Al-Baqarah ayat 67

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 1, 2011
0 Comments
1086 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 67

 

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُواْ بَقَرَةً قَالُواْ أَتَتَّخِذُنَا هُزُواً قَالَ أَعُوذُ بِاللّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

[Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyembelih seekor sapi betina”. Mereka berkata: “Apakah kamu (wahai Musa) hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah dari menjadi salah seorang diantara mereka yang jahil”.]

[And when Musa said to his people: Surely Allah commands you that you should sacrifice a cow; they said: Do you ridicule us? He said: I seek the protection of Allah from being one of the ignorant.]

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang kesebelas. Seperti telah disebutkan di ayat 51 dan 54 bahwa sepeninggal Nabi Musa ke Gunung Thursina selama 40 malam, Bani Israil sudah berhasil diperdaya oleh seorang tokoh munafiq yang bernama Samiri, dengan menjadikan الْعِجْل (al-‘ijl, patung anak lembu yang terbuat dari emas dan mengeluarkan suara melalui teknik pembuatannya) sebagai sembahan (tuhan) mereka. Di ayat ini (67) tiba-tiba Nabi Musa datang kepada mereka menyampaikan perintah yang diterimanya bahwa Allah menyuruh mereka menyembelih seekor sapi betina. Mereka kaget bukan kepalang sehingga ‘menyerang’ Musa dengan pertanyaan balik: “Apakah kamu (wahai Musa) hendak menjadikan kami buah ejekan?” Mereka berfikir, ini pasti inisiatif pribadi Musa untuk memperolok-olokkan mereka dengan menyuruh mereka menyembelih “tuhan” kesayangan mereka. Mereka tidak sadar bahwa beginilah caranya Allah meruntuhkan bangunan mitos yang telah terbangun kuat di dalam fikiran mereka. Kenapa mesti diruntuhkan? Karena menurut Cambridge Academic Content Dictionary, mitos adalah “a commonly believed but false idea” (suatu kepercayaan yang diterima secara umum tetapi ide-ide yang dikandungnya adalah palsu belaka). Maka memelihara mitos adalah memelihara kepalsuan, memelihara imaginasi kosong. Ini adalah suatu kebodohan atau perbuatan jahiliyah. Tetapi lebih bodoh dan lebih jahiliyah lagi apabila mitos tersebut disembah atau dipertuhankan. Dan mitos ini bisa dilekatkan pada suatu obyek tertentu seperti patung anak sapi, atau pada suatu tokoh historis tertentu dengan melekatkan cerita-cerita yang sebetulnya tidak layak disandang orang tersebut. Mitos anak sapi ini bermula dengan memitoskan tokoh yang bernama Samiri. Ayat 67 ini hendak menyampaikan pesan penting bahwa mitos bertentangan dengan kepercayaan keagamaan, terutama agama samawi. Agama dibangun di atas pondasi dan prinsip-prinsip rasionalitas, bukan di atas angan-angan hampa yang dipaksakan secara dogmatis dan doktriner. Itu sebabnya, demi menjawab keberatan kaumnya, Nabi Musa berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari menjadi salah seorang diantara mereka yang jahil”.

 

2). Pada saat Nabi Musa menyampaikan kepada Bani Israil perintah penyembelihan tersebut, ayatnya berbunyi: إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ (innallaɦa ya’murukum, Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian…). Artinya, perintah di sini bukan difahami dari bentuk gramatika kalimat, tetapi difahami langsung dari makna kata يَأْمُر (ya’muru) yang memang artinya “memerintahkan”. Sehingga perintahnya tidak perlu menimbulkan perdebatan, karena perintahnya sangat gamblang dan jelas. Apalagi didahului oleh kata إِنَّ (inna, sesungguhnya) yang juga  menunjukkan ketegasan perintah tersebut. Bentuk perintah seperti ini hanya kita temukan 3 (tiga) kali dalam al-Qur’an, yang semuanya menunjukkan substansi dan prinsipalitas dari agama. “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (juga memerintahkan kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia agar kalian menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (4:58) Ayat berikutnya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan (kalian) berlaku adil dan berbuat kebaikan, membantu kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (16:90) Substansi dan prinsipalitas ketiga ayat ini bisa dilihat dengan jelas: Satu, Surat 2:67 memerintahkan untuk meruntuhkan bangunan mitos yang sudah tumbuh mapan di kepala. Dua, Surat 4:58 memerintahkan menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan menetapkan hukum secara adil. Tiga, Surat 16:90—yang dibaca khatib saban Jum’at—memerintahkan berlaku adil dan berbuat baik. Kalau kita rangkai ketiganya, kesimpulannya akan menjadi begini: “Tidak mungkin seseorang itu menegakkan keadilan dan melakukan kebaikan apabila tidak bisa menunaika amanah yang diembankan kepadanya. Dan seseorang tidak mungkin mengemban amanah tersebut apabila di kepalanya masih bercokol dan tumbuh subur berbagai macam mitos.” Sebelum meninggalkan Bani Israil, Nabi Musa mengamanahkan agar menerima dan mamatuhi Harun sebagai Khalifah Ilahi penggantinya. Tetapi karena mitos-mitos yang dibangun oleh kelompok pendukung Samiri atas dirinya dan atas patung anak sapi tersebut, Bani Israil akhirnya mengeliminir dan mereduksi hak-hak dan kelayakan Harun sebagai Khalifah Ilahi. Mereka kemudian lebih memilih Samiri sebagai pemimpinnya. Akibatnya, nilai-nilai keadilan dan kebajikan pun tereliminasi sedikit demi sedikit dari tatanan dan sistem sosial.

 

3). Kata الْجَاهِلِينَ (al-jāɦilĭyn, orang-orang jahil) yang Nabi Musa berlindung kepada Allah atasnya, muncul beberapa kali dalam al-Qur’an, yang artinya sama. Yaitu perbuatan atau tindakan yang bertentangan dengan rasionalitas serta nilai-nilai keadilan dan kebajikan sosial. Satu, agama hanya bisa dikembangkan melalui pendekatan rasional dan dengan menghidupkan kehendak bebas (free-will) manusia; mukjizat dan kejadian-kejadian luar biasa tidak banyak pengaruhnya bagi mereka yang struktur logikanya memang sudah jungkir-balik (6:35). Dua, bersikap pemaaf dan berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan di dalam masyarakat (7:199). Tiga, salah mendefenisikan anggota keluarga (ahli bayt) nabi dengan menyamaratakan semua anggota keluarganya baik. Padahal baik tidaknya seseorang tergantung pada amal perbuatannya (11:46). Empat, lebih memilih penjara daripada ‘terpaksa’ melanggar agama dengan menyalahgunakan amanah dan wewenang yang diembankan kepadanya (12:33). Lima, bersikap sabar, menolak kejahatan dengan kebaikan, dan toleran terhadap berbagai perbedaan pendapat, agama dan keyakinan (28:55). Semua perbuatan yang melanggar poin satu sampai lima adalah perbuatan الْجَاهِلِينَ (al-jāɦilĭyn, orang-orang jahil). Nabi Musa—dan selayaknya siapa saja yang mengimaninya termasuk kaum Muslim—menjauhinya dengan meminta pertolongan dan perlindungan dari Allah swt.

 

AMALAN PRAKTIS

Hampir semua kejadian buruk yang menimpa kita adalah akibat kebodohan manusia sendiri. Untuk menghilangkan kebodohan itu caranya cuma satu: jangan pernah berhenti belajar seraya terus memperbaiki logika berfikirnya. Maka setiap Anda menemukan suatu pendapat yang struktur penalarannya mencurigakan, segeralah meminta perlindungan dari Allah dari kemungkinan terjatuh ke dalam lembah kebodohan.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply