Al-Baqarah ayat 69

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 2, 2011
0 Comments
1437 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 69

 

قَالُواْ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنُهَا قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاء فَاقِـعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ

[Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina kuning, (yakni) yang kuning tua warnanya, menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”]

[They said: Call on your Lord for our sake to make it plain to us what her color is. Musa said: He says, Surely she is a yellow cow; her color is intensely yellow, giving delight to the beholders.]

 

1). Kini Bani Israil datang dengan gaya bahasa yang sama: “Mohonkanlah kepada Tuhan-mu untuk kami”. Bedanya, kalau di ayat yang lalu yang mereka minta ialah مَا هِيَ (mā ɦiya, sapi betina apa), yakni ke-apa-an atau what-ness atau hakikat (ditilik dari sisi usia dan besaran) dari sapi betina tersebut, maka di ayat ini yang mereka minta ialah identitas ekternal dari sapi betina itu.  Yaitu مَا لَوْنُهَا (mā lawnuɦa, apa warnanya). Huruf مَا () di kedua ayat ini, dalam ilmu bahasa, dikenal sebagai مَا (mā) istifɦāmiyah, mā isim (mā kata benda) yang digunakan dalam suatu pertanyaan untuk meminta informasi tentang sesuatu yang tidak berakal, atau tentang sifat dan hakikat sesuatu. Huruf مَا (mā) di ayat 68 adalah istifɦāmiyah yang meminta informasi tentang hakikat. Sementara مَا (mā) di ayat ini (69) adalah istifɦāmiyah yang meminta informasi seputar sifat. Hakikat, berbicara tentang materi dan bentuk (yang, dalam kaitannya dengan makhluk hidup, indikasinya biasanya didekati melalui usianya). Sedangkan sifat, berbicara soal tekstur dan warna. Dalam hubungannya dengan warna ini, mereka kembali meminta agar Tuhannya Musa يُبَيِّن لّنَا  (yubayyin lanā, menerangkan kepada kami), dengan memberikan ke-JELAS-an.

 

2). Maka Allah, melalui Nabi Musa, memenuhi permintaan Bani Israil. Firman-Nya: “bahwa sapi betina itu adalah sapi betina kuning, (yakni) yang kuning tua warnanya.” Jawaban Allah ini kian mendekatkan mereka kepada sifat sapi sembahan mereka. Kuning seperti ini dikenal sebagai warna kuning emas. Warna ini, selain memancarkan kharisma, juga menebarkan aura keindahan. Warna inilah yang mengikat imajinasi-emosional Bani Israil dengan Samiri; karena hanya Samiri yang bisa mewujudkan angan-angan mereka dalam bentuk الْعِجْل (al-‘ijl, patung anak lembu yang terbuat dari emas dan mengeluarkan suara melalui teknik pembuatannya). Bagi pengagum dunia, membayangkan saja panoramanya sambil berandai-andai, sungguh sudah suatu keindahan yang tak terperi. Inilah yang membuat mereka ‘kesetanan’ mengejarnya seraya meninggalkan nasib akhiratnya, bahkan terkadang melupakan nasib keluarganya sendiri. Kepada mereka yang lalai dari nasib akhiratnya dan tenggelam dalam imajinasi-emosional seperti inilah, Allah berpesan: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kalian lari (menghindar) daripadanya, maka sesungguhnya (kematian) itu (tetap akan) menemui kalian, kemudian kalian dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kalian kerjakan’.” (62:8)

 

3). Menurut ayat ini, warna kuning emas itu تَسُرُّ النَّاظِرِينَ (tasurrun-nāzhirĭyn, menyenangkan orang-orang yang memandangnya.). Yang menarik ialah dalam hal “menyenangkan”, al-Qur’an menggunakan kata تَسُرّ (tasurru) yang berasal dari kata sarrayasurru—yang berarti (Inggeris) to delight, gladden, make happy; to please, satisfy; atau (Indonesia) menyenangkan, menggembirakan, menggirangkan—satu asal kata dengan sirr—yang berarti rahasia (secret) atau misteri (mystery). Apa maksudnya? Yakni bahwa tekstur dan warna (apalagi warna kuning emas), tidak bisa dipungkiri, memang memancarkan kharisma dan menebarkan aura keindahan, tetapi seharusnya itu hanyalah mazhar (pemunculan) dari wujud hakiki yang ada di baliknya. Mazhar ini hanya berfungsi sebagai madkhal (pintu masuk) untuk memahami dan menyaksikan wujud hakiki tersebut. Dengan begitu, Allah menjadikan panorama keindahan warna-warni itu dengan suatu tujuan yang sangat mulia; yaitu sebagai ‘tanda’ untuk menyingkap rahasia keberadaan Diri-Nya: “Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan bermacam-macam warnanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang (mau) mengambil pelajaran.” (16:13). Tetapi, sayangnya, Bani Israil bukannya mengagumi Pemilik ‘tanda’ tersebut, melainkan mengagumi ‘tanda’ itu sendiri. Jadi baginya, ‘tanda’ tidak mengandung pesan apa-apa kecuali keindahan yang berhenti pada layar imajinasi-emosional belaka. Menurut Wikipedia, materialisme ialah “the only thing that exists is matter; that all things are composed of material and all phenomena (including consciousness) are the result of material interactions.” [Satu-satunya hal yang ada ialah materi; bahwa semua hal tersusun dari materi dan semua fenomena (termasuk kesadaran) adalah hasil dari interaksi yang bersifat materi]. Jadi sebetulnya materialismelah yang membuat Bani Israil enggan melaksanakan perintah Allah, bukan ketidakjelasan perintah tersebut.

 

AMALAN PRAKTIS

Investasi adalah cara manusia untuk mendapatkan hasil yang lebih besar di masa mendatang. Dan peluang besaran keuntungan suatu investasi tidak hanya tergantung bada besaran kuantitas dan kualitasnya, tapi juga pada besaran waktunya. Semakin jauh ke depan jarak waktu suatu investasi semakin besar peluang keuntungannya. Lalu, masih adakah yang lebih jauh ketimbang akhirat? Maka, semua fenomena dan warna-warni keindahan dunia ini, selayaknya diarahkan menjadi invstasi untuk kehidupan akhirat. Karena itulah investasi yang paling menguntungkan. Caranya: jadikanlah fenomena dan warna-warni dunia itu sebagai madkhal (pintu masuk) untuk menyingkap rahasia Pemiliknya. Perdefenisi, akhirat artinya sesuatu yang berada di balik yang nampak sekarang.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply