Al-Baqarah ayat 48

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 11, 2011
0 Comments
1623 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 48

 

وَاتَّقُواْ يَوْماً لاَّ تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئاً وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ

[Dan takutlah terhadap (azab) hari (akhirat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membantu orang lain sedikitpun, dan tidak (pula) diterima syafa`at dan (juga) tidak berlaku tebusan daripadanya, serta mereka tidak akan ditolong.]

[And be on your guard against a day when one soul shall not avail another in the least, neither shall intercession on its behalf be accepted, nor shall any compensation be taken from it, nor shall they be helped.]

 

1). Kalau di ayat yang lalu Bani Israil diseru untuk mengingat “ni’mat” dan “keutamaan” yang Allah berikan kepadanya, di ayat ini mereka diseru untuk “bertaqwa” kepada Hari Akhirat, dalam pengertian takut dan memelihara diri dari keadaan-keadaan buruk yang ada di dalamnya seperti: seseorang sama sekali tidak mampu membantu orang lain walaupun itu ayah-bundanya atau suami, istri, dan anak-anaknya sendiri; tidak ada lagi permintaan syafaat, karena permintaan syafaat hanya bisa diusahakan di dunia; keputusan hukum Allah tidak bisa lagi digugat atau ditebus dengan cara apapun; dan tidak akan ada lagi pertolongan. Pesan ini hampir sama dengan pesan Allah kepada mereka yang menentang al-Qur’an sebagai PETUNJUK yang telah kita bahas di ayat 24: “Maka jika kalian tidak sanggup membuat(nya) dan kalian pasti tidak akan sanggup membuat(nya), takutlah terhadap neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” Yang Allah hendak pesankan melalui seruan ini ialah bahwa setiap manusia pasti akan mempertanggungjawabkan amal-perbuatan yang dilakukannya sekarang di dunia. Secara duniawi, Bani Israil selalu membangga-banggakan dirinya sebagai bangsa pilihan, karena kepadanya diberikan “ni’mat” dan “keutamaan” berupa kenabian dan risalah, tetapi mereka lupa bahwa pemberian itu tidak untuk dibanggakan—karena kebanggaan hanya akan mendatangkan kecongkakan. Pemberian itu justru harus dipertanggungjawabkan. Kalau mereka berhasil mengemban amanah tersebut, Allah tentu memeberikan imbalan yang besar kepadanya. Sebaliknya, jika gagal, apalagi mengkhianatinya, maka Allah pun akan memberikan ganjaran atau hukum yang setimpal.

 

2). Ciri akhirat pertama yang disebutkan di ayat ini ialah tiadanya lagi perbuatan saling memberi dan menerima antara satu orang dengan orang yang lain. Satu sama lain tidak bisa saling memberi “jaza” kendatipun itu terhadap orang tua atau anak sendiri, terhadap suami atau istri sendiri. Pada hari itu semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing sehingga tidak kuasa lagi memikirkan (apalagi menyelamatkan) orang lain. Allah menggambarkan hari itu sebagai nafsinafsi (individualisme sejati), dimana diibaratkan wanita menyusui meninggalkan begitu saja anak yang disusuinya, wanita hamil keguguran kandungannya, karena semua orang ‘mabuk’ dengan deritanya sendiri. “(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.” (22:2) Ini menunjukkan bahwa setiap orang bertanggungjawab atas pilihan dan jalan hidupnya masing-masing. Orang tidak bisa memikulkan beban dosa dan kesalahannya kepada orang lain. Sebagaimana tidak bisa meminta pertolongan dan bantuan sekecil apapun. Pemberitahuan ini dimaksudkan untuk menyadarkan kita bahwa mengikut kesalahan orang lain (individu atau kelompok), termasuk kepada kelompok masyarakat kita sendiri, tidak bisa menyelamatkan kita dari azab dan derita di akhirat, karena pertanggungjawaban tidak bersifat kolektif. “Barangsiapa memilih PETUNJUK (Allah), maka sesungguhnya dia memberi PETUNJUK untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang (memilih jalan) sesat maka sesungguhnya dia menyesatkan dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (17:15) Tetapi, harus segera disampaikan di sini, bahwa bagi mereka yang menyesatkan orang lain, maka dosa orang yang disesatkannya juga dipikulnya tanpa mengurangi beban dosa yang bersangkutan. “(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (16:25)

 

3). Ciri akhirat berikutnya ialah tidak diterimanya شَفَاعَةٌ (syafa’at). Allah berfirman di tempat lain: “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (2:254) Apakah ini berarti tidak adanya yang namanya syafaat itu? Penyebutan kata “syafa’at” saja dalam al-Qur’an sudah cukup menunjukkan keberadaannya. Cuma tentu bersyarat. Pertama, hak memberi syafa’at hanya diberikan kepada orang-orang tertentu, terutama kepada para nabi dan rasul, atau para pelaksana tugas Khalifah Ilahi. Kalau Allah tidak memberikan hak tersebut berarti Allah sendiri yang mendelegitimasi pilihan-Nya. Dan itu mustahil. “Pada hari itu tidak berguna syafa`at, kecuali (syafa`at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (20:109) Kedua, orang yang bisa mendapatkan syafa’at hanyalah orang yang mengusahakannya di dunia dengan mengikuti ketentuan-ketentuannya. Diantara ketentuan yang terpenting ialah membuat ‘aɦd (janji setia untuk memberikan dukungan) kepada Khalifah Ilahi.  “Mereka tidak berhak mendapat syafa`at kecuali orang yang telah mengadakan ‘aɦd  (perjanjian) di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.” (19:87)

Jadi yang dimaksud tidak ada syafa’at di ayat ini ialah tidak bermanfaat lagi permintaan syafa’at pada hari itu kepada orang yang berhak memberikannya. “Dan takutlah terhadap (azab) hari (akhirat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membantu orang lain sedikitpun, dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfa`at suatu syafa`at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.” (2:123)

 

 

4). Ciri akhirat selanjutnya ialah tidak adanya عَدْلٌ (’adl, gugatan, keberatan atau tebusan). Pada saat itu semua keputusan Allah bersifat final, karena semua keputusan Allah pasti adil, sebab Dialah yang paling sempurna keadilan-Nya. Dialah Sang Maha adil itu. Maka orang yang mengajukan gugatan, gugatannya ditolak. Orang yang menyampaikan keberatan, keberatannya tidak diindahkan. Orang yang menawarkan tebusan, tawarannya tidak ditanggapi. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (3:91) Pada saat kita sampai pada puncak kesempurnaan keadilan, maka menurut akal sehat, tiap gugatan atau keberatan hanya akan membuat keadilan tersebut jadi cacat. Ini juga sebuah ironi, karena orang-orang yang meminta keadilan inilah yang justru menjadi pelaku atau bagian dari pelaku ketidakadilan dulu di dunia. Maka cara yang paling bijaksana adalah dengan meninggalkan pihak-pihak dan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan nasib buruk menimpa kita nanti di akhirat. “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al Qur’an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa`at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.” (6:70)

 

5). Ciri akhirat terakhir yang disebutkan ayat ini ialah tiadanya lagi pertolongan bagi mereka yang datang meminta pertolongan. Tetapi bukankah Allah itu Maha Penolong? Bukankah Allah Maha Pemurah dan Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya? Benar, tetapi sama juga dengan syafa’at, pertolongan hanya bisa diusahakan di dunia ini. Dalam kaitan inilah Allah menyeru orang beriman untuk menolong-Nya, untuk menolong agama-Nya, untuk menolong Khalifah-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (47:7)  Pertolongan Allah di sini meliputi dunia dan akhirat. “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (40:51) Siapa saja yang tidak masuk dalam kategori yang pantas ditolong ini, maka tidak ada lagi pertolongan baginya kelak di akhrat.

 

AMALAN PRAKTIA

Akhirat bukanlah sesuatu yang kita bisa berspekulasi tentang keberadaannya. Sebab kalau ternyata benar adanya, maka kita tidak bisa kembali lagi ke dunia untuk mempersiapkan segalanya. Bahkan akhirat tidak cukup sekedar diimani. Akhirat haruslah diyakini. Karena di sana semua kita bersifat nafsi-nafsi, hubungan kekerabatan tidak berguna; tidak ada syafa’at, tidak ada keberatan terhadap keputusan Allah, dan tidak ada lagi pertolongan. Maka waspadalah terhadap akhirat Anda sebelum menyesal untuk selamanya…!!!

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply