Al-Baqarah ayat 56

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 18, 2011
0 Comments
987 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 56

 

ثُمَّ بَعَثْنَاكُم مِّن بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

[Setelah itu Kami bangkitkan kalian setelah matimu, mudah-mudahan (dengan begitu) kalian bersyukur.]

[Then We raised you up after your death that you may give thanks.]

 

1). Sebelum berbicara lebih jauh tentang makna بَعَثْنَاكُم (ba’atsnākum, Kami bangkitkan kalian), kita diskusikan terlebih dahulu kata مَوْتِكُمْ (mawtikum, kematian kalian). Apakah yang dimaksud “mati” di sini adalah mati benaran atau bentuk majazi belaka dari keadaan “tidur” atau “pingsang” setelah mereka disambar halilintar? Perlu juga diingatkan bahwa tidak semua wangsa Bani Israil ikut dalam kasus ini. Yang mengalami keadaan مَوْتِكُمْ (mawtikum, kematian kalian) ini hanya 70 orang yang menjadi wakil-wakil mereka dan pergi bersama Musa untuk melihat Allah dengan kasat mata. “Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk menjumpai Kami. Maka ketika mereka digoncang gempa, Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya’.” (7:155)

Ada dua catatan penting dalam kaitannya dengan kata مَوْتِكُمْ (mawtikum, kematian kalian) ini. Pertama, semua kata مَوْت (mawt) atau الْمَوْت (al-mawt) dalam al-Qur’an bermakna mati benaran, mati dalam pengertian yang sesungguhnya. Yaitu datangnya Malaikat Maut untuk memisahkan jiwa dan tubuh manusia. Ayat berikut ini dengan tegas membedakan antara mati dan tidur: “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain (setelah banun dari tidurnya) sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (39:42) Dan ayat berikut ini sangat masyhur dikutip sebagai maklumat kematian tiap-tiap yang benyawa: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kalian dikembalikan.” (29:57, lihat juga 3:185 dan 21:35) Kedua, ayat 55 ini adalah kelanjutan dari ayat 54 yang dimulai dengan kata إِذْ (idz, ketika) yang menunjukkan adanya suatu peristiwa yang luar biasa (diantaranya mukjizat) yang harus diingat terus oleh Bani Israil.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa مَوْتِكُمْ (mawtikum, kematian kalian) di ayat ini adalah dalam maknanya yang sesungguhnya. Yaitu bahwa ke-70 pemimpin Bani Israil tersebut benar-benar mati setelah disambar oleh halilintar.

 

2). Setelah mereka mati bergelimpangan, Allah lalu membangkitkan (dalam pengertian menghidupkan) kembali mereka: ثُمَّ بَعَثْنَاكُم (tsumma ba’atsnākum, kemudian Kami bangkitkan kalian). Dari sisi tersambarnya halilintar, Allah mengajari mereka betapa Allah itu benar-benar ada, namun keberadaan-Nya tak terjangkau oleh panca indra (seperti telah dibahasa di ayat sebelumnya). Berharap untuk melihat-Nya dengan mata kepala adalah suatu harapan hampa dan perbuatan bodoh. Sedang dari sisi dihidupkannya kembali, Allah hendak mengajari mereka—dan tentu juga kita semua—bahwa hari kebangkitan itu memang benar adanya. Allah berkali-kali mengulangi dalam al-Qura’an bahwa kalau menciptakan manusia dari ketiadaan saja mudah bagi-Nya, maka menghidupkan kembali setelah matinya jauh lebih gampang lagi; ibarat satu kali teriakan saja. “(Orang yang mengingkari Hari Kebangkitan berkata) apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang benar-benar akan dibangkitkan (kembali)? Dan apakah moyang kami yang telah terdahulu (juga akan dibangkitkan)? Katakanlah: ‘Ya, dan kamu akan terhina’. Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya.” (37:16-19) Itu sebabnya, dari kata بَعَثْنَاكُم (ba’atsnākum, Kami bangkitkan kalian) inilah sehingga hari kebangkitan disebut juga dengan yawmul ba’ts.

 

3). Akhir ayat ini sama dengan penutup ayat 52: لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [la’allakum tasykurŭwn, mudahan-mudahan (dengan begitu) kalian bersyukur]. Kalau di ayat 52, yang Bani Israil harus syukuri adalah pembatalan hukum dan dimaafkannya mereka atas dosa besarnya melakukan ke-syiriq-an dengan menyembah الْعِجْل (al-‘ijl, patung anak lembu yang terbuat dari emas dan mengeluarkan suara melalui teknik pembuatannya), maka di ayat ini yang mereka harus syukuri ialah dihidupkannya kembali setelah matinya dan bagaimana Allah telah ‘memperlitakan’ Diri-Nya kepada mereka. Kalau seandainya mereka tidak dihidupkan kembali, tentu akan menjadi sangat fatal bagi kehidupan akhirat mereka, karena mereka mati dalam keadaan ingkar kepada Tuhannya dan dalam keadaan mempermainkan Rasul-Nya. Dan kata لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [la’allakum tasykurŭwn, mudahan-mudahan (dengan begitu) kalian bersyukur] ini tentu bukan hanya ditujukan kepada ke-70 wakil-wakil mereka tadi, tapi hingga kini, hingga akhir zaman. Agar mereka terkesimak bahwa di balik kehidupan duniawi ini ada kehidupan lain dimana setiap orang harus mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan hidupnya beserta seluruh amal-perbuatannya. Dan kehidupan yang lain itulah yang merupakan kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang tak kan berakhir lagi. Pada kehidupan baru itu, para penentang Khalifah Ilahi akan gigit jari: “Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan ar-Rahman (Yang Maha Pemurah). Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’.” (25:26-27)

 

AMALAN PRAKTIS

Kematian adalah fenomena yang paling sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Juga ada di sepanjang kehidupan umat manusia, dari manusia pertama hingga manusia terakhir. Tetapi berapa banyakkah diantara manusia ini yang menyadari kalau mereka itu akan mati lalu dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan semuanya? Untuk meningkatkan rasa syukur Anda, isilah waktu-waktu Anda dengan terus merenungkan arti kematian ini…!!!

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply