Al-Baqarah ayat 66

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 30, 2011
0 Comments
818 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 66

 

فَجَعَلْنَاهَا نَكَالاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ

[Maka Kami jadikan kejadian itu peringatan bagi masanya, dan masa yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.]

[So We made them an example to those who witnessed it and those who came after it, and an admonition to those who guard (against evil).]

 

1). Kejadian dimana para pelanggar ibadah Sabtu dikutuk menjadi kera yang hina, benar-benar menjadi tontonan dan persaksian bagi mereka yang hidup pada zaman itu. Kejadian (yang belakangan menjadi kisah) nyata ini kemudian menyebar ke mana-mana, melampaui ruang, melampaui waktu, dan akhirnya sampai jua ke zaman kita ini. Kejadian tersebut, oleh ayat ini, disebut نَكَالاً (nakālan). Kata نَكَالاً (nakālan) ini oleh tiga penerjemah Bahasa Inggeris (Shakir, Yusuf Ali, dan Pickthal) diartikan sebagai “example”. Al-Baghawiy dalam tafsirnya mengartikannya dengan “عقوبة وعبرة” (‘uqŭbah wa ‘ibrah, akibat perbuatan dan mengandung pelajaran). Al-Mu’jam al-Wasĭth mengartikannya dengan النازلة او العقاب (al-‘iqāb aw an-nāzilah, akibat perbuatan atau bencana). Sementara al-Qur’an menggunakan kata نَكَالاً (nakālan) ini, dalam berbagai bentuknya, tapi dengan makna yang hampir sama. Surat 4:84, 5:38, dan 79:25 mengartikannya sebagai “siksaan, balasan, atau hukuman”. Sementara Surat 73:12 mengartikannya sebagai “belenggu”. Kalau kita kombinasikan semuanya, maka kata نَكَالاً (nakālan) ini bisa artikan sebagai: “Bencana yang menyiksa dan membelenggu korbannya, yang terjadi sebagai balasan atau hukuman, yang merupakan akibat dari perbuatan sendiri agar menjadi contoh dan pelajaran bagi manusia.”

 

2). Dengan demikian kejadian yang menjadi نَكَالاً (nakālan) bisa bermakna khusus dan umum. Makna khususnya, yakni kejadian tersebut benar-benar terjadi secara faktual. Dalam hal ini, kalangan Bani Israil yang melanggar ibadah Sabtu benar-benar menjadi kera sungguhan. Makna umumnya, yakni bahwa siapa saja yang melanggar perintah-perintah agama dengan sengaja maka pada hakikatnya merendahkan martabat dirinya seperti kera yang hina, dan di akhirat kelak dia benar-benar dibangkitkan dengan tampilan tubuh seperti kera yang hina. “Apakah kamu (Muhammad) telah memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya? Masih pantaskah kamu menjadi wakil baginya (nanti di akhirat)? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu (masih) mendengar atau menggunakan aqalnya? Tiadalah mereka itu kecuali seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat (lagi) jalannya (dari binatang ternak itu).”(25:43-44) Sifat hewaniah mereka yang hidupnya hanya untuk memperturutkan hawa nafsunya ini kelak akan diperlihatkan pada wujud dirinya di akhirat: “Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) amal-amal perbuatannya.” (99:6)

 

3). Diangkatnya kembali kejadian ini oleh al-Qur’an, Kitab Suci samawi terakhir dan paling lengkap, menunjukkan arti dan pesan penting yang dikandungnya. Ini bisa dilihat pada bagian akhir ayat: وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ (wa maw’izhatan lil-muttaqĭyn, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa). Ada dua pemaknaan yang bisa kita ambil di sini. Satu, bagi mereka yang kesehariannya masih berada di dalam kubangan hawa nafsu, peristiwa ini selayaknya menjadi cermin diri yang amat bening, sehingga membaca kisah nyata ini seakan menyaksikan kejadian itu terjadi pada dirinya sendiri. Harapannya, mereka bisa ‘memberontak’ untuk keluar dari keadaan itu dan mulai menempuh jalan yang membawa mereka menuju ke ketaqwaan. “…Orang-orang yang telah sampai kepadanya pelajaran dari Tuhannya, lalu berhenti (dari perbuatan dosa), maka baginya (adalah ampunan bagi) apa yang telah berlalu; dan urusan selanjutnya (terserah) kepada Allah…” (2:275) Dua, bagi mereka yang sudah bertaqwa, membaca peristiwa ini sama dengan menasehati diri mereka sendiri agar tidak terjatuh kembali dari maqam ketinggian dan martabat kemuliaan yang telah bersusah-payah dirintisnya waktu demi waktu, ibadah demi ibadah, mujahadah demi mujahadah. Selanjutnya mereka lebih termotivasi untuk terus berjuang dan menapaki jalan ruhani yang lebih tinggi. “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami yang diceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat (al-Qur’an) ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (11:120)

 

AMALAN PRAKTIS

Sejarah kehidupan manusia sarat dengan kisah-kisah tentang kejadian-kejadian yang mengesankan. Diantaranya ada yang kemudian diangkat ke dalam Kitab Suci. Tujuannya: agar hal-hal yang buruk jangan terulang kembali dan hal-hal yang baik terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Harapannya: agar sejarah kehidupan manusia bergerak menuju kesempurnaan. Bila manusia tidak bisa mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian tersebut, maka martabatnya sama dengan kera yang hina.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply