Al-Baqarah ayat 4

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
December 12, 2010
0 Comments
1223 Views

SURAT AL-BAQARAH Ayat 4

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

[Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (yaitu al-Qur’an) serta apa yang telah diturunkan sebelummu (yaitu Kitab-Kitab samawi lainnya), dan kepada (adanya kehidupan) akhirat mereka yakin.]

1). Penggunaan “waw athaf” (kata sambung “dan”) dan isim maushuwl  الَّذِينَ(alladzyna) di awal ayat ini menunjukkan kalau ayat ini masih kelanjutan dari ayat 2—seputar kualitas yang dimiliki orang bertaqwa. Yaitu, keempat, (orang bertaqwa ialah) orang-orang yang mengimani Kitab Suci yang diturnkan kepada Nabi Muhammad saw, yakni al-Qur’an. Perhatikan kata أُنْزِلَ (di-‘turun’-kan) di ayat ini, kaitannya dengan pembahasan kata tunjuk “dzālika” di ayat 2. Ini penting, karena berkaitan dengan cara memahami al-Qur’an. Artinya, begitu kita tahu bahwa al-Qur’an ini adalah sesuatu yang di-‘turun’-kan dari ‘langit’, maka ada dua konsekuensi pemahaman yang tak terhindarkan: Satu, Bahasa Arab yang digunakannya bukan lagi Bahasa Arab ‘biasa’ seperti yang digunakan orang Arab dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa Arab (yang digunakan) Kitab Suci adalah Bahasa Arab yang telah diadopsi sebelumnya oleh Pemilik Wahyu, Allah, Tuhan yang pada diri-Nya sarat dengan nilai transendental, sakral, dan spiritual, kemudian  di-‘turun’-kan melalui ‘perantaraan’ Ruh al-Qudus dan ar-Ruh al-Amin (16:102-103 dan 26:195). Sehingga, secara otomatis, Bahasa Arab yang digunakan-Nya turut mengalami proses transendetalisasi, sakralisasi, dan spiritualisasi, sehingga nilainya pun beyond (melampaui) Bahasa Arab sehari-hari. Inilah agaknya yang menyebabkan Allah mengatakan begini: “Sesungguhnya Kami menurunkan (Al-Qur’an itu) sebagai bacaan yang ber-Bahasa Arab, semoga kalian menggunakan aqal (untuk memahaminya).” (12:2) Hal yang sama terjadi pada hukum-hukum yang dikandungnya yang diantaranya ada yang sudah digunakan oleh masyarakat Arab sebelumnya; tetapi begitu diadopsi oleh al-Qur’an maka hukum tersebut mengalami ratifikasi sehingga bukan lagi hukum adat tapi menjadi hukum Allah (13:37).Dua, kendati nilainya telah beyond (melampaui) Bahasa Arab sehari-hari, tetapi tetaplah bahasa manusia, bahasa bumi. Sehingga saat al-Qur’an berbicara tentang ‘perilaku’ Tuhan, maka agar bisa dimengerti, muncul yang namanya tasybih (penyerupaan), dimana Tuhan menyerupakan diri-Nya dengan perilaku manusia, seperti melihat, mendengar, mengetahui, hidup, punya kursi dan singgasana, berada di mana-mana, dsb. (Tidak jauh dari istilah ini, muncul istilah ayat mutasyābihat). Dan tamtsil  (perumpamaan), untuk menerangkan hal-hal yang tidak empirik.Tetapi agar ‘perilaku’ seperti ini tidak disalahfahami, Allah sendiri yang memberikan metodologi memahami-Nya yang disebuh tanzih—pelepasan dari karakter manusiawi—(42:11), dan ta’wil—mengembalikan pengertian seperti pada awalnya—(3:7 dan 4:59).

2). Kelima, kualitas orang bertaqwa berikutnya ialah mengimani Kitab Suci yang diturunkan sebelum al-Qur’an. Allah ingin mengatakan bahwa al-Qur’an, Nabi Muhammad saw, dan Islam adalah kelanjutan dari agama-agama samawi sebelumnya. Al-Qur’an sebagai shiratal mustaqym (Jalan Lurus) adalah sebuah garis lurus yang datang menyambung garis lurus sebelumnya, dan bukan garis lurus yang berdiri sendiri dan lepas dari garis lurus seblumnya. Sehingga garis lurus itu merentang bagai tali yang terulur dari ‘langit’ ke ‘bumi’, dari Nabi Adam melalui nabi-nabi yang lain, kemudian Nabi Muhammad saw, hingga akhir zaman. “Dia (Allah) menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu dengan al-Haq (mengandung kebenaran); (dengan) membenarkan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelumnya, dan (Dia juga) yang menurunkan Taurat dan Injil.” (3:3) Berkenaan dengan fungsi al-Qur’an seperti inilah Allah berpesan: “Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai…” (3:103).

3). Keenam, kualitas orang bertaqwa yang terakhir ialah meyakini adanya hari akhirat. Ini sangat penting selain karena nilai perbuatan manusia ditentukan oleh tujuannya, juga karena hari akhirat merupakan doktrin sangat penting dalam agama manapun. Ada enam Rukun Iman, tetapi—di banyak ayat—terkadang disingkat menjadi dua saja: Iman kepada Allah dan Hari Akhirat (misal 2:8, 5:69, 29:36, 65:2). Urgensi pembahasan Hari Akhirat ini dimulai dari pertanyaan penting Allah kepada manusia: “Maka kemanakah kalian akan pergi?” (81:26). Jawaban atas pertanyaan ini amat menentukan sikap dan cara pandang kita terhadap kehidupan ini. Orang yang meyakini bahwa kehidupan ini tidak berhenti sampai di dunia ini saja, tentu akan mempersiapkan diri untuk menyambut kehidupan berikutnya. Yang bersangkutan akan mentransformasi seluruh kehidupan dunia dan materialnya menuju ke akhirat. Dan disebut taqwa apabila diyakini bahwa tiap perbuatan—sekecil apapun—kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat sana.

4). Lalu apa konsekuensi dari kata “mengimani” yang tertera di ayat ini? Apakah sekedar mempercayai? Tentu saja tidak. Karena seperti disebutkan terdahulu bahwa iman itu adalah tenaga pendorong yang menggerakkan seseorang untuk bertindak menurut apa yang diimaninya. Maka jika kita mengimani Kitab Suci, tentu akibat logisnya ialah MEMBACA dan MEMPELAJARI-nya. Tidak ada bukti iman kalau tidak melakukan keduanya. Hal yang sama terjadi dalam kaitannya dengan mengimani hari akhirat. Akibat logisnya, menganggap kehadiran kita di dunia ini sekedar pelancong belaka saja seraya menunggu batas akhir berlakunya visa kunjungan wisata kita. Dalam keadaan seperti ini, hal yang paling penting kita lakukan adalah mengambil dan membeli apa saja yang bisa kita bawa kembali ke ‘kampung halaman’ sebagai ‘oleh-oleh’ yang akan menghiasi rumah kita yang sesungguhnya.

 

AMALAN PRAKTISKalau Anda belum merasa senang sebelum membaca berita hari ini, seharusnya perasaan seperti itu juga ada pada diri Anda terhadap al-Qur’an bila Anda benar-benar mengimaninya. Jika berita yang Anda baca itu dengan segera berlalu begitu muncul berita berikutnya, maka—camkanlah—berita yang dibawa al-Qur’an itu justru akan kita jumpai di masa mendatang, cepat atau lambat. Maka bacalah al-Qur’an minimal 10 ayat tiap kali selesai shalat…!!!

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply