Al-Baqarah ayat 72

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 6, 2011
1 Comment
1829 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 72

 

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْساً فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا وَاللّهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ

[Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seseorang lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.]

[And when you killed a man, then you disagreed with respect to that, and Allah was to bring forth that which you were going to hide.]

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang keduabelas. Di saat yang bersamaan dengan turunnya perintah penyembelihan sapi betina, ada kasus yang tidak kalah menarik dan membahayakannya. Yaitu salah seorang dari Bani Israil terbunuh secara misterius. Dan tidak ada seorangpun yang mengaku sebagai pembunuhnya. Mereka kemudian tunjuk-menunjuk, tuduh-menuduh, usut-mengusut. Diantara marga-marga saling bersitegang. Perang saudara antar marga kini berada di ambang pintu. Kedaan ini tentu membahayakan, karena mereka adalah suatu masyarakat yang secara sosiologis dan politis masih sangat rapuh. Mereka baru merdeka dari penjajahan dan represi mesin politik Fir’aun. Mereka baru bangkit dari puing-puing perbudakan dan penindasan. Dan mereka coba melakukan semua itu dalam pelarian dan pertualangan; secara psikologis tentu mereka kelelahan dan berada dalam kebosanan—seperti yang mereka tunjukkan di ayat 61. Masyarakat seperti ini tentu sangat sensitif terhadap isu-isu internal. Dalam masyarakat yang bersifat komunalistik, pembunuhan salah seorang dari anggota suatu marga biasanya dipersepsi sebagai penghinaan terhadap marga secara keseluruhan. Seluruh anggota marga harus bangkit untuk menuntut darah saudaranya. Nabi Musa tentu tidak berdiam diri menyaksikan fenomena. Dan berhasil mengatasinya melalui pendekatan ilahiahnya, seperti yang selama ini dia lakukan dalam menghadapi ke-ngeyel-an mereka. Karena pendekatan Musa berhasil menghindarkan mereka dari perang saudara yang bisa membinasakan wangsa Bani Israil, Allah meminta mereka untuk selalu mengingat peristiwa ini. Artinya, kalau bukan berkat campur tangan Allah, wangsa mereka sudah musnah sejak itu.

 

2). Di ayat yang lalu, ketika Allah menerangkan jenis sapi betina yang Bani Israil harus sembelih, al-Qur’an menggunakan kata مُسَلَّمَةٌ (musallamah) untuk pengerian “tidak bercacat”. Kata ini hanya kita temukan 3 (tiga) kali dalam al-Qur’an. Satu di Surat al-Baqarah (2) ayat 71, dua di Surat an-Nisa’ (4) ayat 92. Menariknya, ketiga-tiganya berkaitan dengan pembunuhan. Di Surat al-Baqarah, berkaitan dengan sapi betina yang “tidak bercacat” yang harus disembelih, yang diantara peruntukannya nanti ialah untuk mengungkap pelaku pembunuhan yang telah disebutkan di poin1. Sedangkan di Surat an-Nisa’, keduanya berkaitan dengan diyat (denda atau ganti rugi) yang harus dibayar oleh pelaku pembunuhan. Yaitu diyat-nya harus مُسَلَّمَةٌ (musallamah), dalam pengertian “sepadan” dengan kerugian yang diderita oleh keluarga korban (yang terbunuh). Sehingga keluarga korban tidak ‘merasa’ dirugikan dalam kasus tersebut. “Dan tidak layak bagi seorang mu’min membunuh seorang mu’min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mu’min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat (denda) yang sepadan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu’min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diyat (denda) yang sepadan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (4:92)

 

3). Kata نَفْساً (nafsan) sebetulnya tidak sepenuhnya benar kalau diterjemahkan dengan “seseorang”. Karena al-Qur’an sendiri sudah mendefenisikan kata نَفْس (nafs) dengan caranya sendiri. “Demi NAFS (jiwa) dan apa-apa yang  menyempurnakan (kejadian)-nya. Maka Allah mengilhamkan kepada NAFS itu (dua potensi), (yaitu potensi yang akan membawanya kepada) kerusakannya dan (potensi yang akan membawanya kepada) ketakwaannya.” (91:7-8) Jadi نَفْس (nafs) adalah unsur paling penting pada manusia, karena kedua potensi yang ada padanya itulah yang menyebabkan manusia memiliki kehendak bebas. Yaitu bebas memilih antara perbuatan yang mengantarkannya kepada ketakwaan atau yang mengantarkannya kepada kerusakan dirinya; antara perbuatan yang mengantarkannya kepada kebahagiaan atau yang mengantarkannya kepada penderitaan. Kedua potensi—dasar utama adanya kehendak bebas—ini tidak ada pada jenis hewan manapun. Dengan demikian saat Allah mengatakan “ketika kamu membunuh seseorang”, sebetulnya mempunyai maksud yang luar biasa; Allah bermaksud mengatakan bahwa membunuh seseorang sama dengan membunuh hakikat diri manusia yang di dalamnya terkandung nilai kemuliaannya yang melebihi makhluk manapun. Atas dasar inilah sehingga Allah mengatakan kepada Bani Israil: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: sesiapa yang membunuh seseorang (manusia), bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan sesiapa yang menyelamatkan kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah menyelamatkan kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” (5:32)

 

4). Allah Maha Mengetahui. Allah Maha Melihat. Allah Maha Mendengar. Allah tidak pernah lalai dari apapun yang manusia perbuat. Manusia bisa membuat dalih-dalih, alibi-alibi, kilah-kilah dengan memanfaatkan kelemahan manusia atau celah-celah hukum untuk menyembunyikan perbuatan tipu muslihatnya. Tetapi mereka tidak bisa lari dan bersembunyi dari ke-Maha-an Allah. Bani Israil bisa membunuh saudara sewangsanya sendiri dan menghilangkan jejak-jejak pembunuhan itu, entah untuk kepuasan hawa nafsunya sendiri, entah untuk melakukan provokasi agar perang saudara meletus. Entahlah. Namun Allah mengatakan: “Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan”. Ini petunjuk yang sangat jelas bahwa semua jenis perbuatan manusia, lahir dan batin, serapih dan sehalus apapun, tercatat di sisi-Nya, tercatat di sebuah Kitab Induk. Dan tak seorang pun yang bisa mengelak dari akurasi rekaman itu. “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (36:12) “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.” (78:29) Semua isi Buku Induk ini pada saatnya nanti (di akhirat) akan dibeberkan kepada manusia. “Sesiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (catatan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia (juga) akan melihat (catatan)-nya.” (99:7-8)

 

AMALAN PRAKTIS

Iman ialah samanya pengetahuan dan sikap. Betapa banyak diantara kita yang mengetahui dengan sungguh-sungguh bahawa kita akan mati untuk dibangkitkan kembali, tetapi hanya sedikit sekali yang sungguh-sungguh mempersiapkan diri menuju ke sana. Semua manusia yang percaya akan adanya Tuhan mengetahui bahwa Tuhan itu Maha Mngetahui, tetapi hanya sedikit sekali yang berhati-hati dengan perbuatannya dari ke-Mahatahuan-Nya. Maka, “wahai orang beriman, berimanlah…” (4:136, 57:28)

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply