Al-Baqarah ayat 74

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 8, 2011
0 Comments
1064 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 74

 

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاء وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

[Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal sungguh di antara batu-batu itu ada yang daripadanya mengalir sungai-sungai, ada yang terbelah sehingga memancar mata air daripadanya, juga diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh  karena takut kepada (hukum) Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan.]

[Then your hearts hardened after that, so that they were like rocks, rather worse in hardness; and surely there are some rocks from which streams burst forth, and surely there are some of them which split asunder so water issues out of them, and surely there are some of them which fall down for fear of Allah, and Allah is not at all heedless of what you do.]

 

1). Sebagai manusia normal, seharusnya tiap usai menyaksikan peristiwa yang menakjubkan, tiap itu juga mempengaruhi jiwa dan cara pandang kita terhadap kehidupan. Apalagi jika peristiwa seperti itu sudah terjadi berkali-kali. Selayaknya sudah merubah dan memperbaiki world view (pandangan dunia) kita, dari yang duniawi menjadi ukhrawi; dari yang material menjadi spiritual; dari yang birahi menjadi ilahi. Tetapi bgaimana dengan Bani Israil? Ternyata tidak. Setelah menyaksikan dengan mata kepala bagaimana seseorang di antara mereka yang sudah meninggal dihidupkan kembali dengan begitu mudahnya, tetapi jiwa-jiwa mereka alih-alih menjadi lembut dan humanis, malah semakin keras, lebih keras dari batu sekalipun. Padahal sejauh ini, Bani Israil telah menyaksikan 9 (sembilan) mukjizat Nabi Musa. Artinya sudah sembilan kali mereka melihat langsung keterlibatan Tuhan dalam kehidupan mereka. “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir`aun berkata kepadanya: ‘Aku benar-benar yakin, wahai Musa, bahwasanya kamu terkena sihir’.” (17:101) Kesembilan mukjizat tersebut ialah:

  1. Tongkat Musa menjadi ular besar.
  2. Cahaya yang keluar dari telapak tangan Musa.
  3. Terbelahnya Laut Merah.
  4. Memancarnya 12 mata air dari batu.
  5. Makanan manna dan salwa yang turun dari langit.
  6. Gumpalan awan yang terus menaungi perjalanan mereka.
  7. Gunung yang diangkat di atas kepala mereka.
  8. Pelanggar Hari Sabtu yang berubah menjadi kera yang hina.
  9. Orang mati yang hidup kembali.

Ini pertanda bahwa bagi jiwa yang tertutup, mukjizat tidak banyak pengaruhnya. Setelah menyaksikan mukjizat, Fir’aun malah balik menuding Musa yang kena sihir. Kemarahannya bahkan memuncak usai menyaksikan sendiri bagaimana tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular dan memangsa ular-ular tukang sihir yang dia sendiri kumpulkan dari seluruh penjuru negeri. “Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur sujud, seraya berkata: ‘Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa’. (Tetapi) Fir`aun berkata: ‘Apakah kalian telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepada kalian? Sesungguhnya dia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya’.” (20:70-71) Hal yang sama terjadi pada tokoh kafir Quraisy setelah menyaksikan sendiri—dan atas permintaan mereka sendiri—mukjizat Nabi Muhammad saw membelah bulan. “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: ‘(Ini adalah) sihir yang berketerusan’. Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.” (54:1-3)

 

2). Ketika berbicara tentang kaum munafiq, al-Qur’an menyebut mereka sebagai orang-orang yang di dalam jiwanya ada penyakit yang terus bertambah dan bertambah (2:10). Di ayat 74 ini al-Qur’an menyebut Bani Israil memiliki jiwa yang terus bertambah keras justru setelah menyaksikan mukjizat demi mekjizat. Seakan tiap mukjizat, bukannya melembutkan jiwa mereka, tapi membuatnya kian keras. Di sini digambarkan lebih keras dari batu. Sebab sekeras-kerasnya batu tetap bisa berlapang dada memberi jalan terbentuknya sungai-sungai, juga bisa membelah diri demi terpancarnya mata air-mata air, bahkan jika diletakkan di tempat yang tinggi batu-batu tersebut akan menggelinding ke bawah mengikuti sunnatullah (hukum gravitasi bumi). Dan semua ‘kepatuhan’ batu tersebut telah mereka saksikan sendiri sepanjang perjalanannya bersama Musa dan Harun. Namun, jiwa Bani Israil tidak demikian adanya. Hingga sejauh ini mereka tetap menganggap Allah itu hanya sebagai Tuhannya Musa dan bukan Tuhan mereka. Semua keinginannya minta dipenuhi secara kontan, tetapi sebaliknya tak satupun permintaan Musa yang mereka penuhi. Ketika mereka diminta memasuki suatu nagari secara damai melalui pintunya yang benar sambil bersujud, mereka balik meminta Musa dan Harun berdua memerangi penduduk nagari tersebut, sedangkan mereka duduk-duduk saja sambil menunggu hasil; dan setelah penduduknya enyah barulah mereka mau masuk (baca kembali pembahasan 2:58-59). Menurut akal sehat, tiap terjadi peristiwa luar biasa, manusia seyogyanya datang bersimpuh di hadapan Allah yang berada di balik semua kejadian itu. “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka; bahkan (sebaliknya) jiwa mereka kian menjadi keras, sehingga syaitanpun menjadikan indah (perbuatan buruk) yang selalu mereka kerjakan.” (6:43)

 

3). Ayat ini ditutup dengan kalimat peringatan: “Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan”. Perbuatan manusia ada dua macam: perbuatan lahir dan perbuatan batin. Perbuatan lahir adalah perbuatan yang dilakukan oleh bagian-bagian tubuh, sedangkan perbuatan batin adalah perbuatan yang ‘dilakukan’ oleh jiwa. Sehingga apa saja yang tercetus di dalam jiwa, bahkan watak dan karakter  yang mensifati jiwapun Allah tahu. Nabi Isa as berkata kepada Allah: “… Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (5:116) Di tempat lain Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kamilah yang menciptakan manusia dan (karenanya Kami) mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada (jarak di antara dua) urat lehernya.” (50:16) Dengan demikian sikap jiwa sekalipun—yang mengeras seperti batu tadi—Allah tahu. Tidak ada tempat untuk lari dan bersembunyi dari pengetahuan-Nya. Termasuk tidak bisa menyembunyikan watak dan karakter kita sendiri. Dan pada saatnya Allah akan menampakkannya di wajah kita dan dalam bentuk perbuatan kita.

 

AMALAN PRAKTIS

Pengendali seluruh perbuatan manusia adalah jiwanya. Maka kalau jiwanya baik maka baiklah perbuatan manusia itu. Tetapi manakala jiwanya rusak, maka rusaklah perangai orang tersebut. Dan jiwa, ternyata bisa mengeras seperti batu, bahkan lebih keras lagi dari batu. Sesiapa yang jiwanya keras seperti batu maka menjadi keras kepalalah dia. Maka berhati-hatilah dengan jiwa Anda. Berusahalah melembutkannya dengan memaksanya mematuhi hukum-hukum Allah. Jangan pernah membiarkan jiwa Anda meremehkan hukum-hukum-Nya, karena itulah awal dari mengerasnya jiwa.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply