Al-Baqarah ayat 53

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 15, 2011
0 Comments
1279 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 53

 

وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

[Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa al-Kitab (Taurat) dan al-Furqan (pembeda antara yang benar dan yang salah), mudah-mudahan kalian mendapat petunjuk.]

[And when We gave Musa the Book and the distinction that you might walk aright.]

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang keempat. Yaitu bahwa Bani Israil perlu mengingat kembali betapa kehidupan mereka berubah drastis setelah Allah mengirimkan kepada mereka, melalui Nabi Musa, sebuah Kitab Suci. Disebut drastis, karena sebelum itu mereka hanyalah sebuah wangsa yang hina, papa, paria, jahiliah, dan budak Fir’aun. Berkat Taurat, Kitab Suci yang diajarkan Nabi Musa kepada mereka, dengan serta-merta indeks strata sosial mereka terus membaik. Bisa dikatakan, Taurat adalah Kitab Pembebasan bagi mereka—pembebasan dari perbudakan dan pembebasan dari pembodohan. Mereka yang tadinya tidak memiliki apa-apa, termasuk tidak memiliki diri mereka sendiri, kini telah memiliki kekayaan yang paling berharga: kemerdekaan. Mereka yang tadinya tidak mengetahui apapun kecuali mengangkat batu-batu besar untuk disusun jadi kuburan raja-raja, kini telah memiliki pengetahuan yang paling fundamental: al-Furqan (kemampuan membedakan antara yang hakiki dan yang ilusi). Kitab Suci, memang, pada hakikatnya adalah Kitab Samawi yang diantara fungsinya ialah memandu para penganutnya  untuk menjadi insan merdeka dan cerdas. Kemerdekaan sejati tercapai apabila kita tidak lagi menghamba kepada siapapun dan apapun selain daripada Allah. Sementara kecerdasan sejati tergapai manakala kita tidak lagi tertipu oleh hal-hal yang sifatnya ilusi seraya memegang teguh hal-hal yang sifatnya hakiki. Kepada Bani Israil, Allah berseru agar tetap mengingat nikmat besar ini (al-Kitab dan al-Furqan), supaya mereka tidak jatuh kembali menjadi wangsa yang hina, papa, paria, jahiliah, dan budak hawa nafsu. “Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (ni’mat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka.” (6:154)

 

2). Di ayat ini Allah meletakkan الْكِتَابَ (alKitāb) dan الْفُرْقَانَ (alFurqān) dalam posisi sejajar yang ditandai dengan: satu, yang kedua (الْفُرْقَانَ) bukan merupakan dan tidak dalam bentuk “keadaan” (hāl)menerangkan keadaan—dari yang pertama (الْكِتَابَ), tetapi sama-sama dalam bentuk ma’rifah (terdefenisikan) yang dipisahkan oleh, dua, waw ‘athaf (huruf waw penyambung) di antara keduanya, yang menunjukkan secara jelas kesatuan tapi sekaligus perbedaannya. Artinya, ada dua hal yang diberikan kepada Nabi Musa; yaitu الْكِتَابَ (alKitāb) dan الْفُرْقَانَ (alFurqān). Keduanya merupakan dua hal yang berbeda tetapi sekaligus berada dalam satu kesatuan. Terkadang disebut الْفُرْقَانَ (alFurqān) saja: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun الْفُرْقَانَ (alFurqān) dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (21:84) Bahkan ada satu surat dalam al-Qur’an yang namanya Surat al-Furqān, yakni surat yang ke-25, yang di ayat pertamanya langsung menyebut nama الْفُرْقَانَ (alFurqān): “Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia (Muhammad) menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” Kalau kita telurusi penggunaannya dalam al-Qur’an, hanya ada dua Kitab Suci yang mendapat sandingan atau disusul oleh kata الْفُرْقَانَ (alFurqān) ini. Yaitu Taurat dan al-Qur’an. “Bulan Ramadhan, (ialah) bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan al-Furqaan (pembeda antara yang hak dan yang bathil)…” (2:185)

Untuk memahami makna “kesatuan dan sekaligus perbedaannya” ini, kita masih membutuhkan bantuan dari ayat lain yang menggunakan kata الْفُرْقَانَ (al-Furqaan). Simak ayat berikut ini: “Ketahuilah, bahwasanya apa saja yang kalian peroleh (seperti rampasan perang), maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu-sabil, jika kalian beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari al-Furqān, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (8:41) Dua pasukan itu ialah pasukan yang berperang di jalan Allah (di belakang Khalifah Ilahi) dan pasukan yang berperang di jalan thaghut (di belakang Khalifah Duniawi); “Orang beriman berperang di jalan Allah, dan orang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (4:76) Telah disebutkan sebelumnya (di ayat 2) bahwa الْكِتَابَ (alKitāb) itu adalah PETUNJUK bagi orang-orang yang bertaqwa. Dan diantara ciri orang yang bertaqwa ialah “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqān dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (8:29)

Jadi bisa kita simpulkan bahwa Taurat dan al-Qur’an disebut الْكِتَابَ (alKitāb) karena berisi ketentuan-ketentuan atau ketetapan-ketetapan Allah yang mencakup seluruh realitas. Ketika ketentuan-ketentuan atau ketetapan-ketetapan ini menyeruak masuk ke dalam jiwa sebagai hasil dari taqwa kita, maka dia [الْكِتَابَ (alKitāb) tersebut] menjelma menjadi الْفُرْقَانَ (al-Furqaan), pembeda yang tegas antara yang haq dan yang bathil, antara yang ilahi dan yang syaithani. Seperti sebuah pedang yang tajam yang bisa memisahkan secara jelas dua bagian secara terpisah. Apabila jiwa belum mampu melakukan pemilahan dan pemilihan secara tegas seperti ini, maka baginya Kitab Suci baru sebatas الْكِتَابَ (alKitāb) yang dipandang dari ‘jarak’ yang jauh. Bisa kita katakan, “Kitab Suci yang tersimpan di dalam lembaran-lembaran kertas berjilid dan terbaca disebut الْكِتَابَ (alKitāb), sedangkan Kitab Suci yang tersimpan di dalam lipatan-lipatan jiwa yang suci dan teramalkan disebut الْفُرْقَانَ (al-Furqaan).” Dan ingat, yang menggerakkan amal-saleh perbuatan manusia bukan kertas berjilid tapi jiwa yang suci. Sehingga semakin tinggi derajat taqwa (derajat kesucian jiwa) seseorang semakin tinggi pula kualitas furqān-nya.

 

3). Itu sebabnya Allah mengakhiri ayat ini dengan anak kalimat: لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (la’allakum taɦtadŭwn, mudah-mudahan kalian mendapat petunjuk). Kata لَعَل (la’alla, mudah-mudahan) bermakna tarāji’ (harapan). Artinya, tidak semua orang yang membaca Kitab Suci secara otomatis tertuntun (atau mendapat PETUNJUK) untuk beramal dengan benar atau, dengan istilah lain, beramal-saleh. Ada dua syarat minimal: pertama, mengimani; kedua, menjiwai. Yang pertama dengan ilmu; yang kedua dengan kesucian jiwa. Kitab Suci tidak akan menjadi PETUNJUK apabila tidak menjelma ke dalam jiwa; dan tidak akan menjelma ke dalam jiwa apabila jiwa itu kotor—penuh dengan dendam, iri hati, dengki, dan sebagainya. Sementara Kitab Suci tidak akan menjadi furqān manakala belum terpatri di dalam jiwa. Sehingga bisa kita tutup begini: Bukti bahwa Kitab Suci itu telah menjadi PETUNJUK bagi seseorang ialah apabila sudah bisa menjadi furqān bagi orang tersebut. Bani Israil diingatkan dengan ini semuanya karena dalam perjalanan sejarahnya mereka membaca Kitab Suci, tapi kenyataan sosial justru membuktikan sebaliknya.

 

AMALAN PRAKTIS

Baca dan bacalah terus Kitab Suci beserta maknanya, hingga menyeruak masuk ke dalam jiwa. Cepat tidaknya proses ini tergantung sepenuhnya pada kesucian jiwa Anda. Maka selain rajin membacanya, juga teruslah bermujahadah untuk mensucikan jiwa dengan menghilangkan penyakit-penyakit hati. Semoga denga begitu, alKitāb sekaligus menjadi al-Furqaan bagi diri Anda.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply