Al-Baqarah ayat 55

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 18, 2011
0 Comments
1105 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 55

 

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ

[Dan (ingatlah), ketika kalian berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sampai kami melihat Allah dengan jelas”, karena itu kalian disambar halilintar, sedang kalian menyaksikannya.]

[And when you said: O Musa! we will not believe in you until we see Allah manifestly, so the punishment overtook you while you looked on.]

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang keenam. Isinya juga adalah suatu peristiwa yang mencengangkan.  Yaitu ketika Bani Israil meminta kepada Nabi Musa untuk memperlihatkan kepada mereka wujud Allah dengan kasat mata sepertimana mereka melihat dengan kasat mata “tongkat jadi ular”, “laut terbelah”, dan “Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam di laut”. Kalau di ayat-ayat sebelumnya Allah menceritakan dua alasan mereka menyembah الْعِجْل (al-‘ijl): alasan politis (dengan mengkhianati Khalifah Ilahi) dan alasan psikhologis (dengan menzalimi diri mereka sendiri). Maka di ayat ini Allah menambahkan alasan filosofisnya. Yaitu mereka tidak bisa menalar hubungan antara alam ghaib (immaterial, transenden) dan alam syahadah (material, empirik). Bahkan kalau kita menyimak dengan saksama permintaan mereka, mereka sebetulnya tidak percaya adanya alam ghaib. Padahal, seperti telah dijelaskan di ayat 3, syarat pertama dan utama untuk menerima dan menggunakan Kitab Suci sebagai PETUNJUK, ialah mengimani alam ghaib. Dan untuk mengimani alam ghaib ini perangkatnya adalah rasio, sedangkan alam syahadah cukup dengan indra. Temuan rasio bersifat yaqini (meyakinan), temuan indra bersifat raybi (meragukan). Kerja rasio tdak harus dengan materi dan bentuk, sementara kerja indra mutlak butuh pada materi dan bentuk. Kemudian materi dan bentuk ini meniscayakan adanya ruang dan waktu. Mereka tidak faham bahwa ruang dan waktu adalah entitas-entitas yang terbatas (limited). Keinginan mereka untuk melihat Allah dengan kasat mata sama dengan keinginan untuk memerangkap Allah ke dalam keterbatasan. Mereka tidak tahu bahwa tidak mungkin yang tidak terbatas (unlimited) ‘masuk’ ke dalam yang terbatas (limited). Jelas keinginan mereka ini bertentangan dengan sifat-sifat Allah. Buntutnya: mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan akalnya: “Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kalian melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kalian membaca Al Kitab (Taurat)? Maka mengapa kalian tidak menggunakan akal?” (2:44)

 

2). Perhatikan pilihan kata mereka: لَن نُّؤْمِنَ لَكَ (lan nu’mina laka, kami sekali-sekali tidak akan beriman kepadamu). Huruf لَن (lan)-nya adalah taukĭd (menguatkan) yang dimaksudkan untuk memperkuat pernyataan ketidakberimanan mereka. Mereka bersumpah kepada Nabi Musa bahwa mereka sekali-sekali tidak akan beriman kepada Allah hingga batas (atau syarat) yang mereka sendiri tentukan terlaksana. Jadi satu-satunya yang bisa membuat mereka beriman adalah apabila batas (atau syarat) yang mereka tentukan tersebut terwujud. Sebetulnya ini tidak masalah selama batas (atau syarat) tersebut memang ada nisbah dengan keberimanan yang mereka janjikan. Coba kita lihat batas (atau syarat) yang mereka tuntut: حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً (hattā naral-laha jaɦratan, sampai kami melihat Allah dengan jelas). Kata حَتَّى (hattā, sampai) menunjukkan batas yang mereka patok. Kalau batas (atau syarat) ini tidak tercapai, mereka sama sekali tidak akan (never) beriman. Sayangnya batas (atau syarat) yang mereka tetapkan adalah sesuatu yang tidak mungkin tercapai. Seperti telah diterangkan pada poin 1, Allah mustahil terperangkap ke dalam ruang-waktu ciptaan-Nya. Karena apabila Dia melakukan itu, maka Dia menyerupakan diri-Nya dengan sesuatu. Sementara, dimana ada keserupaan disitu pasti ada kemenduaan (dualitas). Padahal Dia sendiri menyebut Diri-Nya sebagai: “ (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kalian sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kalian berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (42:11) Kesimpulannya, mereka sesungguhnya tidak akan pernah mau beriman dikarenakan mereka tidak menggunakan akalnya dan karena mereka hanya ingin memperolok-olokkan ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya. “Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olokan.” (18:106) Dengan begitu, mereka ingin mengesankan sekan-akan Nabi Musa dan Allah yang butuh iman mereka.

 

3). Kali ini mereka langsung mendapatkan hukumannya. Tiba-tiba mereka disambar halilintar. Dan dengan serta-merta mereka bergelimpangan tak sadarkan diri. Allah seakan hendak menunjkkan kepada mereka bahwa kalau melihat cahaya yang superterang saja mereka tidak sanggup apatah lagi melihat Allah. Bukanakah Allah itu adalah Cahaya di atas cahaya (24:35). Ibrah (pelajaran berharga) yang bisa kita tangkap dari kejadian ini adalah bahwa panca indra manusia memiliki keterbatasan yang sangat mendasar. Mata tidak bisa melihat tanpa cahaya, tapi juga tidak bisa melihat cahaya yang terang-benderang. Telinga tidak bisa mendengar tanpa gelombang suara, tapi gelombang suara yang terlalu tinggi juga bisa ‘menjebol’ gendang-gendangnya. Hidung tidak bisa membau tanpa aroma, tapi aroma yang terlalu tajam juga bisa membuatnya pingsan. Kulit tidak bisa merasa tanpa temperatur, tapi temperatur yang terlalu dingin bisa membuatnya membeku dan temperatur yang terlalu panas bisa membuatnya melepuh. Bias-bias juga terjadi pada indra apabila objeknya semakin jauh. Padahal kondisi objektif benda sebetulnya tidak berubah dengan berubahnya jarak dari si pengamat. Maka seandainyapun Allah bisa dijangkau oleh indra, maka pasti dalam bentuknya yang sudah mengalami eliminasi, reduksi, dan degradasi yang amat jauh; dan itu pasti bukan lagi Allah dalam arti yang sesungguhnya. “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (6:103)

 

4). وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ [wa antum tandhurŭwn, sedang kalian sendiri menyaksikan (peristiwa itu)]. Ini persis sama dengan penutup ayat 50 yang lalu. Yang maksudnya agar Bani Israil jangan mengulangi kejadian sebelumnya. Yaitu meminta hal-hal yang tidak masuk akal. Iman memang bukan dogma, tapi juga bukan sulap. Iman adalah bentuk advanced dari rasionalitas. Wilayah iman justru menjangkau hal-hal yang melampaui panca indra. Wilayah yang terjangkau oleh panca indra tidak perlu diimani, cukup diketahui dan dialami saja. Untuk itu rasio menjadi syarat pendahuluan dari iman, karena hanya rasiolah yang bisa menjangkau semua hal yang tidak terjangkau oleh panca indra. Tetapi, kendati mereka ‘menyaksikan’ kejadian ‘lucu’ tersebut, mereka tetap mengulanginya kembali saat menyambut kedatangan Nabi Muhammad sebagai penerus nabi dan rasul sebelumnya. “Ahli Kitab meminta kepadamu (Muhammad) agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: ‘Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyatai. Maka mereka disambar halilintar karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma`afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.” (4:158)

 

AMALAN PRAKTIS

Setiap nabi dan rasul mengajak manusia untuk mengimaninya. Tetapi ketahuilah, bukan mereka yang butuh iman kita. Status mereka tidak turun karena penolakan kita. Jiwa kitalah yang butu kepada iman tersebut. Apabila kita tidak mengimani Allah dan Rasul-Nya, niscaya kita akan mengimani selainnya; dan itu adalah dunia. Padahal dunia ini kelak akan bisa. Maka kalau Anda mengimani dunia, kelak Anda termasuk orang yang papa dan menderita.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply