Al-Baqarah ayat 40

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 3, 2011
0 Comments
996 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 40

 

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُواْ نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُواْ بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

[Hai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut (tunduk).]

[O children of Israel! call to mind My favor which I bestowed on you and be faithful to (your) covenant with Me, I will fulfill (My) covenant with you; and of Me, Me alone, should you be afraid.]

 

1). Seperti sudah kita sampaikan di pengantar Surat al-Baqarah bahwa cerita Bani Israil ini bisa dikatakan sebagai inti dari Surat al-Baqarah karena nama al-Baqarah terambil dari salah satu bagian dari cerita ini. Bukan hanya itu, cerita Bani Israil beserta Nabi Musa as yang menyertainya adalah termasuk diantara kutipan cerita yang banyak kita temukan di berbagai surat. Bahkan surat yang ke-17 selain dinamai Surat al-Isra’, juga Surat Bani Israil, karena di dalamnya Allah menginformasikan bahwa suatu saat Bani Israil akan kembali lagi ke Tanah Palestina dan mengalahkan penduduknya seraya melakukan kejahatan, kerusakan dan kecongkakan yang sebesar-besarnya tersebab dukungan dana, keturunan yang sudah banyak, dan lembaga yang besar (17:4-7). Pertanyaan yang sering muncul, kenapa al-Qur’an sepertinya begitu di dominasi oleh cerita Bani Israil. Alasannya paling tidak ada dua. Pertama, Nabi Ibrahim sebagai kepala rumah tangga dari rumpun kenabian terakhir, mempunyai dua orang anak: Ismail (dari Hajar, istri keduanya) dan Ishaq (dari Zarah, istri pertamanya). Dari pihak Ishaq melalui Nabi Ya’qub, lahirlah sub-rumpun Bani Israil. Kepada mereka diturunkan nabi demi nabi. Harapannya, agar mereka bisa menjadi pionir dalam penegakan Wilayah pemerintahan Khalifah Ilahi di tengah-tengah manusia. Tetapi setiap kali nabi diutus ke tengah-tengah mereka setiap itu pula ditentangnya, dikhianatinya, bahkan dibunuhnya (2:87). Hingga nabi terakhir dari kalangan mereka, Nabi Isa putra Maryam, mereka pun khianati; bekerja sama dengan pihak Romawi, mereka berusaha untuk menangkap dan membunuhnya. Sehingga Allah mengangkat Nabi Isa as, dan terputuslah seluruh rangkaian kenabian dari kalangan mereka. Setelah itu, Allah pindahkan tugas kenabian ke pihak keturunan Nabi Ismail, sub-rumpun Bani Quraisy, sub-sub-rumpun Bani Hasyim, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib. Setelah bendera Islam—sebagai agama samawi terakhir—menyebar di bawah oleh keturunan Ismail, rivalitas dengan Bani Israil menjadi tak terhindarkan. Puncaknya adalah penguasaan Tanah Palestina sekarang yang sekaligus dijadikan sandra untuk memecah-belah kekuatan politik Islam di Timur Tengah.

Kedua, fakta yang tak bisa dipungkiri ialah bahwa sekarang kita semua menjadi saksi hidup betapa kuatnya kekuatan ekonomi dan politik Bani Israil ini. Dan kita juga semua menyaksikan betapa kekuatan tersebut disalahgunakan—bersama-sama dengan negara-negara kolonialis-imperialis—dengan melakukan kejahatan terhadap manusia dan kemanusiaan. “Jika kalian (menggunakan kekuatan itu untuk) berbuat baik (maka) kebaikan itu untuk dirimu sendiri, dan jika kalian (menggunakan kekuatan itu untuk) berbuat jahat maka kejahatan itu (kembali) menimpa dirimu sendiri.” (17:7) Dan sayangnya, mereka benar-benar menggunakan kekuatan intu untuk berbuat buruk.

Di sinilah kelihatan sangat mencolok bukti kemukjizatan al-Qur’an. Di dalamnya Allah memberi porsi penceritaan yang banyak tentang Bani Israil, dan faktanya sekarang benar: Bani Israillah yang menjadi news maker (pembuat berita) dan sekaligus news owner (pemilik berita), kendati dalam kuantitas penduduk dunia mereka termasuk sangat minoritas. Simpul berita dunia sekarang ada di Palestina dalam kaitannya dengan pendudukan Bani Israil. Dan simpul politik dunia ada di tangan Bani Israil dalam kaitannya dengan pengusiran orang-orang palestina dari negeri leluhur mereka.

 

2). Ayat ini dimulai dengan harfu nida’ (huruf panggil), yang menunjukkan Allah meminta perhatian kepada pihak yang diseru, dalam hal ini Bani Israil, tentu karena adanya sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan. Apalagi yang memanggil adalah Allah sendiri, yang juga tentu tidak sembarang memanggil. Kalau hanya untuk menyampaikan hal-hal yang bersifat duniawi, insidental dan temporal, tentu membuat diri-Nya jadi naif. Untuk itu, kita semua harus memberi perhatian kepada isi seruan ini. Kalimat pertama yang muncul setelah harfu nida’ (huruf panggil) ini ialah اذْكُرُواْ نِعْمَتِيَ (udzkuruw ni’matiy, ingatlah akan nikmat-Ku). Di Surat al-Fatihah ayat 7 poin 3, telah kita bahas mengenai pengertian ni’mat ini. Dis ini saya mengutipkan satu kalimat saja: “Jika mencermati penggunaan kata ni’mat dalam al-Qur’an, maka makna yang dikandungnya kebanyakan merujuk kepada ajaran agama (shiratal-mustaqym secara konseptual) yang tereksposisi ke dalam figur nabi dan orang-orang yang mewarisinya (lihat misalnya: 2:40 dan 231, 3:103, 5:3 dan 7, dan 37:57).” Jadi ni’mat yang Allah maksud di ayat 40 ini, dan yang hendak Dia komunikasikan kepada Bani Israil, ialah ni’mat kenabian, kekhalifahan, dan agama yang menyertainya. Contohnya, pengangkatan Daud sebagai Khalifah Ilahi: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (atas perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (38:26) Jelas ini merupakan ni’mat terbesar bagi Bani Israil karena dari sinilah mereka menemukan momentum sejarahnya yang paling fundamental sejak dibebaskan oleh Nabi Musa dan Harun dari cengkeraman perbudakan Fir’aun. (Nanti akan dibahas lebih rinci, Insya Allah, pada ayat yang membicarakan masalah ini—2:246-252).

 

3). Kalimat kedua ialah وَأَوْفُواْ بِعَهْدِي (wa awfŭw bi’aɦdĭy, dan penuhilah ‘aɦd/janji-Ku). Kita juga telah membahas makna kata عَهْد (‘aɦd, janji) ini di pembahasan ayat 27 poin 2. Kita kutipkan satu kalimat penting berkenaan dengan kata عَهْد(‘aɦd, janji) ini: “… kalau kita telusuri penggunaannya dalam al-Qur’an pada umumnya terkait dengan tugas ketuhanan (amanah), kenabian (nubuwah) dan kepemimpinan (imamah).” Karena amanah, nubuwah, dan imamah ini menjadi murni domain dan wilayah otoritatas Allah maka secara otomatis ‘mengikat’ Diri-Nya juga. Maksudnya, kalau manusia sebagai penerima عَهْد(‘aɦd, janji) ini memenuhi ‘aɦd-nya, maka niscaya Allah akan memenuhi ‘aɦd-Nya juga dengan memenuhi konsekuensi-konsejuensi positif di balik penerapan ‘aɦd tersebut. Janji Allah ini bahkan disampaikannya di hadapan ‘majelis’ para malaikat. Dan di hadapan majelis Bani Israel pun Dia menyampaikan kembali عَهْد(‘aɦd, janji)-Nya ini: وَأَوْفُواْ بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ [wa awfŭw bi’aɦdĭy ŭwfi bi’aɦdĭkum, dan penuhilah ‘aɦd/janji(-mu kepada)-Ku niscaha Kupenuhi juga ‘aɦd/janji-Ku kepadamu]. Misalnya, Allah berjanji menjadikan Bani Israil sebagai bangsa utama jikalau mereka memenuhi عَهْد(‘aɦd, janji) ini (2:47). Sebaliknya menjadikannya bangsa yang nista dan hina jikalau mereka mengingkarinya: “Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa (alasan yang) dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (2:61) Jadi yang Allah minta dari Bani Israel di sini ialah agar mereka menjadi pengikut, pembantu dan penolong para Khalifah Ilahi tersebut dalam menegakkan Pemerintahan Ilahi di bumi ini. Dan dengan begitu mereka menjadi bangsa yang utama. Inilah makna ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (47:7) Dan “Jika Allah menolong kalian, maka tiada yang dapat mengalahkanmu; dan jika Allah membiarkanmu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolongmu sesudah itu (selain) dari Allah? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal.” (3:160)

 

4). Menjadi pengikut, pembantu, dan penolong para Khalifah Ilahi di tilik dari kacamata duniawi memang tidak mudah, karena selain berhadapan dengan diri sendiri dan lingkungan terdekat, juga berhadapan dengan para Khalifah Duniawi beserta pengikutnya yang besar dan sistem yang telah mereka bangun dengan rapih. Agar rasa “tidak mudah” ini hilang, para pengikut, pembantu, dan penolong para Khalifah Ilahi tidak boleh ‘melihat’ selain kepada Allah. Makanya ayat ini ditutup dengan seruan Allah yang ketiga: وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ [wa iyyāya farɦabŭwn, dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut (tunduk)].  Artinya, jangan pernah takut apalagi tunduk kepada kekuatan manapun, karena setiap rasa takut yang muncul di benak, pastilah itu pekerjaan Iblis untuk mendiviasi anak-cucu Adam dari Pohon Pemerintahan Khalifah Ilahi seraya menjanjikan dengan membalik fakta bahwa Pohon Pemerintahan Khalifah Duniawi itulah yang kekal (Syajaratul Khuld). “Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?’” (20:120)

 

AMALAN PRAKTIS

Ada garis demarkasi yang tegas antara era Nabi dan era sebelumnya. Era sebelumnya disebut Era Jahiliyah dan era sesudahnya disebut Era Imaniyah yang bertatahkan cahaya kenabian. Maka kedatangan Nabi merupakan ni’mak yang luar biasa dibanding nikmat duniawi lainnya. Kemuliaan seseorang tergantung pada siapa dia bekerja. Kalau Anda bekerja ‘menolong’ Allah, niscaya Allah juga akan menolong Anda, dan membuat Anda menjadi mulia dan terhormat.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply