Al-Baqarah ayat 50

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 12, 2011
0 Comments
1596 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 50

 

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ        

[Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kalian dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kalian sendiri menyaksikan.]

And when We parted the sea for you, so We saved you and drowned the followers of Firon and you watched by.]

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) kedua. Menunjukkan bahwa isi ayat ini juga adalah sesuatu yang sangat penting untuk diingat oleh Bani Israil. Bahkan oleh manusia seluruhnya, karena peristiwa yang akan diceritakan di sini bukanlah peristiwa biasa. Melainkan peristiwa luar biasa. Disebut “luar biasa” karena berada di luar kelaziman kejadian-kejadian biasa, kejadian-kejadian yang mengikuti hukum alam. Menurut hukum alamnya, air tidak bisa dibelah tanpa adanya dinding penyekat yang memisahkan kedua belahan tersebut. Tetapi ini benar-benar terjadi pada zaman Mesir Kuno. Pada saat Nabi Musa beserta Bani Israil dikejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya, mereka terperangkap di tepi Laut Merah. Nabi Musa dan Bani Israil serba salah: maju, terbentang laut; mundur, terkepung pasukan Fir’aun yang semakin mendekat. Setelah Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke air, atas perintah Allah, Laut Merah mendadak terbelah. Terbentuklah jalan di antara dua belahan tersebut. Nabi Musa beserta Bani Israil melewati jalan itu dan selamat sampai di seberang. Sementara Fir’aun dan bala tentaranya yang menyusul Nabi Musa beserta Bani Israil tenggelam, karena sebelum sampai di seberang, kedua belahan tadi tiba-tiba menyatu kembali.

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul’. Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku’. Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu’. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain (Fir’aun dan bala tentaranya). Lalu Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain (Fir’aun dan bala tentaranya)itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mu`jizat) akan tetapi kebanyakan mereka (manusia) tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (26:61-68)

 

2). Bagaimana membuktikan kejadian ini? Satu, bukti arkeologis. Yaitu bahwa mumi Raja Fir’aun masih tersimpan rapih sekarang di sebuah museum di Mesir. Dan bisa disaksikan oleh siapapun juga. Kemudian para peneliti telah membuktikan bahwa mumi tersebut adalah benar Raja Fir’aun yang sezaman dengan Nabi Musa. “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (wahai Fir’aun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (10:92) Artinya, tokoh Fir’aun yang lalim itu bukanlah tokoh fiktif. Sepertimana tidak fiktifnya sosok Nabi Musa dengan menyaksikan eksisnya agama Yahudi hingga kini beserta Kitab Taurat yang diimaninya. Dua,  Kitab Perjanjian Lama—sebagai bukti tertulis yang jauh lebih tua dari al-Qur’an—juga menceritakan kejadian ini. Lihat Kitab Keluaran 14:1-31. Tiga, bukti akal. Ada yang berpandangan bahwa apabila peristiwa ini terjadi tanpa sebab-sebab alamiah, maka itu mustahil alias tidak masuk akal. Sebahagian yang lain berpandangan bahwa justru karena tidak masuk akalnya itulah sehingga disebut mu’jizat (arti harafiahnya: melemahkan, yakni melemahkan atau menaklukkan seluruh kemampuan manusia dan hukum-hukum alam). Peristiwa ini bukan tidak masuk akal. Bahkan sangat masuk akal. Yang disebut mu’jizat bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal. Cara membuktikannya, kita tanyakan dulu: Siapa yang melakukan perbuatan (membelah laut) itu? Kalau Nabi Musa, pasti tidak bisa, karena semua nabi dan rasul hanyalah manusia biasa, yang secara alamiah pasti takluk di bawah hukum-hukum alam. Tetapi berdasarkan informasi dari al-Qur’an (26:63, dan ayat 50 ini) dan Perjanjian Lama (Keluaran 14:21), yang melakukan perbuatan itu ialah Allah sendiri. Kalau Tuhan yang melakukannya justru sangat tidak masuk akal kalau Dia tidak sanggup; sebab menurut akal, Tuhan itu ialah suatu entitas yang kekuatan-Nya mengalahkan segala-galanya, termasuk mengalahkan manusia dan hukum-hukum alam, karena manusia dan alam semesta—termasuk hukum-hukum yang mengaturnya—adalah ciptaan-Nya. Dia disebut Tuhan karena Dia Maha Kuasa. Sungguh tidak masuk akal apabila Pencipta dikalahkan oleh ciptaannya. Jikalau hukum alam tidak bisa berubah di bawah perintah-Nya, berarti yang pantas jadi Tuhan adalah hukum alam itu sendiri.

 

3). Peristiwa terbelahnya Laut Merah ini mengandung beberapa pelajaran. Satu, peristiwa ini memperlihatkan bahwa satu perbuatan Allah bisa mempunyai dua maksud sekaligus: menyelematkan kekasih-Nya dan menghukum musuh-Nya. Melalui air laut yang terbelah ini Allah menyelamatkan Nabi Musa beserta pengikutnya dan mengazab Fir’aun juga beserta pengkutnya. Bahwa untuk diberi pertolongan oleh Allah, kita tidak harus jadi Nabi, cukup jadi pengikut Nabi, jadi pendukung Khalifah Ilahi. Begitu juga sebaliknya; untuk diazab oleh Allah, kita tidak harus jadi Fir’aun, cukup jadi pengikut Fir’aun, jadi pendukung Khalifah Duniawi. Dua, melalui peristiwa ini, Allah mengajarkan kepada kita bahwa hukuman Allah selalu bersifat adil, yaitu benar-benar hanya mengazab pihak-pihak yang bersalah. Jadi hukuman Allah tidak meng-gebyah-uyah, tidak asal-asalan atau membabibuta. Ini penting, karena betapa sering kita mengartikan bencana alam sebagai azab Allah. Cara pandang ini bersifat menghakimi, membuat opini bahwa mereka yang tertimpa bencana itu adalah para pendosa yang memang layak mendapat hukuman seperti itu. Bukan Allah yang tidak adil, justru pemilik cara pandang ini yang tidak adil; karena bagaimana mungkin para pelaku dosa besar, koruptor besar, penjahat besar, tinggal di kota besar, tapi yang diazab Allah adalah rakyat kecil yang justru menjadi korban ketidakadilan sosial. Apakah mereka, pemilik cara pandang aneh itu, tidak membaca ayat ini: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka istighfar (meminta ampun).” (8:33)

Tiga, setiap peristiwa besar dan luar biasa seperti ini selalu menjadi furqān (pembeda) yang nyata antara pihak yang berada pada posisi yang haq (kebenaran) dan pihak yang berada pada posisi yang bāthil (kepalsuan). Antara Hizbullah dan Hizbussyaithan. Tujuannya, agar kita sebagai ‘penikmat’ kejadian itu bisa menentukan sikap, karena sikap inilah kelak yang akan kita pertanggungjawabkan di akhirat di hadapan Allah swt.

 

4). Ayat ini di akhiri dengan klausa: وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ [wa antum tandhurŭwn, sedang kalian sendiri menyaksikan (peristiwa itu)]. Pengertian kata “menyaksikan” tidak harus melihat sesuatu dengan mata kepala sendiri. Karena kalau begitu pengertiannya, faktanya hanya Bani Israil yang ada di lokasi kejadian saja yang melihat langsung peristiwa terbelahnya Laut Merah tersebut. Lalu bagaimana dengan Bani Israil yang ada sekarang, yang juga kepadanyalah ayat ini ditujukan? “Sedang kalian sendiri menyaksikan (peristiwa itu)” bermakna, kisah lengkap kejadian ini tersimpan rapih di dalam lembaran kesadaran sejarah dan masyarakat Bani Israil hingga kini. Sehingga mereka seyogyanya mengambil ibrah bahwa apabila mereka juga melakukan kejahatan sebagaimana kejahatan Fir’aun, mka mereka juga harus bersiap-siap ‘ditenggelamkan ke dalam laut’ dan menamatkan riwayat mereka sebagaimana Allah menamatkan riwayat Fir’aun.

 

AMALAN PRAKTIS

Allah menolong Bani Israil bukan karena mereka tertindas. Allah menolongnya karena mereka bersama Nabi Musa, pembawa obor KEBENARAN. Dan Allah mebinasakan sebagian orang Mesir bukan karena mereka berkuasa. Allah membinasakannya karena mereka bersama Fir’aun, pembawa bendera KEBATILAN. Maka kalau Anda ingin ditolong Allah, selalulah bersama pembawa KEBENARAN.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply