Al-Baqarah ayat 49

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 11, 2011
0 Comments
907 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 49

 

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوَءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءكُمْ وَفِي ذَلِكُم بَلاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ

[Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kalian dari (penindasan) pengikut Fir`aun, (dimana) mereka menimpakan kepadamu seburuk-buruknya siksaan, (yaitu) mereka menyembelih anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu terdapat ujian yang sangat besar dari Tuhanmu.]

[And when We delivered you from Firon’s people, who subjected you to severe torment, killing your sons and sparing your women, and in this there was a great trial from your Lord.]

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) pertama dalam rangkaian ayat-ayat yang bercerita mengenai kebersamaan Bani Israil dan Nabi Musa as. Waw ‘athaf (huruf waw sambung) di awal ayat menunjukkan bahwa isinya adalah sesuatu yang juga harus diingat—perintah atau seruan mengingat ini disebutkan di ayat 47—oleh Bani Israil. Kendati ini peristiwa yang terjadi pada zaman Nabi Musa, tetapi Bani Israil harus mengingat ini, karena mereka yang ada sekarang adalah kelanjutan atau turunan dari mereka yang ada pada saat itu. Artinya kalau mereka yang ada pada saat itu tidak diselamatkan, maka niscaya tidak akan ada Bani Israil setelah itu hingga sekarang. Maka penyelamatan mereka dari penindasan Fir’aun oleh Allah dan Rasul-Nya adalah suatu karunia yang luar biasa. Logika ayat ini menginformasikan bahwa prosesi penyelamatan mereka itu adalah suatu campur tangan Allah yang benar-benar nyata dan vulgar. Kenapa tidak, semua anak laki-laki yang lahir pada saat itu yang lahir dari rahim wanita-wanita Bani Israil oleh Fir’aun diinstruksikan untuk disembelih. Dan instruksi ini benar-benar berjalan. Sehingga bukan hanya lelaki mereka yang terancam punah, tapi wanita-wanita mereka merasa terintimidasi dan dilanda ketakutan yang luar biasa. Tetapi Allah menunjukkan kekuasaan-Nya—sekaligus ketidakberdayaan Fir’an dan pengikutnya—kepada Bani Israil dan kepada seluruh manusia, dengan menyelamatkan Musa justru ke dalam ‘pangkuan’ Fir’aun. “Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir`aun yang akibatnya dia (Musa) menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka Fir’aun dan pengikutnya). Sesungguhnya Fir`aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (28:7-8)

 

2). Tetapi Fir’aun dan para pengikutnya membiarkan hidup anak-anak perempuan Bani Israil. Setidaknya ada dua hal yang bisa kita fahami dari informasi penting ini. Satu, kebutuhan Fir’aun untuk mempekerjakeraskan Bani Israil telah dikalahkan oleh ketakutannya yang luar biasa akan datangnya seorang Khalifah Ilahi. Padahal Fir’aun pada saat itu sedang giat-giatnya melakukan pembangunan fisik, yang tentu saja meningkatkan kebutuhan akan budak dan pekerja kasar, dimana Bani Israillah yang menjadi pelaku utama (sebagai budak dan pekerja kasar) di sini. Secara sosiologis dan politis sebetulnya tidak ada alasan bagi Fir’aun untuk takut, apalagi sampai tingkat fobia. Secara sosiologis, Bani Israil ini berada di struktur sosial paling bawah, sebagai budak (atau diperbudak) dan pekerja kasar (atau dikerjapaksakan). Secara politis, Mesir pada saat itu adalah Monarki Absolut yang tentu saja regenarasi politiknya berjalan secara turun-temurun, sementara Bani Israil adalah kelompok migran dan minoritas, yang tentu saja tidak punya masa depan politik. Tetapi karena informasi yang beredar luas pada saat itu bahwa—berdasarkan nubuwat (sangat mungkin sejak Nabi Yusuf)—sebentar lagi akan datang Khalifah Ilahi yang kelak akan mengancam eksistensi kekuasaannya, maka Fir’aun pun melakukan tindakan cegah-tangkal secara dini dengan membunuh anak laki-laki dari kalangan Bani Israil. Ini menunjukkan bahwa yang paling ditakuti oleh Khalifah Duniawi adalah Khalifah Ilahi. Mereka melakukan tindakan apapun dan dengan cara apapun untuk menghentikan kehadirannya. Dua, dalam waktu yang tidak terlalu lama, jumlah perempuan Bani Israil meningkat luar biasa. Hukum sosial mengatakan, orang lemah dan tak berdaya yang berada di kaki piramida sosial akan dengan sangat mudah ‘menyerahkan’ dirinya kepada kelompok sosial yang lebih tinggi, agar mereka bisa survive. Ini termasuk salah satu ‘rencana’ tersembunyi dibalik pembangunan sosial yang tidak adil. Bagi Fir’aun dan para pengikutnya ini tentu sangat menggembirakan. Karena dengan begitu mereka bisa mendapatkan suplai ‘hiburan’ untuk bersenang-senang dengan cara yang semurah-murahnya. Tapi bagi Bani Israil, ini tentu merupakan سُوَءَ الْعَذَابِ (sŭw’ul ‘adzāb, seburuk-buruknya siksaan). Jadi dalam struktur sosial yang tidak adil, pasti berlaku formula ini: “Seburuk-buruknya penderitaan bagi kelompok masyarakat paling bawah adalah sebaik-baiknya kesenangan bagi kelompok masyarakat paling atas.

 

3). Melalui peristiwa-peristiwa pahit ini beserta campur tangan Tuhan dalam menyelamatkan mereka, Allah mengingatkan Bani Israil di sepenjang zaman setelah kejadian itu: وَفِي ذَلِكُم بَلاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ (wa fĭy dzālikum balāun mir-rabbikum ‘adhĭym, dan pada yang demikian itu terdapat ujian yang sangat besar dari Tuhanmu). Tekanan seruan ini terletak pada kata بَلاءٌ (balā’, ujian). Di masyarakat kita kata ini sudah sangat masyhur, misalnya dalam frase “tolak bala” dan “bala bencana”. Dalam terminilogi al-Qur’an, istilah بَلاءٌ (balā’, ujian) ini lebih kepada akibat mental dan material yang ditimbulkan baik oleh kejadian alam ataupun oleh ulah manusia. “Dan sungguh Kami akan menguji kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (2:155) Bahkan yang timbul sebagai konsekuensi logis dari kehidupan itu sendiri. “(Dialah Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (67:2) Jadi yang Allah tuntut dari Bani Israil melalui peringatan ini ialah agar mereka menjadikan peristiwa pahit masa lalu itu untuk melakukan amal-amal atau tindakan-tindakan yang terpuji, yang humanistik, dan jangan sampai melakukan apa yang Fir’aun lakukan terhadap mereka. Karena penilaian Allah bukan berdasarkan siapa pelakunya, tapi berdasarkan apa yang dilakukannya. Artinya, kalau Fir’aun ditenggelamkan ke laut karena kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya, maka Bani Israil pun niscaya akan diperlakukan sama kalau melakukan kejahatan yang sama. Itulah hukum sosial. Itulah Hukum Allah.

 

4). Pertanyaan yang menggugah, kenapa Bani Israil tiba-tiba ada di Mesir? Moyang mereka, Nabi Ibrahim as, pada awalnya dari Babilonia, masuk wilayah Iraq sekarang. Tetapi dalam perjalanannya menuju ke Baitullah di Mekah memenuhi titah Tuhannya, dia menempatkan istrinya, Sarah, di Palestina.  Di sanalah lahir putranya yang kedua, Ishaq—putra pertamanya, Ismail, lahir melalui Hajar. Dari Nabi Ishaq lahir  Nabi Ya’qub, yang kemudian memiliki 12 (dua belas) orang anak laki-laki. Salah satu diantaranya adalah Nabi Yusuf. Saat Yusuf dibuang oleh 10 (sepuluh) orang kakaknya ke dalam sumur, dia diselamatkan oleh suatu kafilah yang kemudian menjualnya ke Mesir. Setelah Yusuf menjadi pejabat penting di negeri piramida ini, diapun memboyong orang tua dan seluruh saudara-saudaranya untuk menetap di Mesir. Jadilah Bani Israil bermukim untuk waktu yang lama sampai suatu hari mereka menjadi bangsa paria, tertindas, dan mengalami genosida di sini. Maka dalam menyelamatkan mereka, Allah pun mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk bahu-membahu mengeluarkan Bani Israil ini dari Mesir dan kembali ke Palestina.

 

AMALAN PRAKTIS

Melalui ayat ini Allah mengajarkan bahwa manakala ketidakadilan terjadi di suatu negara, niscaya akan berlaku hukum sosial berikut ini: “Seburuk-buruknya penderitaan bagi kelompok masyarakat paling bawah adalah sebaik-baiknya kesenangan bagi kelompok masyarakat paling atas.” Maka apabila Anda melakukan atau mendiamkan ketidakadilan, sama saja membiarkan hukum ini tetap berlangsung. Yang disebut “mendiamkan” adalah tidak berbuat sesuatu.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply