Al-Baqarah ayat 75

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 9, 2011
0 Comments
1190 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 75

 

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُواْ لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

[Apakah kalian masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?]

[Do you then hope that they would believe in you, and a party from among them indeed used to hear the Word of Allah, then altered it after they had understood it, and they know (this).]

 

1). Telah dijelaskan sebelumnya bahwa mukjizat ternyata tidak berhasil merubah pandangan hidup Bani Israil. Jiwa mereka bahkan semakin mengeras, lebih keras dari batu. Penyebabnya, menurut informasi yang dibeberkan oleh ayat yang lain, karena mereka mendurhakai Khalifah Ilahi pilihan Allah buat mereka, setelah mereka sendiri berjanji setia untuk mengikuti dan menaatinya. “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian (selama kalian juga bersama pemimpin tersebut). (Maka) jika kalian benar-benar mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan membantu mereka dan kalian pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kalian akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus’. (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (5:12-13)

 

2). Setelah jiwa mereka keras membatu, dampak lanjutan dari keingkarannya kepada janji ilahi yang telah mereka ikrarkan berkenaan dengan Khalifah Ilahi tersebut ialah keberaniaannya men-tahrif firman-firman Allah. Menurut Wikipedia, “Tahrif (تحريف: ‘penyelewengan, pengubahan’) merupakan istilah Arab yang digunakan oleh (kaum) Muslim untuk perubahan yang tidak dapat diperbaiki lagi menurut tradisi [Islam] yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Kristen terhadap manuskrip-manuskrip Alkitab, terutama Taurat, Zabur, dan Injil.” Maktoob Dictionary mengartikan tahrif sebagai: distortion, misrepresentation, falsification, twist, garble, torture. Menurut al-Baghawiy, tahrif di sini bermakna: الاحكام من فيها ما يغيرون (yughayyirŭwna mā fiyɦa minal ahkām, merubah hukum-hukum yang telah Allah tetapkan melalui firman-Nya). Tahrif mempunyai dua bentuk: tahrif ma’nawi, yaitu merubah atau membelokkan makna tanpa merubah teks; dan tahrif lafzhi, yaitu menghilangkan, menambahkan, atau mengganti kata atau teks (lihat http://quran.al-islam.org/ yang juga mengutip dari Encyclopaedia Brittanica). Wikipedia mengutip Amin Ahsan Islahi yang menulis tentang empat jenis tahrif:

  1. Secara sengaja menginterpretasikan/menafsirkan sesuatu dalam arti yang sangat bertolak belakang dengan maksud penulis. Untuk mengganti ejaan suatu kata sedemikian rupa sehingga makna kata tersebut berubah sama sekali. Misalnya kata ‘مروه’ diganti menjadi ‘موره’ atau ‘موريا’.
  2. Menambahkan atau menghilangkan suatu kata atau kalimat sehingga mengubah makna sesungguhnya. Misalnya, menurut Islam, orang Yahudi mengubah kisah perjalanan Abraham sehingga tidak seorang pun yang dapat membuktikan bahwa Abraham memiliki hubungan dengan Ka’bah.
  3. Menerjemahkan sebuah kata yang memiliki makna ganda dengan makna yang sama sekali berlawanan dengan konteksnya. Misalnya kata Ibrani untuk “anak” juga dapat berarti “budak”.
  4. Mempertanyakan sesuatu yang sudah sangat jelas dengan maksud untuk menimbulkan pertanyaan mengenai hal tersebut, atau menggantinya sama sekali.

 

3). Ketika menceritakan perbuatan tahrif yang Bani Israil lakukan terhadap Kitab Suci, Allah menggunakan anak kalimat: مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ (mim ba’di mā ‘aqalŭwɦu, setelah mereka memahaminya). Kata “memahaminya” di sini adalah terjemahan dari kata Arabnya: عَقَلُوهُ (‘aqalŭwɦu), yang secara harafiyah berarti “meng-aqali-nya”. Bisa dipastikan bahwa makna sesungguhnya dari ayat ini ialah bahwa seluruh kandungan Kitab Suci itu—selama belum mengalami tahrif—selalu sejalan dengan aqal budi manusia. Sehingga bisa disimpulkan bahwa setiap hasil tahrif pasti dengan sendirinya tidak sejalan lagi dengan aqal budi manusia. Kasarnya, sudah tidak masuk aqal lagi. Dengan begitu, Kitab Suci sungguh tidak bisa difahami tanpa menggunakan aqal budi; sebagaimana aqal budi tidak akan sanggup mendaki dan mencapai puncak pencarian tanpa tuntunan Kitab Suci. Bani Israil sangat faham ini. Itu sebabnya, agar agama bisa mereka kendalikan sesuai dengan hawa nafsunya, mereka tahrif, mereka keluarkan dari istana rasionalitasnya.

 

 

4). Setelah jiwa Bani Israil keras membatu dan berani men-tahrif ayat-ayat dari Kitab Suci, Allah tiba-tiba datang dengan sebuah pertanyaan menggugah: Apakah kalian masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu...? Ini sangat menarik sebab sejauh ini Allah hanya menggunakan metode bertutur dan menggunakan kalimat-kalimat berita dalam menceritakan seluk-beluk perjalanan Bani Israil bersama Musa keluar dari Mesir. Hal menarik berikutnya ialah obyek dari pertanyaan tersebut; yakni menggunakan obyek jamak “kalian”.  Siapakah yang dimaksud “kalian” di sini? Tentu siapa saja yang mengimani al-Qur’an, dalam hal ini kaum Muslim. Artinya, melalui ayat ini, Allah memberikan early warning system (sistem peringatan dini) kepada kaum Muslim, terutama kepada para pemimpin dan ulama, yang langsung atau tidak langsung bergelut dengan kebijakan-kebijakan atau fatwa-fatwa yang berkenaan hubungan sosial dan politik, bilateral dan multilateral dengan Bani Israil ini, agar jangan lagi mau tertipu oleh mereka. Karena kalau nabinya saja mereka berani tipu, Kitab Suci mereka berani tahrif, saking keras kepalanya, lalau bagaimana mungkin menghrapakan mereka bersikap jujur dan empati kepada yang lain? Bukankah hari ini kita melihat bahwasanya merekalah—bersama sekutu-sekutunya—yang menempatkan diktator-diktator haus darah, koruptor-koruptor serakah, dan monster-monster berwajah demokrasi di tengah-tengah kaum Muslim, seraya mempersenjatai mereka dengan muslihat-muslihat bertema humanisme? Sekali lagi, wahai kaum Muslim, camkan sekali lagi pertanyaan Tuhan kalian ini: Apakah kalian masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kitab Suci datang sambung menyambung. Membawa kebenaran kepada manusia. Yang terakhir adalah al-Qur’an, yang berbicara paling banyak tentang Bani Israil dan Fir’aun dari Mesir. Dan apa yang terceritakan kembali dalam al-Qur’an, menunjukkan bahwa kebenaran itu akan selalu hiudp dan aktual. Sehingga kisah Bani Israil ini tentu bukan untuk diterima sebagai dongeng belaka, tapi sebagai podoman untuk bersikap dan bertindak di masa sekarang. Maka, kalau Anda ingin selamat dalam pemihakan, gunakan ayat-ayat ini sebagai kaca mata untuk melihat realitas yang terjadi di sekitar Anda.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply