Al-Baqarah ayat 68

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 1, 2011
1 Comment
1130 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 68

 

قَالُواْ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لّنَا مَا هِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَّ فَارِضٌ وَلاَ بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُواْ مَا تُؤْمَرونَ

[Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu“.]

[They said: Call on your Lord for our sake to make it plain to us what she is. Musa said: He says, Surely she is a cow neither advanced in age nor too young, of middle age between that (and this); do therefore what you are commanded.]

 

1). Mengetahui kalau perintah itu bersifat mesti, dan seperti sebelum-sebelumnya, setiap pelanggaran terhadap perintah selalu berakhir dengan nasib mengenaskan, dengan tula yang kontan seperti kasus kera yang hina, maka yang Bani Israil bisa lakukan hanya mengulur-ulur pelaksanaan perintah tersebut dengan pura-pura tidak tahu jenis sapi betina apa gerangan yang diperintahkan untuk disembelih itu. Mereka berkata kepada Nabi Musa: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu”. Dari jawaban mereka ini kelihatan bahwa berbagai kejadian luar biasa (mukjizat) yang telah mereka saksikan sebelumnya, ternyata belum bisa mengubah cara pandang keagamaan mereka. Mereka tetap berprinsip bahwa kejadian-kejadian luar biasa itu adalah perbuatan Tuhannya Musa, dan bukan Tuhan mereka. Mereka mengangggap bahwa Tuhan mereka beda dengan Tuhannya Musa. Bedanya—seperti diterangkan pada ayat 55—Tuhan mereka bisa dilihat sementara Tuhan Musa tidak bisa dilihat dengan jelas. Perhatikan awal permintaan mereka: “Mohonkanlah kepada Tuhan-mu untuk kami”.  Penggalan kalimat ini dapat juga kita temukan di ayat 61 ketika mereka menyuruh Musa untuk memohon berbagai jenis makanan untuk mereka. Di sini muncul ironi; di satu pihak tidak mau mengakui—apalagi mengimani—Tuhannya Musa, tetapi di pihak lain mereka percaya kalau Tuhan Musa tersebut bisa mendatangkan apa saja yang mereka minta. Mereka juga percaya bahwa menentang perintah Tuhannya Musa, langsung mereka merasakan akibatnya. Jadi sikap jiwa dan pikiran mereka inilah sesungguhnya yang mereka tuangkan dalam bentuk mengulur-ulur pelaksanaan perintah tersebut, dengan harapan perintah tersebut dibatalkan atau menemukan jalan buntunya.

 

2). Penggunakan kata يُبَيِّن لّنَا  (yubayyin lanā, agar Dia menerangkan kepada kami), adalah suatu pengakuan tidak langsung dari Bani Israil bahwa penerimaan suatu perintah dan (sekaligus artinya) pengakuan terhadap pemberi perintah, akan dengan serta-merta muncul manakala kandungan perintah tersebut JELAS. Posisi JELAS itu dimana? Tentu di fikiran. Dan JELAS menurut fikiran artinya memenuhi kaidah-kaidah rasional, memenuhi hukum-hukum logika. Orang awam menyebutnya: masuk aqal. Agar, melalui ke-JELASA-an yang rasional dan logis itu, manusia meningkat derajat ruhaninya menjadi orang yang mendapat perunjuk dan orang yang bertaqwa. Perhatikanlah ayat-ayat yang menggunakan kata يُبَيِّن (yubayyin) ini, yang merujuk kepada Allah sendiri sebagai Penjelas—melalui Kitab Suci-Nya—dengan tujuan-tujuan yang sangat mulia tersebut. Satu, “…Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kalian berfikir.” (2:219, 2:266) Dua, “….Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kalian menggunkan aqal.” (2:242, 24:61). Tiga, “Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (2:221)  Setelah manusia, melalui ayat-ayat tersebut, bisa “berfikir”, “mengambil pelajaran”, dan “menggunakan aqal”, harapan selanjutnya ialah agar mereka bisa “bersyukur”, “mendapat petunjuk”, dan “bertaqwa”. Perhatikan ayat-ayat berikut ini: Empat, “….Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kalian bersyukur.” (5:89) Lima, “…Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kalian mendapat petunjuk.” (3:103) Enam, “Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (2:187)

Dalam kaitan pentingnya ke-JELAS-an inilah sehingga Allah sendiri menyebut Kitab Suci-Nya sebagai بَيَانٌ (bayān, pen-JELAS-an) yang mengandung هُدًى (ɦudan, petunjuk) dan مَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ (maw’izhatun lil-muttaqĭyn, pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa). Firman-Nya: “(Al Qur’an) ini adalah pen-JELAS-an bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (3:138) Bani Israil yang bersikap apriori terhadap Tuhan-pun sangat menyadari ini sehingga mereka datang kepada Nabi Musa agar diberi ke-JELAS-an mengenai perintah tersebut. Inilah tuntutan fithrah yang tak seorang manusia bisa menghindarinya. Manusia bisa menghindar dari perintah dan larangan Allah, tetapi mereka tidak bisa lari dari keinginan untuk mendapatkan ke-JELAS-an atas kasus manapun.

 

3). Jawaban Allah atas permintaan Bani Israil ialah: “Sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda”. Usia sapi tersebut ialah tengah-tengah (antara muda dan tua). Dari sisi umur, tentu pada masa inilah seekor sapi mencapai puncak kekuatan, kesempurnaan, dan keindahannya. Tetapi posisi “antara” seperti ini, dalam al-Qur’an, bukan sekedar masalah sapi Bani Israil saja. Tapi masalah idealitas agama dan kehidupan. Tentang agama, Allah mengatakan: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat pertengahan (penengah) dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (2:143) Tujuannya: “Supaya menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.” (100:5) Untuk mengingatkan mereka: “Berkatalah seorang yang paling moderat di antara mereka: ‘Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kalian bertasbih (kepada Allah)?’.” (68:28) Tentang kehidupan, Allah berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (25:67) Hal yang sama terjadi pada soal pakaian dan makanan: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebihlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (7:31) Begitu juga dengan usia. Menurut al-Qur’an, usia pertengahan itu ialah 40 tahun, karena di usia ini seseorang selain secara fisik mencapai puncak kematangannya, juga secara generasi berjumpa dengan generasi pendahulunya (ayah-bundanya) dan generasi pelanjutnya (anak-anaknya). “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo`a: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku agar mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya (kini) aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku (sudah) termasuk orang-orang yang berserah diri’.” (46:15)

Masuk ke dalam gradasi pertengahan ini tidaklah mudah. Godaannya banyak sekali. Karena sifat-sifat hewaniah kita juga cenderung menjadi-jadi di gradasi ini. Untuk itu, agar gradasi pertengahan ini benar-benar tercapai secara ideal seperti diinginkan ayat-ayat tadi, sifat-sifat hewaniah kita yang beranak-pinak seperti sapi betina, harus disembelih.

 

4). Ayat ini ditutup dengan anak kalimat: فَافْعَلُواْ مَا تُؤْمَرونَ (faf’aluw mā tu’marŭwn, maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu). Ini menunjukkan bahwa perintah penyembelihan sapi betina ini bertujuan untuk mentransformasi Bani Israil ke jenjang gradasi ruhani yang lebih tinggi. Sebab malaikat dan orang suci di dalam al-Qur’an selalu digambarkan sebagai pelaku-pelaku perintah yang taat. “Mereka (para malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepadanya).” (16:50, lihat juga 66:6) Ketika Nabi Ismail diminta ayahnya untuk disembelih karena perintah Allah, dia menjawab begini: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam tidurku bahwa aku (diperintah) menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (37:102) Semakin banyak perintah yang kita lakukan dan semakin cepat perintah itu ditunaikan, akan semakin tinggi juga transformasi ruhani yang kita alami. Level demi level juga akan kita lewati lebih cepat hingga mencapai maqam (kedudukan ruhani) paling tinggi. Derajat taqwa sendiri bertingkat-tingkat berbanding lurus dengan banyak dan cepatnya perintah ditunaikan.

 

AMALAN PRAKTIS

Usia adalah misteri terbesar bagi manusia. Semua orang tahu kepastian matinya. Karena kematian adalah hal yang paling JELAS di antara hal-hal apapun. Tapi tak seorang pun yang tahu kapan kematian itu datang. Kalau begitu jalan keluarnya sangat sederhana: jangan pernah menunda pelaksanaan perintah Allah swt. Siapa tahu Anda tiba-tiba meninggal dunia.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply