Al-Baqarah ayat 65

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 29, 2011
0 Comments
1480 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 65

 

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَواْ مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُواْ قِرَدَةً خَاسِئِينَ

[Dan sungguh kalian mengetahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kalian kera yang hina”.]

[And certainly you have known those among you who exceeded the limits of the Sabbath, so We said to them: Be (as) apes, despised and hated.]

 

1). Di ayat sebelumnya (64), Allah hanya menyebutkan secara umum keberpalingan Bani Israil dari Kitab Suci setelah mengikuti mitsāqul kitāb (Perjanjian Kitab Suci). Di ayat ini, Allah menyebut secara khusus pelanggaran mereka. Yaitu melanggar larangan untuk mencari nafkah pada Hari Sabtu, kendati sudah diingatkan bahwa Hari Sabtu itu seyogyanya hanya digunakan untuk beribadah saja. Allah telah memberi kepada mereka 6 (enam) hari lamanya untuk mencari nafkah dan meminta satu hari saja yang dikhususkan untuk berbadah kepada-Nya. Hari Sabtu ditetapkan sebagai Hari Suci bagi mereka dan Allah minta agar mereka juga benar-benar menghargai kesuciannya. “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, padahal di hari-hari selain Sabtu ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka selalu berlaku fasik.” (7:163). Setelah melihat kedatangan ikan-ikan tersebut, akhirnya mereka lebih memilih melaut ketimbang menghadiri acara keagamaan. Mereka telah memenangkan kepentingan pragmatisme di atas kepentingan spiritulisme. Mereka lupa bahwa tujuan semua manusia dalam mencari nafkah adalah untuk meraih kebahagiaan. Mereka lupa bahwa kebahagiaan masuk dalam ranah ruhaniah, ranah spiritual, sehingga tidak mungkin berjumpa dengan keserakahan material. Mereka terpukau dengan bendanya tapi mereka lupa untuk apa benda-benda tersebut diusahakan. Mereka berbondong-bondong memenuhi perutnya dan mengosongkan jiwanya. Mereka lupa bahwa setiap peluang material bila datang bersamaan dengan momen spiritual, menjadi ujian Allah bagi manusia. Pada saat itu manusia tidak mungkin memilih berada di antara keduanya. Pada saat itu manusia harus memilih; dan pilihannya menunjukkan siapa dirinya. Pilihan manusia menunjukkan pandangan hidupnya. Pada saat itu Allah hendak memperlihatkan kepada masing-masing diri manusia apakah mereka itu termasuk Golongan Allah atau Golongan Syaitan. Dan Bani Israil memilih melaut, memilih tetap mencari nafkah, memilih kepentingan perut. Nyatalah kini siapa pengikut Allah dan siapa pengikut syaitan. “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya untuk menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (35:6)

 

2). Setelah nyata bagi Bani Israil siapa yang taat dan siapa yang membangkang, Allah pun memenuhi janjinya untuk mengazab siapa saja yang melanggar. Allah berfirman: “Jadilah kalian kera yang hina”. Pertanyaan yang lalu mencuat ke permukaan ialah apakah mereka benar-benar menjadi kera dalam arti yang sesungguhnya atau hanya perlambang saja? Kalau melihat urut-urutan perjalanan Bani Israil sejak keluar dari Mesir beserta kejadian-kejadian yang menyertainya, dapat disimpulkan bahwa mereka benar-benar menjadi kera dalam arti yang sebenar-benarnya. Karena permintaan mereka selama itu selalu dijawab kontan oleh Allah dalam bentuk mukjizat, maka masuk akal apabila pelanggaran mereka juga dijawab kontan oleh Allah dalam bentuk mukjizat pula. Kalau selama ini mereka selalu melihat mukjizat yang menyenangkan, seharusnya jika mereka betul-betul beriman, juga percaya sebaliknya. Bahwasanya apabila mereka melanggar, kepadanya pun selayaknya diperlihatkan mukjizat yang menyedihkan. Kalau mukjizat yang menyenangkan membuat mereka jadi mulia, bisa difahami apabila mukjizat yang menyedihkan pun membuat mereka jadi hina. Dari sini kelihatan sekali betapa Allah itu merupakan Pendidik yang ‘piawai’ dengan memberlakukan secara proporsional dua sayap penting pendidikan: reward (penghargaan) dan punishment (hukuman). Inilah refleksi alam akhirat, dimana sebagai reward bagi orang yang taat Allah siapkan Surga, dan sebagai punishment bagi mereka yang durhaka Allah siapkan Neraka. Sehingga Surga dan Neraka sebetulnya bukan apa-apa melainkan akibat logis belaka dari pilihan-pilihan hidup kita sekarang di dunia. “…. Siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (4:13-14)

 

3). Mari kita lihat bagaimana al-Qur’an mendefenisikan dirinya sendiri. Penekanan ayat ini terletak pada اعْتَدَوا (i’tadaw, melanggar atau bersikap memusuhi perintah). Makna ini lebih dipertegas di ayat lain: فَلَمَّا عَتَوْاْ عَن مَّا نُهُواْ عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُواْ قِرَدَةً خَاسِئِينَ  “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: ‘Jadilah kalian kera yang hina’.” (7:166) Dengan demikian, menurut 7:166 ini, yang dimaksud اعْتَدَوا (i’tadaw) ialah عَتَوْاْ عَن مَّا نُهُواْ عَنْهُ (‘ataw ‘an ma nuɦŭw ‘anhu, bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya). Artinya, seseorang dikatakan اعْتَدَوا (i’tadaw, melanggar atau bersikap memusuhi perintah) apabila mengetahui bahwa sesuatu itu dilarang agama, tetapi dengan sengaja melanggarnya, seolah-olah menantang si pembuat larangan tersebut. Celakanya lagi, yang membuat aturan agama itu adalah Allah sendiri. Sehingga, siapa saja yang sengaja melanggar aturan agama padahal dia mengetahui persis prihalnya, maka pada hakikatnya dia menantang Allah swt. Dan siapa yang berani menantang Allah, hendaklah bersiap-siap menerima akibat buruk dari perbuatannya tersebut, di dunia dan di akhirat.

 

4). Apa yang terjadi pada Bani Israil ini terulang kembali pada pengikut nabi terakhir, Nabi Muhammad saw. Allah telah menetapkan hari Jum’at sebagai Hari Suci bagi umat Islam. Dan Allah tidak melarang mereka untuk mencari nafkah pada hari itu, dengan catatan, seusai acara salat Jum’at dengan seluruh rangkaian-rangkaiannya seperti mendengar khotbah. Tetapi apa gerangan yang terjadi pada sebagian pengikut nabi ini pada saat justru Nabi Muhammad sendiri yang sedang membacakan khotbah Jum’at? “Dan ketika mereka melihat perniagaan atau permainan (yang menyenangkan), mereka (tiba-tiba) bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: ‘Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan’; dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (62:11) Jelas perbuatan ini termasuk اعْتَدَوا (i’tadaw, melanggar atau bersikap memusuhi perintah). Kalau pengikut Nabi Musa meninggalkan ibadah Sabtu setelah melihat ikan-ikan berarak di permukaan laut, pengikut Nabi Muhammad meninggalkan ibadah Jum’at setelah melihat perniagaan dan kesenangan di tempat perbelanjaan.

 

AMALAN PRAKTIS

Kalau Anda tahu sesuatu itu telah diatur oleh agama, lalu Anda sengaja melabraknya, maka bersegeralah bertobat dan kembali kepada Allah. Kalau tidak, maka bersiap-siaplah menerima akibat dari perbuatan Anda tersebut. Karena tahukah Anda bahwa kalau Anda sengaja melanggar aturan agama, sebetulnya yang Anda tantang itu adalah Allah, Pencipta alam semesta ini.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply