Al-Baqarah ayat 47

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 9, 2011
0 Comments
970 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 47

 

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُواْ نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

[Hai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah mengutamakan kalian atas seluruh alam.]

[O children of Israel! call to mind My favor which I bestowed on you and that I made you excel the nations.]

 

1). Sebelum membaca ayat ini ada baiknya membaca kembali ayat 40 karena isinya hampir sama. Ayat ini juga dimulai dengan harfu nida’ (huruf panggil). Dan yang dipanggil juga sama, yaitu Bani Israil. Yang juga karena pasti ada sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan. Di ayat 40 dan ayat-ayat yang menyertainya, ada 10 (sepuluh) seruan dan 4 (empat) larangan. Isi seruan pertama di ayat ini juga sama dengan isi seruan pertama di ayat 40, yakni seruan untuk mengingat ni’mat Allah. Pengulangan harfu nida’ (huruf panggil) di ayat ini menunjukkan betapa Bani Israil telah banyak melupakan jejak-jejak sejarahnya sendiri. Padahal jejak-jejak sejarah mereka adalah jejak-jejak kenabian, jejak-jejak risalah, jejak-jejak kemuliaan. Yang juga berarti jejak ilahiah. Ini tidak sulit dimengerti sebab Bani Israil adalah salah sutu komunitas yang paling dekat dengan zaman kita yang masih bisa ditelusuri secara jelas alur asal-usulnya yang kembali kepada nabi-nabi besar: Nabi Ya’qub, Nabi Ishaq, dan Nabi Ibrahim (yang bergelar Khalilullah dan Sayyidut Tauhid). Dan setelah mereka masih disusul lagi oleh nabi-nabi besar lainnya seperti Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Sulaeman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa. Bahkan nabi yang terakhir ini merupakan nabi yang menjadi salah satu misteri Ilahi yang terbesar, yang rahasianya belum terungkap semuanya hingga kini. Dia datang ke dunia ini tanpa ayah biologis dan ‘pergi’ tanpa meninggalkan jejak kematian biologis. Dia diangkat ke sisi-Nya dan dijanjikan akan kembali lagi suatu saat. Dan kelak ketika Dia datang, bukan saja misteri pribadi dan agamanya yang tersingkap jelas, tapi juga hakikat rencana besar Allah yang tertuang di ayat 30. Semoga Allah mempercepat kedatangannya.

 

2). Kalau ni’mat yang dimaksud sebelumnya (di ayat 40) adalah ialah ni’mat kenabian, kekhalifahan, dan agama yang menyertainya—yang kita sebut dengan ni’mat umum—maka di ayat ini Allah mengingatkan Bani Israil tentang ni’mat khusus yang diberikan kepada mereka pada zaman Nabi Musa. Yaitu ketika mereka dipandu membebaskan diri dari perbudakan, penindasan dan kerja paksa Fir’aun di Mesir, hingga pertualangannya mencari format masyarakat dan sejarahnya. Ini bisa kita lihat melalui ayat-ayat yang menyertai ayat ini sampai ayat 74. Di ayat-ayat ini nanti kita lihat bagaimana keterlibatan langsung Tuhan dari dekat dan sangat nyata dalam memandu mereka, menaungi perjalanan mereka, memenuhi kebutuhan makan-minum mereka, memaafkan kesalahan-kesalahan mereka atas beberapa kejahilan mereka kepada Nabi Musa yang menyertainya. Rangkaian peringatan akan ni’mat khusus ini ditutup dengan cerita di seputar perintah penyembelihan sapi betina (baqarah), yang kemudian menjadi nama dari Surat yang sedang kita bahas ini. Untuk itu, kata yang paling banyak nanti kita temukan di awal ayat ialah kata إِذْ (idz, ketika), yang berfungsi sebagai isim zaman, penunjuk waktu masa lalu (mādhi).

 

3). Setelah membaca poin 1 dan poin 2, ujung ayat ini, yang juga merupakan seruan yang harus diingat oleh Bani Israil, dengan mudah bisa difahami: وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (wa anniy faddlaltukum ‘alal-‘ālamĭyn, dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah mengutamakan kalian atas seluruh alam). Yaitu bahwa kata فَضَّلْتُكُمْ (faddlaltukum,Aku telah mengutamakan kalian) tidaklah berlaku untuk selamanya, seperti dipersepsi sebagian orang, karena kata ini jelas menggunakan fi’il mādhi (kata kerja lampau). Sehingga “pengutamaan” yang dimaksud ialah menyangkut kemurahan Allah kepada Bani Israil yang telah memberi mereka ni’mat umum dan ni’mat khusus tadi. Dan itu secara otomatis berhenti atau tercabut ketika Allah kemudiaan memindahkan ni’mat itu kepada Bani Ismail dengan memilih dan mengangkat Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya yang terakhir, setelah terbukti bahwa mereka tidak amanah terhadap ni’mat tersebut. Mereka inilah yang Allah maksud di ayat berikut ini: “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar ni`mat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?” (14:28) Setelah mereka mengkhianati amanah tersebut, alih-alih mendapatkan keutamaan, Allah bahkan mengancam mereka dengan azab yang keras: “Tanyakanlah kepada Bani Israil, berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka. Dan barangsiapa yang menukar ni`mat Allah setelah datang ni`mat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (2:211) Jadi keutamaan bukan terletak pada ras atau komunitas tertentu, tapi pada kemampuan memikul amanah. Artinya, kalau suatu kaum ternyata tidak mampu memikul amanah tersebut, niscaya Allah akan mengganti kaum tersebut dengan kaum yang lain, yang lebih mampu memikulnya. “Jika kalian tidak berangkat (untuk memperjuangkan agama Allah), niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih dan digantinya (kalian) dengan kaum yang lain, dan kalian tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (9:39)

 

4). Kata الْعَالَمِينَ (al-‘ālamĭyn, seluruh alam) di penghujung ayat ini biasanya diartikan (atau ditafsirkan?) dengan “segala umat”. Shakir menerjemahkannya dengan “the nations”,  Yusuf Ali menerjemahkan dengan “all other”, Pickthal dengan “(all) creatures”, Jalalain dan al-Baghawi menafsirkannya dengan “ālamiy zamānikum” (alam zaman Bani Israil). Karena ini dalam bentuk jamak, ada baiknya kita maknai sesuai dengan bentuk jamaknya juga. Yaitu bahwa kaum yang Allah amanah-kan kepadanya ni’mat kenabian dan kekhalifahan, pada dasarnya Allah memilihnya sebagai kaum yang utama di seluruh lapisan alam, termasuk di alamnya malaikat. Ingat kembali peristiwa sujudnya para malaikat kepada Khalifah Ilahi pertama, Nabi Adam as. Banyak hadits Nabi juga menceritakan bagaimana hewan-hewan, tetumbuhan, bahkan ikan-ikan di laut mendoakan orang-orang yang sedang berusaha untuk mengemban amanah ini.

 

AMALAN PRAKTIS

Cara untuk bersyukur adalah dengan menyadari bahwa seluruh kehidupan ini adalah nikmat dari Allah swt. Dan nikmat paling besar adalah nikmat kenabian dan risalah. Di ayat ini, kata “ni’mat” mendahului kata “utama”. Artinya, seseorang hanya akan menjadi utama di mata Allah jikalau mensyukuri seluruh nikmat yang ada padanya. Kalau tidak, Allah justru mengancamnya dengan azab yang keras.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply