Al-Baqarah ayat 71

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 5, 2011
0 Comments
938 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 71

 

قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَّ ذَلُولٌ تُثِيرُ الأَرْضَ وَلاَ تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لاَّ شِيَةَ فِيهَا قَالُواْ الآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُواْ يَفْعَلُونَ

[Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.]

[Musa said: He says, Surely she is a cow not made submissive that she should plough the land, nor does she irrigate the tilth; sound, without a blemish in her. They said: Now you have brought the truth; so they sacrificed her, though they had not the mind to do (it).]

 

1). Di ayat 68 dan 69, antara permintaan ke-JELASA-an prihal sapi betina dan jawaban Allah atas permintaan tersebut digabung ke dalam satu ayat. Tetapi permintaan mereka yang terakhir, tentang مَا هِيَ (mā ɦiya, sapi betina apa) yang kedua, agak berbeda. Pertanyaan ke-JELAS-annya diletakkan di ayat 70 sementara jawabannya di tempatkan berdiri sendiri di ayat 71. Maka ayat 71 ini adalah jawaban Allah terhadap pertanyaan tentang مَا هِيَ (mā ɦiya, sapi betina apa). Pertanyaan مَا هِيَ (mā ɦiya, sapi betina apa) yang pertama, Allah jawab dengan mengungkap kepastian usia sapi betina tersebut—yaitu tidak tua dan tidak muda. Sedangkan pertanyaan مَا هِيَ (mā ɦiya, sapi betina apa) yang kedua, Allah jawab dengan menerangkan kondisi dan keadaan tubuh sapi betina tersebut. Yaitu: sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.

 

2). Apa yang dimaksud dengan “sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman”? Sebelum teknologi mengalami kemajuan seperti sekarang, pengelolaan lahan-lahan pertanian dan beberapa jenis industri berbasis tanah liat, sangat tergantung pada bantuan tenaga hewan ternak. Dan sapi adalah salah satu jenis ternak yang paling populer untuk itu. Sapi digunakan untuk menggemburkan dan mengairi tanah-tanah persawahan sebelum ditanami bibit tanaman. Sapi juga digunakan untuk meliatkan jenis lumpur tertentu untuk diolah menjadi bahan bangunan (seperti batu bata, genteng, dan porselin) serta berbagai jenis tembikar untuk hiasan dan peralatan masak-memasak. Jenis sapi betina yang Allah perintahkan Bani Israil untuk disembelih ialah sapi betina yang masih ‘perawan’, dalam pengertian belum pernah digunakan tenaganya untuk kegiatan-kegiatan pertanian dan industri seperti itu. Biasanya sapi betina ‘perawan’ seperti ini adalah yang tubuhnya memang dianggap subur dan potensial untuk dikembangbiakkan dan diperah susunya. Sapi betina jenis ini sangat dimanjakan karena nilai ekonomisnya paling tinggi, lebih tinggi dari sapi jantan yang paling besar sekalipun. Pada masanya, sapi betina jenis inilah yang menjadi instrumen investasi nomor wahid, sehingga melekat padanya simbol-simbol kapitalisme, materialisme dan konsumerisme—tiga unsur utama pembentuk doktrin trinitas nafas kehidupan Bani Israil. “Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (36:72-73)

 

3). Ciri berikutnya ialah “tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Penjelasan tentang usia serumpun dengan penjelasan tentang kondisi dan keadaan tubuh; yaitu sama-sama berbicara masalah logika produktivitas dan nilai ekonomis yang dikandungnya. Sedangkan penjelasan tentang warna serumpun dengan penjelasan tentang “mulus (tidak bercacat) serta tidak belang”, yaitu sama-sama berbicara soal kesempurnaan kulit dan teksturnya, serta nilai estetika yang ditampilkannya. Apabila kita kumpulkan informasi yang kita dapat sebelumnya—usia pertengahan, warna kulitnya kuning emas, tidak pernah digunakan membajak tanah dan mengairi tanaman—bersama dengan informasi terakhir ini (tidak bercacat, tidak ada belangnya), maka niscaya yang kita peroleh adalah jenis sapi yang paling sempurna. Jenis sapi yang bernilai paling tinggi dan dikagumi oleh semua orang. Simbol dari materialisme sejati. Yang oleh Samiri diekspresikan dalam bentuk الْعِجْل (al-‘ijl, patung anak lembu yang terbuat dari emas dan mengeluarkan suara melalui teknik pembuatannya). Inilah simbol kesenangan duniawi. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (3:14)

 

4). Setelah semuanya jelas hingga tidak terbuka lagi celah buat pertanyaan berikutnya, maka berkatalah Bani Israil: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang benar.” Di sini al-Qur’an melalui lisan Bani Israil menyebut penjelasan yang sempurna—saking sempurnanya sehingga tidak mungkin lagi memantik pertanyaan selanjutnya—dengan kata الْحَقِّ (al-haqq, kebenaran). Dari sini kita lihat bahwa pertanyaan مَا هِيَ (mā ɦiya) adalah suatu bentuk pertanyaan yang jawabannya menyingkap hakikat sesuatu sehingga sesuatu tersebut tidak menyisakan ruang keraguaan sedikitpun. Jawaban atas مَا هِيَ (mā ɦiya) ini bersifat ‘menjerat’ penanyanya yang menyebabkan yang bersangkutan tidak lagi menemukan jalan untuk lari. Ini menunjukkan bahwa sebetulnya tidak ada pertanyaan yang tidak memiliki jawaban, selama pertanyaan itu sendiri benar; karena hanya pertanyaan yang benarlah kiranya yang juga memiliki jawaban yang benar. Itu sebabnya Allah menyuruh hamba-Nya untuk (selalu) bertanya kepada ahlinya: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (16:43, lihat juga 21:7). Karena hanya ahli dari yang subyek yang ditanyakan itulah yang bisa memberikan jawaban yang benar. Dari sini kita disadarkan bahwa pertanyaan adalah jantung ilmu pengetahuan. Sehingga membungkam pertanyaan (atau semangat bertanya)—siapapun yang melakukannya—adalah suatu tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Penolakan terhadap jawaban مَا هِيَ (mā ɦiya) tinggal disebabkan oleh satu hal: keras kepala atau kepala batu; dan inilah awal terjadinya kekufuran—yaitu penolakan (atau menutup diri) terhadap kebenaran.

 

5). “Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” Kalimat penutup ini mengisyaratkan bahwa sedari awal Bani Israil memang berniat untuk menghindari perintah tadi. Kalau kemudian ‘terpaksa’ menyembelih sapi betina tersebut, itu semata karena sudah kehabisan akal untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikutnya, karena setiap jawaban atas pertanyaannya selalu bersifat ‘mengikat’ diri mereka sendiri. Kendati demikian, hikmah besar yang bisa kita ambil dari sini ialah bahwa puncak dari seluruh pertanyaan, puncak dari seluruh jawaban, puncak dari ilmu ilahi, adalah ketaatan dalam melakasnakan perintah ilahi, bagaimanapun tidak berkenannya isi perintah tersebut di hati. Karena jawaban-Nya adalah Kebenaran tu sendiri.

 

AMALAN PRAKTIS

Anda sebaiknya ‘berani’ mempertanyakan apa saja dalam agama. Kalau guru yang pertama keberatan atas pertanyaan Anda, maka pindahlah ke guru berikutnya. Selama niat Anda baik, Insya Allah, kelak Anda akan tertuntun menemukan jawabannya yang benar. Tugas Anda selanjutnya: melaksanakan isi jawaban tersebut. Kalau tidak siap melakasnakannya, coba pertanyakan kembali niat Anda untuk bertanya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply