Al-Baqarah ayat 54

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 16, 2011
2 Comments
2207 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 54

 

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُواْ إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيم

[Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: Hai kaumku, sesungguhnya kalian telah menganiaya dirimu sendiri karena kalian telah menjadikan (patung) anak lembu (sebagai sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kalian dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kalian; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.]

[And when Musa said to his people: O my people! you have surely been unjust to yourselves by taking the calf (for a god), therefore turn to your Creator (penitently), so kill your people, that is best for you with your Creator: so He turned to you (mercifully), for surely He is the Oft-returning (to mercy), the Merciful.]

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang kelima. Bunyinya ada kesamaan dengan ayat 51, yaitu seputar penyembahan Bani Israil kepada الْعِجْل (al-‘ijl, patung anak lembu yang terbuat dari emas dan mengeluarkan suara melalui teknik pembuatannya). Kalau di ayat 51 penekanannya pada bagaimana Bani Israil begitu cepatnya merusak agama (dengan menyembah al-‘ijl setelah sebelumnya mengkhianati Khalifah Ilahi pilihan Allah dan Rasul-Nya) padahal baru 40 malam ditinggal pergi oleh Nabi Musa, maka pada ayat ini penekanannya pada dampak psikologis dari tindakan itu dan bagaimana mekanisme pertobatannya. Dan ini juga sangat penting karena menyangkut penyakit jiwa yang sangat serius, yang tentu saja secara mekanistik berdampak pada tindakan keseharian mereka. Di sini Nabi Musa mengingatkan kaumnya bahwa menyembah الْعِجْل (al-‘ijl) itu bukan sekedar perbuatan biasa. Perbuatan itu mencerminkan betapa rusaknya jiwa mereka, yang ditandai dengan dua hal. Satu, pengkhianatan mereka kepada Khalifah Ilahi pilihan Allah dan Rasul-Nya menunjukkan bahwa di dalam jiwa mereka ada penyakit nifaq (penyakit kemunafiqan) yang sungguh sangat kritis. Setiap pengkhianatan kepada Allah dan Rasul-Nya pada dasarnya adalah pengkhianatan pada diri sendiri, karena semua yang dibawah oleh Allah dan Rasul-Nya adalah murni untuk kepentingan manusia sendiri. Dan setiap pengkhianatan pada diri sendiri pada hakikatnya juga adalah perbuatan menzalimi diri sendiri. Ingat kembali ayat ini: “Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam berdiamlah kamu dan isterimu di taman (ini), dan makanlah daripadanya (makanan-makanannya) sebanyak-banyaknya di mana saja yang kamu (berdua) sukai, dan janganlah kamu (berdua) dekati pohon ini, (karena akan) menyebabkan kamu (berdua) termasuk orang-orang yang zalim’.” (2:35) Dan juga ayat ini: “Sungguh Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan mengemban amanat itu karena khawatir akan mengkhianatinya, sehingga amanat itu (pun) diemban oleh manusia. (Maka) sungguh manusia itu amat zalim dan amat bodoh (jika tidak melaksanakan amanah tersebut).” (33:72)

Dua, menyembah الْعِجْل (al-‘ijl) adalah perbuatan syiriq (menyekutukan Allah), sementara kezaliman paling besar adalah mensyarikatkan Allah swt. “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah (karena) sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (31:13) Jadi apa yang Bani Israil lakukan adalah kezaliman yang sangat besar. Dan hebatnya lagi, kezaliman itu mereka lakukan bukan terhadap siapa-siapa, tapi terhadap diri mereka sendiri. Sebegitu besarnya dosa syiriq ini sehingga Allah menyebutnya sebagai satu-satunya dosa yang tak terampuni, andaikan terbawa sampai mati. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (4:48) Dengan kandungan ayat yang hampir sama tapi penutup yang berbeda: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan-Nya, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (4:116)

 

2). Berdasarkan pengakuan Samiri sendiri sebagai inisiator الْعِجْل (al-‘ijl), perbuatan itu dia lakukan karena memperturutkan hawa nafsunya (20:96). Artinya, penyembahan kepada الْعِجْل (al-‘ijl) itu hanyalah tampilan luaran belaka. Yang terjadi sesungguhnya di sana ialah penyembahan terhadap hawa nafsu. Menyembah patung, pohon, hewan yang disakralkan, dan sebagainya, itu hanyalah caranya jiwa (yang menyembah hawa nafsu) memperlihatkan dirinya di dunia eksternal. Jadi syiriq yang sebenar-benarnya adalah menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan tandingan (ilāɦ) selain daripada Allah. Sehingga orang yang tidak lagi menyembah kuburan tidak secara otomatis juga tidak lagi menyembah hawa nafsunya. Orang yang menjadikan ke-syiriq-an sebagai subyek utama bahasan ilmiahnya belum tentu juga sudah terbebas dari melakukan ke-syiriq-an. Bahkan sangat mungkin saat menyerang dengan sengit pihak yang kita tuding melakukan ke-syiriq-an, kita pun tengah melakukan ke-syiriq-an yang sama dengan cara memperturutkan hawa nafsu. “Apakah kamu (Muhammad) telah memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya? Masih pantaskah kamu menjadi wakil baginya (nanti di akhirat)? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu (masih) mendengar atau menggunakan aqalnya? Tiadalah mereka itu kecuali seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat (lagi) jalannya (dari binatang ternak itu).” (25:43-44) Simak juga ayat berikut ini: “Apakah kamu (Muhammad) telah memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya? Allah telah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dengan mengunci mati pendengaran dan qalbunya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Kenapa kalian tidak mengambil pelajaran?” (45:23)

 

3). Itu makanya Allah di sini tidak menyebut Diri-Nya sebagai Ilāh atau Rabb, seperti yang banyak kita jumpai di sembarang tempat dalam al-Qur’an. Di ayat ini Dia menyebut Diri-Nya sebagai بَارِئ  (bāri’) atau الْبَارِئُ (albāri’). Ini adalah bentuk fā’il (pelaku)-nya, sedang bentuk kata kerjanya bisa kita lihat penggunaannya di ayat berikut ini: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis di sebuah  kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakan-nya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (57:22) Perhatikan kata “menciptakan”; ini diterjemahkan dari kata نَّبْرَأَ (nabraa, Kami menciptakan). Sebetulnya tidak begitu tepat mengartikannya dengan “menciptakan” sebab akan mengacaukan pengertiannya dengan kata خَلَقَ (khalaqa)—yang bentuk fā’il-nya adalah الْخَالِقُ (al-khāliq)—yang terlebih dahulu diterima dan telah digunakan secara luas. Kelihatannya, terjemahan yang lebih pas dari kata الْبَارِئُ (albāri’) ini ialah “membebaskan”; yaitu “membesakan” potensialitas menjadi aktualitas, atau “membebaskan” sesuatu dari kegelapan wujud menuju ke beranda cahaya wujud sehingga statusnya berubah menjadi maujud (terwujudkan). Manusia yang tadinya materi murni (mineral, hewani, nabati), dengan kehendak Allah, Dia “membebaskan”-nya dari kegelapan alam materi tersebut menuju cahaya alam insani, alam nasut; dari gelapnya belenggu hukum alam menuju terangnya kehendak bebas. Itu sebabnya, ketika menceritakan mukjizat Nabi Isa yang menyembuhkan orang buta sejak lahir, al-Qur’an menggunakan bentuk dengan asal kata yang sama; yaitu: وَأُبْرِئُ الأكْمَهَ [wa ubri’ul-akmaha, dan aku menyembuhkan orang buta sejak lahir, (lihat 3:49)], yang tentu bermakna “membebaskan” mata dari gelapnya kebutaan menuju kepada indahnya penglihatan.

Dalam kaitan Bani Israil, Allah mengingatkan mereka bahwa dengan menyembah الْعِجْل (al-‘ijl) atau melakukan ke-syiriq-an, pada hakikatnya mereka membelenggu diri mereka sendiri setelah Allah “membebaskan”-nya dari penjara kegelapan materi (sebelum lahir) dan dari penjara kegelapan perbudakan (sebelum kedatangan Nabi Musa).

 

4). Karena syiriq adalah kezaliman yang paling besar, maka di ayat ini Allah sekaligus mengajarkan mekanisme pertobatannya. (catatan: kalau Allah memperlihatkan suatau masalah, pasti pada saat yang sama juga menunjukkan solusinya). Tobatnya orang yang melakukan ke-syiriq-an tidak cukup dengan istighfar (memohon ampun kepada Allah). Karena syiriq disebabkan oleh rusaknya jiwa secara kronis, rusaknya jiwa pada stadium yang paling tinggi, maka untuk menyembuhkannya harus melakukan ‘tindakan bunuh diri’. Yaitu mematikan atau membunuh sifat jiwa yang doyan menyembah hawa nafsunya. Maksudnya, Karena Allah-lah sebagai الْبَارِئُ (albāri’, Sang Pembebas), maka cara satu-satunya untuk meraih kembali kemerdekaannya adalah dengan membunuh jiwanya yang dikuasai oleh hawa nafsunya dan menghidupkan kembali jiwa yang terbebaskan. Yaitu dengan menghadapkan kembali jiwa tersebut semata kepada Sang Pembebas-nya. Barulah setelah itu, tobat mereka diterima.

 

AMALAN PRAKTIS

Berhati-hatilah dengan hawa nafsu Anda.  Karena apabila dia menguasai Anda, maka Anda sebetulnya sudah melakukan ke-syiriq-an, sudah melakukan kezaliman yang besar. Dan kalau Anda sudah tega melakukan kezaliman kepada diri Anda sendiri, maka niscaya Anda dengan mudah juga menzalimi orang lain. Dan, ketahuilah, yang pertama merasakan kezaliman Anda itu adalah orang terdekat Anda sendiri.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply