Al-Baqarah ayat 5

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
December 12, 2010
0 Comments
941 Views

SURAT AL-BAQARAH Ayat 5

أُوْلَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون

[Mereka itulah (orang-orang) yang (berjalan) menurut petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang menang].

1). Di ayat 2 (dua), Allah menggunakan isim isyārah lil ba’id (kata tunjuk jauh, dalam bentuk tunggal) ketika merujuk kepada al-Kitab (al-Qur’an) yang berfungsi sebagai PETUNJUK (hudan) bagi orang yang bertaqwa. Setelah memaparkan (diantara) ciri-ciri orang bertaqwa, Allah menutup rangkaian ayat tentang taqwa dengan kembali menggunakan isim isyārah lil ba’id (dalam bentuk jamak)—أُوْلَئِكَ (uwlāika)—terhadap mereka yang menjalani hidupnya di atas PETUNJUK tersebut. Jenis isim isyārah yang sama—أُوْلَئِكَ (uwlāika)— juga Allah gunakan di ujung ayat, saat mempertegas bahwa orang bertaqwa yang berjalan di atas PETUNJUK seperti itulah yang akan meraih kemenangan. Kalau kita baca rangkaian ayat dari akhir, akan begini maksudnya: Manusia hanya akan mendapatkan kemenangan apabila mereka berjalan di atas PETUNJUK yang benar. Dan manusia hanya akan berjalan di atas PETUNJUK yang benar apabila mereka bertaqwa; yaitu apabila mereka mengimani yang ghaib, menegakkan shalat, rajin berinfaq, membaca dan mempelajari al-Qur’an, serta meyakini adanya (dengan mengarahkan seluruh potensinya untuk meraih) kehidupan akhirat. Dan PETUNJUK yang dimaksud ialah al-Qur’an itu sendiri. Inilah jawab Allah kepada hambanya yang tak henti-henti berdoa: ihdinas-shirāthal mustaqym (1:5)—berilah kami PETUNJUK (yang membimbing kami) di Jalan Yang Lurus.

2). Setelah melihat betapa urgennya yang namanya PETUNJUK bagi orang yang berjalan (menelusuri lorong-lorong kehidupannya), Allah kemudian memberi penekanan bahwa PETUNJUK yang dimaksud itu bukanlah hasil kreativitas manusia. Karena orang yang berada di ‘dalam’ suatu sistem tidak mungkin melihat system itu secara universal, transendental, holistik dan kontinyu. Jangankan menggambarkan sistem itu dengan perspektif yang luas dan menyeluruh, orang yang melihat dari ‘dalam’ hanya akan melihat system tersebut secara parsial, profane, partikular, dan diskontinyu. “Mereka (hanya) mengetahui yang lahiriah dari kehidupan dunia; sementara terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (30:7) Para filosof telah merumuskan begitu banyak isme kehidupan (sosial dan politik), tetapi alih-alih melahirkan tatanan dunia yang demokratis dan berkeadilan, isme-isme tersebut bahkan menjerumuskan manusia dan kemanusiaan ke dalam kolonialisme, otoritarianisme, oligarki, dan plutokrasi. Maka PETUNJUK itu haruslah مِّن رَّبِّهِمْ (mir-Rabbihim, dari Tuhan mereka), dan bukan dari hasil olah pikir mereka sendiri.

3). Dengan demikian kita menyaksikan betapa sentralnya peran al-Qur’an dalam meraih kemenangan. Inilah yang disesalkan oleh mereka yang terjerumus ke dalam neraka . “Duhai, alangkah celakanya aku (hari ini); seandainya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman sejalan, (tentu aku tidak seperti ini). Sungguh dia telah menjauhkan aku dari Al-Qur’an ketika (Al-Qur’an itu) datang kepadaku. Dan (fulan yang dulu menjelma menjadi) syaitan (pada hari itu) berlepas diri dari manusia. (25:28-29). Kata “fulan” adalah sebuah predikat yang terbuka. Kita bisa menggantinya dengan nama siapapun, dari orang pasar sampai tokoh besar, dari rakyat jelata sampai tokoh sejarah.  Upaya menjauhkan manusia dari al-Qur’an bisa dilakukan oleh siapapun, baik mereka sadari atau tidak. Inilah ancaman terbesar terhadap orisinalitas agama samawi paling bontot ini (Islam). Karena kalau ini terjadi, maka tiada lagi yang tersisa dari Islam selain ibadah ritual belaka. Kekhawatiran ini bukan tak beralasan. Terbukti, satu-satunya hal yang diadukan Rasulullah saw di hadapan Allah adalah yang berkenan dengan ini. “Dan berkatalah Rasul (di hadapan Allah): “Ya Rab, sungguh kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini (sebagai sesuatu) yang ditinggalkan”. (25:30).

4). Ayat ini persis sama dengan Surat Luqman (31) ayat 5 (juga), yang juga didahului oleh 4 ayat yang hampir sama bunyinya. Dari situ kita terlusuri bahwa dari 12 kata الْمُفْلِحُون (al-muflihuwn) dalam al-Qur’an selalu didahului oleh isim isyārah lil ba’id—dalam bentuk jamak:  أُوْلَئِكَ (uwlāika). Ini menunjukkan bahwa الْمُفْلِحُون (al-muflihuwn) selalu berada dalam posisi  ditunjuk, yang mengindikasikan adanya identitas yang melekat pada dirinya. Identitas-identitas itu ialah: bertaqwa (2:5), ber-amar ma’ruf nahi munkar (3:104), berbobot timbangan amalnya (7:8 dan 23:102), memuliakan dan membantu (tugas) Nabi serta mengikuti cahaya (ruhani) kenabiannya (7:157), berjihad dengan harta dan diri (9:88), bersikap sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami patuh) terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya (24:51), semata mencari ‘wajah’ Allah di semua ibadah sosialnya (30:38), selalu berbuat ihsan (baik) sebagai refleksi dari keberpegangannya kepada PETUNJUK Kitab Suci (31:5), menjadi hizbullah (partai Allah)—menentang keras semua bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan, siapapun pelakunya (58:22), dan, terpelihara dari sifat kikir dengan mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang dirinya sendiri (59:9 dan 64:16).Kata الْمُفْلِحُون (al-muflihuwn) berasal dari fa-la-ha (to till, to cultivate, to plow) yang merujuk kepada pekerjaan petani: mengolah, membajak, menenggala, meluku lahan pertanian hingga semuanya beres, bersih, dan siap ditanami. Makanya petani disebut  فلاح(fallāh, success, prosperity, sukses, menang, bahagia, makmur) karena setelah bekerja keras (di bawah hujan dan terik) membajak  sawah, tapi hanya dengan menanam satu benih bisa menuai beribu-ribu buah. Dari sini kita lihat bahwa الْمُفْلِحُون (al-muflihuwn) meniscayakan adanya kerja keras (mujahadah) baru kemudian bisa menuai hasil. Kerja keras yang dimaksud ialah mensucikan diri (dengan membiasakan amal ibadah) dari berbagai kotoran jiwa yang dimunculkan oleh egosentrisme,  materialism, dan hedonisme. Itu sebabnya bentuk aktif dari kata fa-la-ha umumnya bermakna pensucian dan penumbuhan sifat-sifat baik dari jiwa: qad aflahal mu’minuwn (sungguh berbahagialah orang mukmin, 23:1), qad aflaha man tazakkā (sungguh berbahagialah orang yang terus-menerus menumbuhsuburkankan jiwanya, 87:14), qad aflaha man zakāha (sungguh berbahagialah orang yang telah menumbuhsuburkan jiwanya, 91:9). Kalau lahan pertanian tumbuh subur dengan air dari langit, maka lahan jiwa akan tumbuh subur dengan wahyu dari ‘langit’.

 

AMALAN PRAKTIS : Ketahuilah bahwa jiwa Anda itu bagai lahan pertanian. Tergantung Anda mau menanam apa: tanaman berduri atau tanaman berproduksi. Maka kalau mau masuk ke dalam golongan الْمُفْلِحُون (al-muflihuwn), Anda harus membajak jiwa Anda hingga bersih kemudian menumbuhsuburkannya dengan membiasakan amal ibadah secara ikhlas dan istiqomah.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply