syaitannya” ini mencurigai mereka bercerita banyak dengan orang-orang Islam sehingga Nabi mengetahui banyak dan rinci tentang kejadian-kejadian masa lalu mereka. Di Surat al-Baqarah ini saja, sejauh ini sudah sekitar 34 ayat (terhitung dari ayat 40) yang bertutur tentang sejarah mereka bersama Nabi Musa as, dan kesemuanya berbicara soal prilaku negatif mereka terhadap Nabinya. Pertanyaan “Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah Allah ungkapkan kepadamu, sehingga dengan (pengetahuan) itu mereka mndebatmu di hadapan Tuhanmu?” menunjukkan bahwa mereka mengakui kebenaran kandungan dan narasai cerita tersebut. Gugatan tersebut mengindikasikan bahwa mereka telah kehabisan bahan dan terkunci dalam menghadapi argumen-argumen Rasulullah karena semua dalih dan alibi yang coba mereka bangun dengan mudah diruntuhkan melalui ayat-ayat yang turun kepada Nabi. Yang membuat mereka terkesima ialah pertanyaan renungan yang Allah tiba-tiba arahkan kepada kaum Muslim: Apakah kalian masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? Bagi mereka, pertanyaan ini adalah skak mati yang menutup pintu-pintu muslihat dan menggunting jerat mematikan yang selama ini mereka pasang di tengah-tengah kaum Muslim. Dan pertanyaan ini adalah kesimpulan dari cuplikan-cuplikan penting dari kisah perjalanan mereka bersama Musa dan Harun. Itu sebabnya mereka mulai mencurigai mitra kerja sama mereka. Karena mereka tidak pernah percaya kepada wahyu—bahkan sejak masih bersama Musa dulu—maka yang mereka pikir menyampaikan semua itu adalah kawan-kawannya sendiri. Mereka berpikir bahwa Nabi hanya mengulangi saja apa yang telah didengarnya dari kawan-kawan mereka tersebut.

 

 

3). Penggunaan frase بِمَا فَتَحَ اللّهُ عَلَيْكُمْ (bimā fatahallahu ‘alaykum, dengan apa yang telah Allah ungkapkan kepadamu) menjelaskan bahwa apa yang disampaikan Nabi kepada mereka itulah yang benar dari Allah; itulah yang asli. Dan sekaligus pengakuan bahwa apa yang ada pada mereka selama ini sudah mereka ubah, sudah mereka tahrif. Karena kata فَتَحَ اللّهُ (fatahallahu) bermakna harafiyah “Allah telah membuka”. Maksudnya bahwa Kitab Suci yang asli adalah kumpulan rahasia-rahasia yang telah Allah ungkapkan atau beberkan kepada manusia melalui nabi-Nya dalam bentuk pewahyuan, dimana tanpa pewahyuan tersebut manusia tidak akan pernah mengetahuinya dengan benar. “Dan semua kisah dari rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (11:120) Misalnya: “Demikian itu (adalah) di antara berita-berita yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) sambil mengatur tipu daya.” (12:102) Cuplikan kisah seperti ini membawa orang pada kesimpulan bahwa kalau adik mereka yang masih anak-anak saja mereka tega buang ke dalam sumur, apatah lagi orang lain; bahwa kalau ayahanda mereka yang seorang nabi saja berani mereka tipumuslihati, apa lagi orang lain.

 

 

4). Agama adalah argumen, hujjah. Ini diakui oleh Bani Israil. Dan pengakuan itu bisa dilihat melalui anak kalimat mereka sendiri: لِيُحَآجُّوكُم [li-yuhājjŭwkum, sehingga dengan (pengetahuan) itu mereka mndebatmu]. Kata يُحَآجُّو (yuhājjŭw) berarti “berhujjah” atau “berargumen”. Yaitu berdiskusi atau berdebat sambil membangun proposisi-proposisi untuk selanjutnya digunakan sebagai premis-premis. Menurut ilmu mantiq (logika), apabila premis-premis ini salah, maka mustahil menghasilkan kesimpulan (atau pengetahuan baru) yang benar. Apabila data-data sejarah telah diselewengkan, maka tidak mungkin membentuk premis yang benar darinya. Inilah yang membuat terkejut Bani Israil, karena premis-premis Nabi dalam berargumen dengan mereka selalu dibangun dari data-data sejarah yang akurat. Contoh lain beragama dengan hujjah atau argumentasi yang benar ialah Nabi Ibrahim versus Raja Namrut: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang (yaitu Namrut) yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberikan kepada orang itu kerajaan. (Yaitu) ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Dia (Namrut) berkata: ‘Saya (juga) dapat menghidupkan dan mematikan’. Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka (coba Anda) terbitkan dari barat.’ Lalu heran terdiamlah (Namrut yang) kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (2:258) Coba perhatikan bagaimana piawainya Nabi Ibrahim as membangun premis-premisnya sehingga mengunci upaya Namrut untuk membangun proposisi berikutnya. Yang terpenting dari sini ialah bahwa Allah mengajarkan kita satu prinsip agama yang teramat penting, yaitu bahwa hujjah harus dilawan dengan hujjah, dan bukan hujjah dilawan dengan kekerasan.

 

 

5). Ini ada satu hal yang lucu dari gugatan Bani Israil kepada kawan-kawan ‘seperjuangannya’. Di ujung kalimatnya, mereka mengatakan kepada kawan munafiqnya: أَفَلاَ تَعْقِلُونَ (afalā ta’qilŭwn, mengapa kalian tidak menggunakan aqal?). Ini pertanda bahwa “menggunakan aqal budi secara benar” adalah keinginan semua orang, termasuk orang yang menyusun kejahatan sekalipun. Jadi masalah pada semua orang sebetulnya bukan pada penting tidaknya menggunakan aqal, tapi pada jenis perbuatannya: kejahatan atau kebaikan. Maka kalau ada orang yang, dengan alasan agama, mewanti-wanti umatnya dalam menggunakan aqal, atau menyuruh jamaahnya meninggalkan pihak-pihak yang mengedapankan pentingnya penggunaan aqal, sungguh ini suatu kejahatan yang paling besar. Karena pelaku kejahatan sendiri pun berkata: أَفَلاَ تَعْقِلُونَ (afalā ta’qilŭwn, mengapa kalian tidak menggunakan aqal?) Ingat: manusia ialah HEWAN BER-AQAL. Jikalau BER-AQAL-nya dihilangkan, maka yang tersisa tinggal HEWAN-nya. Mohon maaf…!!!

 

 

AMALAN PRAKTIS

Anda perlu berhati-hati dalam bertindak. Tetapi Anda lebih perlu lagi berhati-hati dalam berfikir. Tindakan adalah cermin dari fikiran. Apabila fikiran salah maka tindakan juga pasti salah. Maka aturlah gerak langkah fikiran Anda menurut hukum-hukum berfikir yang benar. Dan azas fikiran yang paling utama dan terpenting ialah: non-kontradiksi (tidak boleh terjadi pertentangan antara satu buah fikiran dengan buah fikiran yang lain). Coba selalu merenungkan seluruh pengetahuan Anda, apakah melanggar azas ini atau tidak. Kalau melanggar, ucapkan: astaghfirullah secepatnya!!!

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply