Al-Baqarah ayat 70

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 3, 2011
0 Comments
1123 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 70

 

قَالُواْ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ البَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاء اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

[Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, (karena) sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah benar-benar akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”]

[They said: Call on your Lord for our sake to make it plain to us what she is, for surely to us the cows are all alike, and if Allah please we shall surely be ed aright.]

 

1). Bukti bahwa materialismelah yang membuat Bani Israil enggan melaksanakan perintah Allah dan bukan ketidakjelasan perintah tersebut, ialah bahwa mereka sekarang masih datang dengan gaya bahasa yang sama: “Mohonkanlah kepada Tuhan-mu untuk kami”. Dalam rentetan ayat-ayat tentang sapi betina, ini adalah permintaan mereka yang ketiga. Cuma, sekarang isi permintaannya kembali seperti pada permintaan yang pertama. Yaitu meminta ke-JELAS-an tentang مَا هِيَ (mā ɦiya, sapi betina apa), yakni ke-apa-an atau what-ness atau hakikat dari sapi betina tersebut. Kalau sebelumnya مَا هِيَ (mā ɦiya, sapi betina apa) yang mereka inginkan ialah ditilik dari sisi usia dan besaran, kini ditilik dari sisi yang lain. Bagi mereka, penjelasan Tuhan soal مَا هِيَ (mā ɦiya, sapi betina apa) belum sepenuhnya terjawab. Mereka meminta kepada Nabi Musa agar Tuhan sudi menerangkan lebih lanjut masalah مَا هِيَ (mā ɦiya, sapi betina apa) ini. Karena, baginya, usia belum mewakili jawaban menyeluruh atas مَا هِيَ (mā ɦiya, sapi betina apa) tersebut. Sehingga kepastian sapi betina yang dimaksud, belum tuntas; masih mengandung keraguan dan samar.

 

2). Ketika menyebutkan alasan permintaan ke-JELAS-an berikutnya, mereka berargumen: إِنَّ البَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا (innal-baqara tasyābaɦa ‘alaynā, sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami). Kata “samar” di sini terjemahan dari kata تَشَابَهَ (tasyābaɦa), yang seasal kata dengan مُتَشَابِهَاتٌ (mutasyābiɦāt)—yaitu satu jenis ayat-ayat al-Qur’an selain jenis yang lain yang bernama مُّحْكَمَاتٌ (muhkamāt). Artinya, dari permintaan ke-JELAS-an Bani Israil soal sapi yang masih samar ini, bisa difahami bahwasanya ayat-ayat مُتَشَابِهَاتٌ (mutasyābiɦāt) hanya bisa didekati secara benar melalui pertanyaan مَا هِيَ (mā ɦiya), pertanyaan yang meminta jawaban soal hakikat dari kandungan ayat tersebut. Dengan begitu ayat-ayat مُتَشَابِهَاتٌ (mutasyābiɦāt) tidak bisa difahami langsung dari apa yang tertulis atau yang tersurat, tetapi harus mengkajinya lebih kedalam. Semakin jauh kedalam kajian tersebut semakin jelas jawaban yang diperoleh. Dan supaya kajian yang mendalam itu tidak menjadi liar, maka harus disandarkan kepada ayat-ayat yang مُّحْكَمَاتٌ (muhkamāt). Jadi bagi Bani Israil, sapi yang diperintahkan kepadanya untuk disembelih itu masih merupakan ‘ayat’ مُتَشَابِهَاتٌ (mutasyābiɦāt), sehingga masih membutuhkan penjelasan lebih jauh.

 

3). Bani Israil berjanji bahwa manakala pertanyaan مَا هِيَ (mā ɦiya)-nya kali ini terjawab, mereka benar-benar sudah akan mendapatkan petunjuk; yaitu sapi tersebut sudah akan menjadi jelas baginya. Bukti janjinya mereka ungkapkan dalam bentuk إِن شَاء اللَّهُ (in syā-al-lah, jika Allah menghendaki), yang merupakan ungkapan kerendahan dan ketidakberdayaan di hadapan Allah dalam menghadapi kejadia-kejadian (sekecil apapun) di masa mendatang. Yang juga skaligus menunjukkan bahwa tidak ada satupun makhluq Allah yang mampu melampaui, apalagi mengalahkan, kehendak-Nya. Apabila Dia berkehendak—dalam pengertian شَاء (syā-a)—maka tidak akan ada yang sanggup menghentikannya. “Dan Kami telah turunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya, dan batu ujian (tola ukur) terhadap (kebenaran) kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kalian melalui pemberian-Nya kepadamu; maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kalian semuanya (kelak akan) kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kalian perselisihkan itu.” (5:48) Di sini kita lihat bahwa perbuatan uniformisasi (penyeragaman) pendapat, agama, dan keyakinan adalah mustahil, karena memang ternyata Allah menghendaki agar manusia menggunakan segenap kemampuannya untuk memilih. Maka menggunakan segenap kemampuan itu untuk (menemukan) Kebenaran adalah ujian terbesar bagi manusia. Itulah sebabnya, melalui para nabi dan orang-orang saleh, Allah mengajari kita bersikap rendah hati dan ‘tak berdaya’ di hadapan-Nya, agar apa yang kita kehendaki tidak tercegat oleh kehendak-Nya. Berikut adalah percakapan nabi Musa dan Nabi Syu’aib: “Berkatalah dia (Syu`aib): ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua putriku ini, dengan mahar kamu bekerja denganku delapan tahun, dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik’.” (28:27) Itu sebabnya, Allah melarang kita berbicara dengan bersikap melampaui-Nya: “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi. Kecuali (dengan menyebut): ‘Insya-Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini’.” (18:23-24)

 

4). Bani Israil kini menyadari semua itu. Mereka berfikir, lari dari perintah adalah perbuatan sia-sia. Melawan perintah sama dengan melawan kehendak-Nya. Maka mereka berjanji kepada Nabi Musa bahwa jika pertanyaannya kali ini terjawab:  إِن شَاء اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ (in syā-al-lah lamuɦtadŭwn, kami insya Allah benar-benar akan mendapat petunjuk). Yaitu petunjuk untuk melaksanakan perintah tersebut—dalam hal ini menyembelih sapi betina yang Allah perintahkan. Jawaban Bani Israil ini membuka satu rahasia penting bagi kita, bahwa petunjuk Allah—terutama dalam hal kemudahan menunaikan perintah-perintah keagamaan—akan datang bersamaan dengan sikap rendah hati dan ketidakberdayaan seseorang di hadapan-Nya. Apabila ada sedikit saja kecongkakan, kesombongan, kelancangan terhadap-Nya, maka jangan pernah berharap akan datangnya petunjuk tersebut. Dituturkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda: “Allah berfirman, ‘Aku paling tidak butuh terhadap sekutu. Maka siapa beramal dengan menyekutukan Aku, niscaya akan Kuterlantarkan dia dalam ke-syiriq-annya.” (HR. Muslim)

 

AMALAN PRAKTIS

Penganut agama Islam disebut Muslim. Yaitu orang yang menyerahkan seluruh urusan hidup dan matinya hanya kepada Allah, Tuhan dan Sembahannya. Maka sehebat apapun dia, setinggi apapun pangkat dan jabatannya, sejauh manapun sekolah dan pendidikannya, sebanyak apapun harta kekayaannya, tak pernah berani bersikap angkuh dan lancang di hadapan-Nya. Apapun yang akan dikerjakannya selalu didahului oleh ucapan: Insya Allah.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply