Al-Baqarah ayat 51

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 13, 2011
0 Comments
1274 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 51

 

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ

[Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (untuk memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, kemudian kalian menjadikan (patung) anak lembu (sebagai sembahan) sepeninggalnya, dan kalian (saat itu adalah) orang-orang yang zalim.]

[And when We appointed a time of forty nights with Musa, then you took the calf (for a god) after him and you were unjust.]

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) ketiga. Yang artinya isi ayat ini termasuk sesuatu yang sangat penting untuk diingat oleh Bani Israil. Dan juga oleh kita semua agar peristiwanya tidak terulang kembali. Yaitu pada saat Allah ‘mengundang’ kekasih-Nya, Nabi Musa as, untuk datang ‘menemui’-Nya di Gunung Tursina. Pada awalnya Allah berjanji kepada Musa selama 30 malam, tetapi kemudian Allah menambahkannya 10 malam lagi sehingga totalnya menjadi 40 malam. “Dan Kami telah berjanji kepada Musa (untuk memberikan Taurat sesudah berlalu waktu) tiga puluh malam, lalu Kami sempurnakan (jumlah itu) dengan sepuluh (malam lagi), sehingga sempurnalah perjumpaan dengan Tuhannya (menjadi) empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya, Harun, ‘Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan tuntunlah (mereka) dengan baik, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan’.” (7:142) Berdasarkan informasi tambahan yang kita dapatkan dari 7:42 ini, arti penting dari peringatan Allah kepada Bani Israil—dan juga kepada kita—ialah bahwa walaupun Nabi Musa akan pergi meninggalkan kaumnya hanya 40 malam, tetapi sudah harus menunjuk pengganti sepeninggalnya. Melalui kejadian penting ini, Allah hendak mengajarkan kepada kita betapa pentingnya yang namanya imamah (kepempinan) sebagai pelaksana tugas risalah dalam kaitannya dengan ketiadaan nabi utama. Dan penunjukkan Harun sebagai khalifah pengganti bukan sesuatu yang terjadi secara mendadak. Sejak jauh hari Nabi Musa telah mempersiapkannya dan meminta Allah untuk memilihnya. Mari kita simak permintaan Nabi Musa kepada Allah di awal ‘karir’ kenabiannya: “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari (kalangan) keluargaku. (yaitu) Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku. Dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku. Supaya kami banyak bertasbih kepada-Mu. Dan banyak mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami”. Allah berfirman: ‘Sungguh permintaanmu telah diperkenankan, wahai Musa’.” (20:29-36) Ayat-ayat ini mengingatkan kita kembali pada pembahasan ayat 30 bahwasanya pemilihan Khalifah Ilahi adalah murni domain Allah dan bukan domain manusia. Karena yang akan dipilih adalah Khalifatul-Lah (Khalifah Allah untuk manusia) dan bukan Khalifatun-Nas (Khalifah manusia untuk manusia). Di sinilah letak perbedaan penting antara Khalifah Ilahi dan Khalifah Duniawi, yaitu pada cara pemilihannya.

 

2). Episode penting berikutnya ialah ketika Nabi Musa kembali dari Gunung Tursina dan menjumpai kaumnya sudah menyembah الْعِجْل (al-‘ijl, patung anak lembu yang terbuat dari emas dan mengeluarkan suara melalui teknik pembuatannya). Musa marah dan meminta ‘pertanggungjawaban’ dari Harun sebagai pelaksana tugas imamah. Melalui dialog intensif antara Musa dan Harun terungkap penyebab utama dari kejadian ini. Yaitu ternyata ada pihak yang mengintimidasi bahkan mengancam untuk membunuh Khalifah pilihan Allah dan Rasul-Nya. “Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih dia berkata: ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kalian kerjakan sepeninggalku! Apakah kalian hendak mendahului janji Tuhanmu?’ Dan Musapun mencampakkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: ‘Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim’.” (7:150, lihat juga 20:86) Dan ternyata memang diantara tujuan Allah mengundang Musa datang menjumpai-Nya ialah karena Dia hendak menguji kesetiaan pengikutnya sepeninggal nabinya. “Allah berfirman: ‘Maka sesungguhnya kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan (ternyata) mereka telah disesatkan oleh Samiri’.” (20:85) Jadi penyembahan الْعِجْل (al-‘ijl) atau kerusakan umat hanyalah konsekuensi logis dari terkhianatinya Khalifah pilihan Allah dan Rasul-Nya. Dan Samiri-lah tokoh utama yang berada di balik semua ini. Dialah yang memobilisasi kekuatan untuk mengintimidasi dan mengancam membunuh Harun. Sehingga, dengan cara licik seperti itu, dia (Samiri) secara de-facto menjadi Khalifah umat. Dia pulalah yang kemudian memprakarsai pembuatan agama الْعِجْل (al-‘ijl) tersebut dengan cara ‘menunggangi’ jejak risalah kenabian. “Samiri mengatakan: ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil secuil dari jejak rasul lalu aku melemparkan(yanglain)nya, dan demikianlah hawa nafsuku membujukku’.” (20:96)

 

3). Ayat ini diakhiri dengan anak kalimat: وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ (wa antum dhālimŭwn, dan kalian  orang-orang yang zalim]. Dari poin 1 dan 2 bisa kita simpulkan bahwa penyebab langsung kezaliman mereka bukan karena mereka menjadikan الْعِجْل (al-‘ijl) sebagai sembahahan, tetapi karena mereka mengkhianati Khalifah Ilahi yang ditunjuk oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana ketika Allah mengingatkan Adam dan istrinya untuk tidak mendekati Pohon Terlarang: “…dan janganlah kamu (berdua) dekati pohon ini, (karena akan) menyebabkan kamu (berdua) termasuk orang-orang yang zalim.” (2:35)

 

4). Yang menarik juga di sini ialah angka 40 (empatpuluh). Dan di belakang angka ini muncul kata لَيْلَةً (laylah), “malam” dan bukan “hari”, padahal secara kultural apabaila seseorang atau sekelompok orang bepergian dan menyebutkan lama kepergiannya, pada umumnya menggunakan kata “hari” (umpamanya: 30 hari atau 10 hari). Karena ini menyangkut mĭyqat (perjumpaan) dengan Allah, maka selain jumlah bilangannya yang penting, juga waktu perjumpaannya, dimana dalam hal ini pada “malam” hari dan bukan pada “siang” hari. Menurut 7:142 (yang telah kita kutip di poin 1), 40 malam adalah waktu yang sempurna untuk mĭyqat (berjumpa) dengan Allah. Kurang dari itu dianggap tidak sempurna. Tentang “malam” hari, Allah sendiri juga yang mengungkapkan rahasinya. “Sesungguhnya bangun (salat) di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).” (73:6-7) Maka Allah berkali-kali meminta agar orang beriman jangan menyia-nyiakan waktu malamnya. “Dan pada sebahagian malam hari salat tahajudlah kalian sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kalian ke tempat yang terpuji.” (17:79) Dan menggunakan seluruh waktu malam untuk tidur termasuk perbuatan menyia-nyiakan. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami ialah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. (Pada malam hari) lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (karena salat), sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (32:15-16)

 

AMALAN PRAKTIS

Allah berjanji kepada Nabi Musa bahwa nanti setelah mĭyqat (berjumpa) dengan-Nya selama 40 malam baru menyebut perjumpaan itu sempurna. Karena ini janji Allah, pasti terpenuhi. Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Maka kalau Anda ingin sempurna perjumpaannya dengan Allah, usahakanlah salat malam selama 40 malam berturut-turut tanpa berjedah (kecuali wanita sedang haid). Kalau berhasil, Allah akan menyimpan rasa cinta, keindahan dan kebahagiaan di dalam kalbu Anda.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply