Al-Baqarah ayat 64

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 28, 2011
0 Comments
1213 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 64

 

ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ

[Kemudian kalian berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kalian tergolong orang-orang yang rugi.]

[Then you turned back after that; so were it not for the grace of Allah and His mercy on you, you would certainly have been among the losers.]

 

1). Perjanjian yang dikenal dengan mitsāqul kitāb (Perjanjian Kitab Suci), oleh Bani Israil ternyata dikhianati juga. Kejadian penolakan Harun sebagai Khalifah Ilahi sepeninggal Musa ke Gunung Tursina terulang kembali, kendatipun yang diangkat ke atas kepala mereka sebagai alat sumpah adalah Gunung Tursina juga. “Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, seraya berkata: ‘(toh) kami akan diberi ampun’. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah Perjanjian Kitab Suci sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan atas nama Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang ada di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kalian tidak menggunakan akal?” (7:169) Perhatikan anak kalimat yang ditebalkan: “padahal mereka telah mempelajari apa yang ada di dalamnya”. Artinya ketika syarat-syarat utama tegaknya Kitab Suci sudah ditiadakan, maka walaupun Kitab Suci tersebut terus dihafal dan dipelajari, tetap saja tidak berarti banyak bagi kemaslahatan penganutnya, apalagi bagi manusia secara keseluruhan. Semakin banyak orang berteriak “kembali kepada Kitab Suci” semakin banyak juga kelompok yang terbentuk. Dan tiap kelompok masing-masing hanya memikirkan kepentingan subyektif kelompoknya. Bahkan tidak jarang mereka saling menegasikan dengan cara-cara yang bertentangan dengan isi Kitab Suci, malah berperang diantara mereka. “Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Kitab Suci (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepadanya bukti (keterangan) yang nyata.” (98:4)

 

2). Ada dua syarat utama yang diabaikan oleh generasi-generasi pewaris Kitab Suci sehingga mereka berpaling dari isi Kitab Suci yang dipegangnya. Pertama, ditolaknya pasangan Kitab Suci. Seperti telah diterangkan sebelumnya bahwa selain ada Kitab Suci yang tertulis seharusnya ada juga Kitab Suci yang berbicara. Kitab Suci yang tertulis sifatnya statis, pasif, perlu “difahami” dan tidak bisa “memahami”. Kitab suci yang tertulis adalah kumpulan teks-teks belaka yang jika didekati oleh seribu orang, sangat mungkin juga melahirkan seribu pemahaman. “Tidaklah mungkin orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka menyadari bahwa mereka sendiri ingkar (terhadap kepentingan agama Allah). Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyasaja yang (bisa) memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (9:17-18) Kata “orang” di ayat ini adalah terjemahan dari kata مَنْ (man) yang menegaskan bahwa yang bisa memakmurkan masjid (yakni agama—ingat, masjid adalah pusat penegakan agama) Allah adalah “manusia” atau “orang” dan bukan Kitab Suci belaka. Agar Kitab Suci bisa terterapkan secara komprehensif, maka harus ada “manusia”-nya atau “orang”-nya. Dan diantara kualifikasi penting yang harus dimiliki “manusia” atau “orang” tersebut ialah “tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah”. Dan kalau kita bongkar seluruh ayat-ayat al-Qur’an, kita hanya akan menemukan satu jenis “manusia” atau “orang” (selain Rasulullah) yang memenuhi kualifikasi tersebut; yaitu: ULAMA. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (35:28) Pertanyaannya, siapa gerangan yang mengakreditasi ulama tersebut? Jawabannya: tentu ulama yang lebih tinggi lagi. Hingga akhirnya sampai jua ke Rasulullah. Artinya, Rasulullah perlu memberikan pengakuan siapa gerangan yang paling pantas menjadi pasangan Kitab Suci sepeninggalnya. Inilah sebabnya kenapa Nabi Musa perlu menunjuk secara tegas Harun sebagai pengganti sepeninggalnya, walaupun Harun sendiri sebelum itu sudah bergelar nabi juga. Ini jugalah sebab pertama yang membuat Bani Israil terpalingkan dari Kitab Suci walaupun mereka sudah bersumpah di hadapan Allah dan di hadapan Nabi Musa di bawah ‘ancaman’ Gunung Tursina.

Kedua, cinta dunia. Di Surat 7:169 ada anak kalimat berbunyi: Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Apaila suatu generasi sudah lebih mencintai dunia daripada akhirat, maka Kitab Suci pasti tidak akan memberi banyak manfaat bagi mereka. Dan apabila cinta dunia sudah merasuk, seluruh bentuk pelanggaran akan dengan sangat mudah terjadi. Larangan-larangan Kitab suci sudah tidak berarti. Perintah-perintahnya tak lagi berkesan di hati. Yang ada hanya hawa nafsu dan cinta diri. “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka tersungkur sujud sambil menangis. (Tetapi) Kemudian datanglah sesudah mereka, generasi (yang jahat) yang menyia-nyiakan shalat dan (hanya) mengikuti syahwatnya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (19:58-59)

 

3). Tetapi apakah setelah itu Allah kemudian membinasakan manusia? Ternyata tidak. Karena kehidupan harus terus berevolusi menuju kepada kesempurnaannya. Yaitu memenuhi gagasan penciptaannya oleh Allah. Dunia belum akan berakhir sebelum “gagasan” Kahilfah Ilahi yang tertera di ayat 30 dan di 9:36 terwujud di seluruh permukaan bumi dan dirasakan oleh seluruh manusia. Firman-Nya di akhir ayat 64 ini: maka kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kalian tergolong orang-orang yang rugi. Artinya, terlalu banyak sudah dosa dan pelanggaran yang telah dilakukan Bani Israil yang sepatutnya mengundang kebinasaan dan kepunahan wangsa mereka. Tetapi karena mereka termasuk yang ternubuwatkan di dalam prahara akhir zaman, Allah membiarkan mereka. Sebagaimana Allah mengabulkan doa Iblis untuk diberi tangguh hingga akhir zaman. “Iblis berdoa: ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan’. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk yang diberi tangguh’.” (7:14-15) Dari sisi Allah, penangguhan itu sebetulnya adalah suatu karunia dan rahmat-Nya yang besar kepada hamba-hamba-Nya. Tetapi sayangnya, hanya sedikit manusia yang bersyukur: “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Sayangnya) hanya sedikit yang bersyukur.” (7:10)

 

AMALAN PRAKTIS

Bukti kalau kita sudah terpukau dengan sesuatu ialah dengan terus menatap sesuatu tersebut. Perhatian kita tidak mungkin lagi berpaling daripadanya. Keberpalingan darinya adalah penderitaan yang tak terperi. Itulah bukti kalau kita sudah firm (gigih) memegang Kitab Suci sebagai Tuntunan Hidup untuk tidak terjerembab ke dalam ngarai kesesatan dan kebinasaan. Inilah yang dikhianati Bani Israil sehingga Kitab Suci di tangannya tidak menghentikannya dari kejahatan demi kejahatan terhadap kemanusiaan.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply