Al-Baqarah ayat 52

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 14, 2011
0 Comments
1194 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 52

 

ثُمَّ عَفَوْنَا عَنكُمِ مِّن بَعْدِ ذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

[Kemudian sesudah itu Kami mema`afkan kesalahanmu, mudah-mudahan (dengan begitu) kalian bersyukur.]

[Then We pardoned you after that so that you might give thanks.]

 

1). Membuat hal-hal baru dalam agama seperti (atau menyembah) الْعِجْل (al-‘ijl, patung anak lembu yang terbuat dari emas dan mengeluarkan suara melalui teknik pembuatannya) adalah suatu kesalahan besar. Tetapi sebesar-besarnya suatu kesalahan bukan berarti tidak ada pintu maaf lagi bagi pelakunya. “(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil. (Ketahuilah) sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kalian dari tanah dan ketika kalian masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kalian mrasa diri suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (53:32) Pintu ampunan Allah sangat luas seluas rahmat-Nya. Sedangkan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Seperti tergambar pada doa Nabi Musa berikut ini: “Dan (wahai Tuhanku) tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: ‘Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami’.” (7:156) Maka walaupun Bani Israil telah mengkhianati Khalifah Ilahi pilihan Allah dan Rasul-Nya, tetapi begitu mereka kembali menyadari kesalahannya dan mengikuti kembali Khalifah Ilahi tersebut seraya meninggalkan Khalifah Duniawi hasil rekayasa Samiri, akhirnya mereka mendapatkan ampunan dari Allah. Untuk itu, Allah melarang hamba-Nya untuk berputus asa dari rahmat-Nya. “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan melakukan banyak kesalahan dan dosa), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (39:53)

 

2). Yang juga menarik dicermati dari ayat ini ialah bahwa Allah menggunakan kata عَفَوْنَا (afawnā, Kami memaafkan) dan bukan غَفَرْنَا (ghafarnā, Kami mengampuni)—seperti yang bisa kita temukan di 38:25 “Maka Kami mengampuni baginya kesalahannya itu…” Dan di dalam al-Qur’an, apabila bergandengan atau bersusulan, kedua kata ini tidak pernah bertukar tempat; selalu kata “memaafkan” mendahului kata “mengampuni”. Contohnya: “Mereka itulah (yang) mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (4:99) Yang bisa kita fahami dari urutan ini ialah bahwa “maaf”-Nya Allah mendahului “ampunan”-Nya. Kelihatannya, “maaf”-Nya terjadi di dunia ini, sedang “ampunan”-Nya terjadi nanti di akhirat. Artinya, dosa yang seharusnya diganjar nanti di akhirat, tapi karena “ampunan”-Nya, menjadi terhapuskan. Sementara suatu kesalahan atau pelanggaran yang seharusnya mengundang hukuman atau azab Allah di dunia ini, tapi karena “maaf”-Nya, menjadi terbebaskan (dari hukuman tersebut). Seperti kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan Bani Israil dengan merusak agama dan menyembah الْعِجْل (al-‘ijl), seharusnya menjadi penyebab mereka dihukum, tapi kemudian Allah “memaafkan” pelanggaran tersebut, sehingga mereka terbebas dari hukuman. Untuk lebih jelasnya, perhatikan ayat ini: “Tidak perlu kalian mmenyesal, (karena) kalian benar-benar kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kalian (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka selalu melakukan kejahatan.” (9:66) Jadi lawan dari “memaafkan” adalah “mengazab di dunia”, dan lawan dari “mengampuni” dalah “mengazab di akhirat”. Untuk kasus Bani Israil: “Ahli Kitab meminta kepadamu (Muhammad) agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: ‘Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata’. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan (kemudian) mereka menyembah (patung) anak sapi sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari (hukuman seperti) itu. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.” (4:153) Artinya, penyembahan mereka kepada الْعِجْل (al-‘ijl) seharusnya juga mengundang hukuman seperti sambaran petir tadi, tapi itu tidak terjadi karena Allah memaafkan mereka.

Selain berbeda dalam hal arti dan waktu berlakunya, perbedaan lainnya ada dua. Satu, kata “memaafkan” jauh lebih sedikit dari kata “mengampuni”. Dua, perbuatan “memaafkan” selain dilakukan oleh Allah dan Rasul-Nya, juga bisa dilakukan oleh manusia manapun, terutama oleh orang yang bertaqwa. “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (3:134) Sedangkan perbuatan “mengampuni” hanya bisa dilakukan oleh Allah. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka (lalu) mengingat Allah, seraya memohon ampun atas dosa-dosa mereka; dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (3:135)

 

3). Lalu untuk apa Allah “memaafkan” kesalahan hamba-Nya yang jelas-jelas telah melakukan pelanggaran? Allah sendiri yang menjawab: لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [la’allakum tasykurŭwn, mudahan-mudahan (dengan begitu) kalian bersyukur]. Yaitu, semoga saja setelah menerima pembatalan hukuman tersebut para pelaku pelanggaran bisa mensyukuri pemberian maaf itu dengan kembali kepada Shirathal Mustaqĭym (Jalan yang Lurus). Karena hukuman Allah adalah hukuman yang membinasakan. Kaum Nabi Nuh dan Fir’aun beserta bala tentaranya dihukum dengan ditenggalemkan ke dalam laut. Qarun dihukum dengan ditenggelamkan ke dalam tanah. Abraha dan bala tentaranya dihukum dengan dilempari kerikil-kerikil beracun oleh burung ababil. Dan sebagainya. Maka demi menghindarkan hamba-hamba-Nya dari kebinasaan seperti itu, dengan Rahman dan Rahim-Nya, dengan Kasih dan Sayang-Nya, Allah tak henti-hentinya memaafkan kesalahan-kesalahan mereka. Bahkan Dia mengajari mereka doa yang sangat indah: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (2:286)

 

AMALAN PRAKTIS

Ketahuilah, terlalu banyak pelanggaran yang kita lakukan yang sebetulnya pantas mendapat hukuman dari Allah. Tetapi karena Rahman dan Rahim-Nya, Dia senantiasa memaafkan kita. Tetapi, Anda jangan justru terlena dengan sifat Pemaaf-Nya, karena hal itu bisa membuat Anda mengentengkan perbuatan dosa. Sifat Pemaaf-Nya bukan untuk dientengkan, melainkan untuk disyukuri dengan secepatnya kembali ke Jalan-Nya yang Lurus.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply