Al-Baqarah ayat 73

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 8, 2011
0 Comments
1117 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 73

 

فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِي اللّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

[Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian (anggota tubuh) sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya, semoga kalian menggunakan aqal.]

[So We said: Strike the (dead body) with part of the (Sacrificed cow), thus Allah brings the dead to life, and He shows you His signs so that you may understand.]

 

1). Sapi betina telah disembelih. Saatnya Allah mendemonstrasikan dua prinsip iman yang sangat penting: Iman kepada Allah, dan Iman kepada Hari Kebangkitan (Akhirat). Caranya, “Pukullah mayat itu dengan sebahagian (anggota tubuh) sapi betina itu!” Apa yang terjadi kemudian? Bukan sihir bukan sulap, mayat yang menjadi korban pembunuhan dengan serta-merta hidup kembali seperti manusia normal lainnya. Bani Israil tercengang luar biasa. Mata mereka memandang terbelalak. Serasa berada di awan-awan. Serasa dalam mimpi. Tetapi itu fakta. Itu realita. Itu bukan ilusi. Sekarang pelaku pembunuhan tidak bisa lagi bersembunyi di balik dalih-dalih, alibi-alibi, dan kilah-kilah. Tuduh-menuduh sontak terhenti. Pertumpahan darah tidak terjadi. Badai fitnah yang nyaris membinasakan wangsa Bani Israil kontan reda. Mereka semua bungkam seribu bahasa. Berdiri terkesima dan terpana, menyaksikan pemandangan yang sulit dipercaya. Pelaku pembunuhan langsung ditemukan karena ditunjuk sendiri oleh korban, mantan mayat yang kini hidup kembali.

 

2). Allah berfirman: “Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.” Artinya, melalui kejadian luar biasa ini Allah hendak memperlihatkan kepada Bani Israil bahwa ajakan Nabi Musa untuk mengimani Hari Kebangkitan adalah sesuatu yang sangat beralasan. Bahwa ternyata, bagi Allah, menghidupkan orang yang sudah mati begitu mudahnya. Bahwa menghimpun sari-sari kehidupan dari dalam tanah untuk kemudian diekstraksi menjadi unsur-unsur elementer kehidupan, menjadi sperma dan ovum, untuk selanjutnya menjadi kreasi baru yang bernama manusia, begitu mudahnya bagi Allah, bukankah lebih mudah lagi kalau hanya menghidupkan kembali yang memang sebelumnya sudah ada? “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). Kemudian menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya. Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (75:36-40) Ada dua kaidah utama yang Allah hendak ungkapkan di balik adanya Hari Kebangkitan ini: pertanggungjawaban, dan kehidupan abadi. Pertanggungjawaban bermakna, bahwa di dunia ini manusia harus berhati-hati tiap kali akan memilih dan melakukan suatu perbuatan, karena seluruh sepak terjangnya kelak akan dimintai alasan dan argumennya. Dan pada saat itu, pihak lain yang menjadi korban dari perbuatan tersebut akan didatangkan; bagian-bagian tubuh yang kita gunakan untuk melakukan perbuatan itu juga bersaksi. “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; lalu bertuturlah kepada Kami tangan mereka dan bersaksilah kaki mereka terhadap apa yang dahulu (di dunia) mereka usahakan.” (36:65) Sedangkan kehidupan abadi bermakna, bahwa kebahagiaan dan penderitaan di sana sifatnya abadi. Siapa yang masuk ke dalam surga, dia akan merasakan hidup bahagia selamanya. Dan siapa yang masuk ke dalam neraka, dia juga akan merasakan derita hidup yang tak berakhir. “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (98:6-8)

 

3). “Dan (demikian juga Allah) memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya.” Ini prinsip iman yang kedua. Yaitu beriman kepada Allah. Bahwa dengan hidupnya kembali manusia yang jelas-jelas sudah mati, memperlihatkan alamat adanya Pemilik Kekuasaan di balik kerajaan langit dan bumi beserta hukum-hukum alam yang mengaturnya. Bahwa makna Kekuasaan yang ada di tangan Pemilik Kekuasaan itu ialah kemampuannya bertindak tanpa sebab-musabab. Tindakan-Nya sepenuhnya hanya ditentukan oleh Kehendak atau Iradat-Nya yang mandiri, yang tak disebabkan oleh apapun di luar diri-Nya. Sebenar-benar iman kepada Allah ialah menemukan nisbah yang sempurna antara terapan Kekuasaan baik di alam empirik (syahadah) ataupun di alam metaempirik (ghaib) dan Pemilik Kekuasaan itu. Harapannya, melalui kejadian yang luar biasa tersebut, Bani Israil tersadar dan memiliki ma’rifah  (pengetahuan yang sempurna) tentang Allah sebagai Pemilik Kekuasaan satu-satunya. Iman akan (pertanggungjawaban di) akhirat tak terpisahkan dengan Iman kepada Allah ini. Karena tercatat dan terekamnya secara total dan akurat seluruh sepak terjang kita di dunia ini adalah berkat Kemahakuasaan-Nya yang meliputi dan menjangkau segala sesuatu. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (6:59)

 

4). Ayat ini ditutup dengan sebuah harapan: لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (la’allakum ta’qilŭwn, semoga kalian menggunakan aqal). Bahwa walaupun ini adalah sebuah peristiwa adialami, tetapi bukan berarti harus diterma begitu saja. Allah bahkan berharap, dengan hidupnya kembali orang yang sudah mati ini, memantik keinginan manusia untuk berfikir, untuk mengaktifisir aqal-budinya. Sehingga pada akhirnya bisa menerangkan secara rasional kejadian tersebut. Karena hanya kemampuan menjelaskan secara rasional inilah yang mengindikasikan seseorang telah mencapai derajat ma’rifah (pengetahuan yang sempurna) kepada Allah, Sang Pemilik Kekuasaan mutlak. Bahwa ma’rifah tidak boleh berhenti pada sekedar ilmu, tapi harus sekaligus ‘merasakan’ kehadiran-Nya, bahkan menyatu dengan-Nya, itu betul. Tetapi kalau yang bersangkutan benar-benar telah ‘merasakan’ kehadiran-Nya secara obyektif—tanpa tipuan-tipuan perasaan subyektif yang dipengaruhi oleh hawa nafsu—lalu bagaimana dia menerangkan kepada orang lain makna ‘perasaan’ tersebut tanpa bias emosional? Bila keadaan ini tidak tercapai, sangat mungkin muncul orang-orang tidak bertanggungjawab menggunakan bahasa ‘ma’rifah’ untuk menipu dan menyesatkan orang lain, misalnya dengan mengaku wali atau nabi.

 

AMALAN PRAKTIS

Untuk mengimani Hari Kebangkitan tidak harus menyaksikan orang mati hidup kembali. Setiap saat kita menyaksikan bayi yang lahir. Setiap saat kita menyaksikan tanah yang kering-kerontang mengeluarkan tumbuhan hijau dan hewan kecil setelah tertimpa hujun beberapa kali. Kebangkitan di Akhirat jauh lebih mudah dari semua itu. Karena kerja membangkitkan jauh lebih gampang ketimbang menciptakan dari tidak ada menjadi ada. Maka yakinlah, siapa pun Anda, pasti kelak akan dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan semuanya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply