Al-Baqarah ayat 41

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 3, 2011
0 Comments
988 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 41

 

وَآمِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

[Dan berimanlah kalian kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan (hanya) kepada-Kulah kalian (hendaknya) bertakwa.]

[And believe in what I have revealed, verifying that which is with you, and be not the first to deny it, neither take a mean price in exchange for My communications; and Me, Me alone should you fear.]

 

1). Penggunaan waw ‘athaf (huruf waw yang berfungsi sebagai penyambung) di awal, menunjukkan bahwa ayat ini masih merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, dan karenanya masih merupkan bagian-bagian yang diseru dengan harfu nida’ (huruf panggil). Maka permulaan ayat ini adalah seruan Allah yang keempat kepada Bani Israil: وَآمِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ [wa āminŭw bimā anzaltu mushaddiqan limā ma’akum, dan berimanlah kepada apa yang telah Aku turunkan, (yaitu al-Qur’an), yang membenarkan apa yang ada padamu, (yaitu Taurat)]. Penggunaan klausa “yang membenarkan apa yang ada padamu” menjelaskan bahwa setiap Kitab Suci yang datang selalu merupakan kelanjutan dari Kitab Suci sebelumnya. Sehingga bukan saja mengingkari satu atau beberapa ayat dalam satu Kitab Suci itu tidak boleh tapi juga menerima satu Kitab Suci seraya mengingkari Kitab Suci yang lain. Di sini kita lihat bahwa Bani Israil diseru untuk mengimani Kitab Suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad sebagai kelanjutan dan sekaligus penyempurnaan dari Taurat dan Injil, sebagaimana orang Islam diwajibkan mengimani Kitab Suci-Kitab Suci yang diturunkan sebelumnya (lihat kembali pembahasan Surat al-Baqarah ayat 4). Dan hebatnya lagi, sebelum Allah meminta Bani Israil mengimani al-Qur’an, orang Islam yang terlebih dahulu diminta untuk mengimani Kitab Suci-Kitab Suci sebelumnya.

 

2). Setelah Allah meminta Bani Israil untuk mengimani apa yang diturunkan Allah kepada Nabi terakhir, Nabi Muhammad saw, seperti biasanya, Allah langsung menyusuli kalimat perintah tersebut dengan kalimat larangan. Larangan pertama yaitu: وَلاَ تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ (wa lā takuŭnŭw awwala kāfirim-bihi, dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya). Artinya, begitu Kitab Suci (al-Qur’an) ini ditawarkan secara terbuka kepada seluruh manusia, secara historis, secara genealogis, dan secara silogis (aturan berfikir logis), harusnya mereka (Bani Israil) ini yang pertama mengimaninya sebelum manusia lain yang tidak punya pengetahuan pendahuluan sama sekali mengenai amanah, nubuwah, dan imamah. Karena seyogyanya, melalui Kitab Suci yang ada di sisi mereka, pastilah mereka mengenal Nabi Muhammad, sifat-sifat kenabian yang ada padanya, beserta karakter ajaran yang dibawahnya, yaitu tauhid. “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Kitab Suci (Taurat dan Injil) mengenal dia (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (2:146, juga ayat yang hampir sama, 6:20) Seandainya para nabi dikumpulkan pada suatu masa, maka—demi kontinuitas tadi—niscaya dengan mudah mereka saling mengapresiasi dan mengakseptasi, dimana nabi yang terdahulu akan mengimani dan menjadi pengikut terhadap nabi yang terkemudian. Simaklah dialog Allah dan para nabi berikut ini sebelum mereka diutus. “Dan (ingatlah), tatkala Allah mengambil sumpah para nabi (sebelum diutus): ‘(Beranikah kalian bersumpah bahwa) sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, apakah benar kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya?’  Dia menegaskan (kembali): ‘Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab: ‘Kami mengakui’. Allah berfirman: ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku (pun) menjadi saksi bersama kalian’.” (3:81)

 

3). Kalimat larangan kedua ialah: وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً (wa lā tasytarŭw bi-āyātĭy tsamanang qalĭyla’, dan janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah). Kata “menjual” di sini tentu dalam pengertian menukar, seperti telah kita bahas di ayat 16 poin 1 (tinggal rujuk ke sana). Frase “dengan harga yang rendah” atau dengan harga yang sedikit, artinya dengan hal-hal yang bersifat duniawi, non-ilahi, dari uang sampai kekuasaan. Kenapa dikatakan “harga yang rendah”? Karena seandainya dunia beserta seluruh isinya ini ditukar dengan Kitab Suci, maka nilainya tetap tidak ada apa-apanya dibanding dengan Kitab Suci tersebut. Dunia ini akan kita tinggalkan semuanya, tanpa kecuali, sementara Kitab Suci menuntun kita menapaki Jalan Ruhani kembali ke haribaan Ilahi dan ke tempat asal kita yang sesungguhnya, surga nan abadi. Memilih dunia beserta isinya (dengan meninggalkan Kitab Suci) berarti memilih secara sadar untuk menjadi pengikut Iblis untuk sama-sama bernaung di bawah Wilayah Pemerintahan Khalifah Duniawi. Meninggalkan Kitab Suci (sebagai taruhan terhadap dunia beserta isinya) berarti meningalkan secara sadar Wilayah Pemerintahan Khlifah Ilahi, padahal karenanya Allah menciptakan seluruh tatanan realitas beserta pernik-perniknya yang mendatangkan kesenangan sementara. Bani Israil terlalu sering menentang, mengkhianati, bahkan membunuh Khalifah Ilahi-nya demi kepentingan material dan pengaruh kekuasaan politik pihak luar. Mereka lebih takut kehilangan hartanya ketimbang kehilangan imannya. Mereka lebih takut kepada penguasa ketimbang kepada Allah, Penguasa dari segala penguasa.

 

4). Seruan Allah yang kelima adalah: وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ (wa iyyāya fat-taqŭwn, dan (hanya) kepada-Kulah kalian (hendaknya) bertakwa). Mirip dengan penutup ayat sebelumnya, yang juga merupakan seruan Allah yang ketiga: : وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ [wa iyyāya farɦabŭwn, dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut (tunduk)]. Kalau di ayat sebelumnya, maknanya lebih kepada “tunduk bertekuk lutut, tidak berdaya”, maka di ayat ini lebih kepada sikap “takut dan bertanggung jawab”, karena dalam taka “taqwa” terkandung makna “mendekat”—yang dalam hal ketuhanan berarti God-fearingness, fear of God, piety, dan religiousness. Itu sebabnya “taqwa” itu bertingkat-tingkat. Dan “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah (orang) yang paling bertakwa.” (49:13) Tetapi apabila “taqwa” ini ditujukan kepada selain Allah, apalagi kepada harta dan kekuasaan, maka akan menjadi salah; karena niscaya yang bersangkutan tidak mungkin lagi ber-“taqwa” kepada Allah. Sebab dunia (fisik) dan Allah masing-masing punya ‘wulayah’ yang bertolak belakang. Dunia (fisik) adalah materi murni sementara Allah adalah nonmateri murni. Adalah tidak mungkin samapai kepada Allah orang yang membaca Kitab Suci-Nya, memperjuangkan Khilafah Ilahi-Nya, tetapi pada saat yang sama, yang dia menjadikan dunia materi ini sebagai tujuan. Maka kepada Bani Israil, agar tetap memenuhi عَهْد (‘aɦd, janji)-nya dengan Allah, dan tidak tergoda oleh عَهْد (‘aɦd, janji) yang lain, Allah meminta mereka untuk hanya takut kepada-Nya saja: وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ (wa iyyāya fat-taqŭwn, dan (hanya) kepada-Kulah kalian (hendaknya) bertakwa).   

 

AMALAN PRAKTIS

Allah mewajibkan kita memenuhi kebutuhan duniawi kita dengan cara apa saja yang diridlai-Nya. Kita boleh berdagang, berjual-beli, atau tukar-menukar (barter) barang. Tetapi Allah mewanti-wanti kita, jangan sampai komoditas perdagangan kita ialah isi daripada Kitab Suci. Salah satu penyebab menjadi nista dan hinanya Bani Israil, dan juga orang-orang munafik, adalah karena menjadikan Kitab Sucinya sebagai barang dagangan dengan para penguasa duniawi demi sesuap nasi.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply