Al-Baqarah ayat 63

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 27, 2011
0 Comments
830 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 63

 

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُواْ مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُواْ مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

[Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kalian dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kalian bertakwa”.]

[And when We took a promise from you and lifted the mountain over you: Take hold of the law (Tavrat) We have given you with firmness and bear in mind what is in it, so that you may guard (against evil).]

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang kesepuluh. Penekanannya terletak pada pengambilan sumpah Bani Israil berkenaan dengan Kitab Taurat. Seperti kita lihat pada ayat-ayat sebelumnya betapa gampangnya mereka mengingkari janjinya, betapa mudahnya mereka mengkhianati Nabinya, walaupun mereka senantiasa menyaksikan mukjizat (peristiwa-peristiwa luar biasa). Bahkan mukjizat itu bukan terjadi di luar sana, melainkan di dalam lingkup kehidupan mereka sendiri. Mukjizat demi mukjizat itu seyogyanya menyadarkan mereka betapa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka. Setelah menyaksikan mukjizat-mukjizat itu, mereka kembali seakan lupa bahwa Nabi Musa sebetulnya adalah perpanjangan ‘tangan’ Tuhan kepada mereka dan Kitab Suci adalah kata-kata, nasihat dan bimingan-Nya. Mereka seakan lupa bahwa melalui Nabi Musa dan Kitab Suci itulah mereka terbimbing, terselamatkan dan termerdekakan dari derita yang ditimpakan Fir’aun kepada mereka. Dan Allah Tahu dengan ke-Mahatahu-an-Nya bahwa kemuliaan dan ketinggian martabat Bani Israil ini di masa-masa mendatang sepenuhnya terletak pada kegigihan mereka memegang teguh Kitab Taurat; dan begitu mereka lengah sedikit saja daripadanya maka kenistaan dan kehinaan niscaya akan menimpanya. Untuk itu Allah menghendaki agar mereka benar-benar bersumpah untuk sehidup-semati dengan Taurat ini beserta ajaran-ajaran yang ada di dalamnya. “Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): ‘Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa’.” (7:171)

 

2). Menariknya, ayat 171 dari Surat al-A’raf yang barusan kita kutip disusul oleh ayat 172 yang juga berbicara soal pengambilan sumpah manusia di alam malakut (alam ruhani) sebelum di-‘turun’-kan ke alam nasut (alam insani). “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari punggung-punggung mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (atas ke-Tuhanan-Mu)’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (keberadaaan Tuhan) ini’.” (7:172) Dari dua ayat (171 dan 172) ini kita bisa lihat bahwa pengakuan primordial akan keberadaan Tuhan adalah tak terpisahkan dengan pengakuan akan kebenaran Kitab Suci. Sulit dimengerti manakala ada orang yang mengakui keberadaan Tuhan tapi menolak kebenaran Kitab Suci. Satu, secara substansial keduanya (Tuhan dan Kitab Suci) tidak bisa dipisahkan. Yang pertama (yang kita sebut Tuhan) adalah Zat-Nya, sementara yang kedua (Kitab Suci) adalah Kalam-Nya. Yang kedua tidak bisa ada kalau yang pertama juga tidak ada. Tetapi yang pertama hanya bisa difahami dengan benar apabila yang kedua ada. Karena kita hanya bisa mengenal-Nya dengan benar apabila pengenalan itu melalui Diri-Nya. Tetapi karena Zat-Nya ini benar-benar tunggal dan sederhana, perabot akalpun tidak mampu menjangkau-Nya. Sehingga satu-satunya jalan ialah dengan cara Diri-Nya memperkenalkan Zat-Nya. Itulah Kitab Suci. Maka menolak Kitab Suci tetapi mengakui keberadaan Tuhan, adalah dua sikap yang sulit dikompromikan. Pengakuan seperti itu dangkal dan tak bermakna. Tetapi sayangnya ‘penyakit’ inilah yang paling banyak menimpa penganut agama-agama. “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat (dari Kitab Suci) Kami, kemudian berlepas diri daripadanya, lalu dia diikuti oleh syaitan (hingga tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat) nya dengan (Kitab Suci) itu, tetapi (sayangnya) dia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat (Kitab Suci) Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat (Kitab Suci) Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.” (7:175-177)

 

3). Di ayat sebelumnya (ayat 62) kita telah berbicara soal azas monorelitas agama-agama samawi. Bahwa nabi-nabi dan rasul-rasul datang silih berganti hanya untuk tiga kemungkinan: membawa risalah baru, meneruskan risalah sebelumnya, serta memperbaiki dan atau menyempurnakan risalah sebelumnya yang telah mengalami dekadensi akibat ulah pemeluknya sendiri. Maka Taurat, sebagai salah satu Kitab Suci besar, benar-benar Allah wasiatkan kepada Bani Israil agar jangan sampai menyia-nyiakannya sebab kemuliaan dan ketinggian martabat mereka sungguh-sungguh hanya terletak pada Kitab Suci tersebut. Apabila mereka berpaling dari Kitab Suci maka pasti berpalingnya kepada dunia materi; dimana keberpalingan itu pasti disebabkan oleh karena memperturutkan hawa nafsu, sepertimana sudah terjadi di masa-masa sebelumnya. Allah membuat sumpah kepada Bani Israil sedemikian vulgarnya, justru karena Dia tahu apa yang akan terjadi kemudian. “Maka sesudah mereka datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi Kitab Suci, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: ‘ (Toh) kami akan diberi ampun’. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Kitab Suci (Taurat) sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang  yang bertakwa. Maka apakah kalian tidak menggunakan akal?” (7:169)

 

4). Di Surat al-Baqarah (ayat 63) ini, al-Qur’an menggunakan kata الطُّورَ (at-thŭwr, Tursina), sedangkan di Surat al-A’raf (ayat 171), menggunakan kata الْجَبَلَ (al-jabal, gunung). Ini salah satu contoh saja betapa ayat-ayat al-Qur’an itu saling berhubungan dan saling menjelaskan. Kalau الْجَبَلَ (al-jabal) adalah nama jenisnya—yakni gunung—maka الطُّورَ (at-thŭwr) adalah nama gunungnya—yakni Gunung Tursina. Yang agak menggelisahkan pikiran ialah kenapa yang diangkat sebagai alat sumpah adalah الْجَبَلَ (al-jabal, gunung), dan bukan الْحَجَرَ (al-hajar, batu). Ada dua ayat yang akan menghilangkan kegelisahan ini. “Sungguh Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan mengemban amanat itu karena khawatir akan mengkhianatinya, sehingga amanat itu (pun) diemban oleh manusia. (Maka) sungguh manusia itu amat zalim dan amat bodoh (jika tidak melaksanakan amanah tersebut).” (33:72). Dan “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan (karena) takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (59:21) Jadi dijadikannya الْجَبَلَ (al-jabal, gunung) sebagai alat sumpah adalah karena selain Allah benar-benar hendak membinasakan Bani Israil jika mereka tidak siap mengemban Kitab Suci, Dia juga hendak mengajarkan kepada kita semua bahwa manusia yang lepas dari naungan Kitab Suci, martabatnya lebih rendah dari sebuah gunung. Orang yang mengejar sesuatu menunjukkan bahwa dirinya lebih rendah dari apa yang dikejarnya. Apabila seseorang berpaling dari Kitab Suci karena lebih memilih mengejar materi (gunung), menunjukkan bahwa yang bersangkutan lebih rendah nilainya daripada materi yang dikejarnya.

 

5). Ayat ini diakhiri dengan klausa لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (la’alakum tattaqŭwn, agar kalian bertakwa). Ini konsisten dengan Surat al-Baqarah ayat 2: “Itulah al-Kitab/al-Qur’an (yang) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang bertaqwa” Juga konsisten dengan ayat tentang ibadah (dalam pengertian umum): “Hai manusia, beribadalah kepada Tuhan kalian Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kalian bertakwa.” (2:21) Dan ayat tentang puasa: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kalian bertakwa.” (2:183) Rangkaian ayat-ayat bisa difahami karena hanya orang yang bertaqwalah yang bisa menimba air bening pengetahuan dari Kitab Suci. Sementara untuk mencapai derajat taqwa tidak ada cara lain kecuali beribadah dengan sungguh-sungguh kepada Allah dan menahan diri dari godaan hawa nafsu (dengan berpuasa). Telah disebutkan tadi bahwa generasi-genarasi yang merusak dan berpaling dari Kitab Suci adalah generasi yang memperturutkan hawa nafsunya seraya menjadikan dunia materi sebagai tujuan hidupnya, sehingga keadaan mereka seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya: menjilat sana menjilat sini.

 

AMALAN PRAKTIS

Dunia ini lebih rumit dari hutan belantara. Di hutan lebat Anda masih bisa melihat hewan-hewan buas dari kejauhan. Bahkan masih bisa melihat arah terbit dan tenggelamnya matahari. Tetapi di hutan kehidupan ini, Anda bahkan tidak mengetahui apa yang akan terjadi beberapa jam ke depan. Peluang terjerembab dan tersesat sangat besar. Maka agar itu tidak terjadi, berkeganglah kuat-kuat pada (ajaran) Kitab Suci. Jangan pernah berpisah dengannya kemanapun Anda pergi.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply