Al Baqarah ayat 46

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 8, 2011
0 Comments
1391 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 46

 

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

[(yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.]

[Who know that they shall meet their Lord and that they shall return to Him.]

 

1). Penggunaan isim maushul (kata sambung) الَّذِينَ (alladzĭyna, orang-orang yang) menunjukkan bahwa ayat ini adalah deskripsi dari kata الْخَاشِعِينَ (alkhāyi’ĭyn, orang-orang yang khusyu’) yang disebutkan di akhir ayat sebelumnya. Bahwa yang disebut, atau defenisi dari, orang yang salatnya khusyu’ ialah orang-orang yang (terutama ketika sedang salat) meyakini bahwa mereka sedang menjumpai (liqā’) Tuhannya. Jadi, bagi orang yang seperti ini, salat bukanlah aktivitas hampa atau amalan seorang diri. Salat bagi mereka adalah suatu perjumpaan khusus dengan Tuhan mereka. Dan di dalam perjumpaan itu, mereka melakukan dialog intensif. Renungkanlah kembali makna dari ayat-demi ayat di Surat al-Fatihah; disana kita akan menjumpai bahwa Surat yang satu-satunya wajib dibaca di dalam salat tersebut benar-benar tersusun dalam bentuk dialog yang komunikatif antara seorang hamba dan Rab-nya. Dan yang namanya dialog pasti ada dua pihak: ada yang berbicara dan ada yang diajak bicara. Dalam kondisi seperti ini, orang yang sedang salat harus benar-benar merasa bahwa dia itu sedang hadir di hadapan Tuhannya sekan-akan dia melihat-Nya; dan kalau dia tidak melihat-Nya, dia harus yakin bahwa Dia (Allah) melihat (juga dalam suasana dialogis) yang bersangkutan (yakni si hamba yang sedang salat). Itu sebabnya, salat mensyaratkan bersuci sebelum salat, karena yang dijumpai adalah Zat Yang Maha Suci. Itu sebabnya orang yang salat diminta untuk mengenakan pakaian yang bagus dan bersih, karena yang dijumpai adalah Zat Yang Maha Indah. “Hai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid (untuk salat), makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (7:31)

 

2). Kata liqā’ (berjumpa) beserta derivat-derivatnya, dalam pengertian berjumpa dengan Allah,  cukup banyak kita jumpai di dalam al-Qur’an. Di dalam ayat-ayat itu kita temukan bahwasanya keyakinan seorang hamba akan liqā’ (berjumpa) dengan Tuhannya merupakan persyaratan iman. Sebaliknya, orang kafir biasanya dicirikan dengan tiadanya keyakinan seperti itu. “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan (liqā’) dengan Tuhannya.” (30:8) Itu sebabnya Allah menyebut orang yang seperti itu sebagai merugi. “Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan (liqā’) mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!’ sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.” (6:31) Dan amal saleh yang paling tinggi nilainya ialah amal saleh yang diyakini sebagai amal yang dilakukan sebagai kebersamaan (atau ketidakberpisahan) dengan Allah. Artinya, dalam beramal saleh mereka yakin mereka melakukan semua itu hanya bersama dengan Rab-nnya. Tidak disertai oleh tujuan, motif, kepentingan, tendensi, dan interes yang lain. Inilah puncak amal, inilah hakikat tauhid, dan untuk ini pulalah Nabi diutus: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku  bahwa sesungguhnya Tuhan kalian itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya’.” (18:110)

 

3). Selain liqā’ (berjumpa) dengan Tuhannya, orang yang khusyu’ dalam salatnya juga yakin bahwa salatnya itu adalah salat yang terakhir. Dia tidak boleh yakin bahwa masih ada waktu (atau tepatnya umur) baginya untuk menjumpai waktu salat berikutnya. Jadi kalau dia salat ashar, tidak boleh yakin bahwa masih akan salat maghrib. Kalau dia salat subuh, dia tidak boleh merasa bahwa masih ada waktu salat dhuhur baginya. “Dan jangan sekali-kali kalian mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut): ‘Insya-Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kalian lupa dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini’.” (18:23-24) Apabila dia memiliki keyakinan seperti itu (bahwa masih ada waktu baginya setelah salat yang sekarang), berarti yang bersangkutan telah melampaui ketentuan Tuhannya. Karena pada faktanya, waktu kematian itu tidak pernah keluar dari waktu-waktu salat. Keyakinan seperti ini bahkan harus menjiwai seluruh perbuatan kita. Yaitu keyakinan bahwa setelah pelaksanaan salat ini atau amal perbuatan ini, kita akan dikembalikan kepada Allah swt: وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (wa annaɦum ilayhi rāji’uwn, dan bahwa mereka yakin akan kembali kepada-Nya). Dalam konteks ini, salat adalah laporan akan kesiapan dan keridlaan untuk menyambut kematian dengan jiwa yang tenang (nafsul muthma’innah) jika sewaktu-waktu dipanggil kembali kepada-Nya. “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka yakin bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (23:60) Harus kita yakini bahwa kita manusia tidak punya kekuatan apapun selain yang Allah berikan. Kapan saja kekuatan itu ditarik oleh-Nya maka habislah kekuatan kita itu, termasuk kekuatan hidup (quwwatul hayah). “Dan mengapa kalian tidak mengucapkan tatkala memasuki kebunmu ‘MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH’ (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)…” (18:39)

Jadi salat khusyu’ tidak akan tercapai tanpa dua keyakinan pentinga ini: liqā’ (yakin berjumpa dengan Allah) dan ruju’ ilallah (yakin akan kembali kepada Allah).

 

AMALAN PRAKTIS

Salat yang khusyu’ adalah kunci kesuksesan Anda di dunia dan di akhirat. Maka bangunlah salat khusyu’ Anda sejak berniat atau tergerak untuk menunaikan salat begitu menyadari waktu salat sudah masuk, dengan meyakini bahwa Anda akan menjumpai ‘Sosok’ yang menjadi pusat grafitasi seluruh kehidupan. Perkuatlah keyakinan itu saat Anda mengambil wudlu; maka berwudlulah dengan tenang, dengan tidak memboros air dan asal-asalan. Setelah itu, masukilah ‘pintu’ keharibaan-Nya dengan bertakbir: ALLAHU AKBAR. Semua sirna, semua tiada, semua fana’. Yang ada hanya ALLAH.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply