Al-Baqarah ayat 39

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 3, 2011
0 Comments
2271 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 39

 

وَالَّذِينَ كَفَرواْ وَكَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا أُولَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

[Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.]

[And (as to) those who disbelieve in and reject My communications, they are the inmates of the fire, in it they shall abide.]

 

1). Ayat ini merupakan akhir dari rangkaian pembahasan tentang PETUNJUK (al-Qur’an) yang kita minta di Surat al-Fatihah, yang sejauh ini telah membahas beberapa hal. Pertama, tentang al-Qur’an sebagai al-Kitab (ayat 2) dan tiga sikap manusia terhadapnya: mengimaninya (ayat 3-5), mengingkarinya (ayat 6-7), dan bersikap munafik kepadanya (ayat 8-20). Kedua, tentang permintaan Allah kepada segenap manusia untuk mengibadahi-Nya (ayat 21-22) menurut PETUNJUK al-Qur’an yang tak bisa manusia (individual ataupun kolektif) membuat petunjuk yang setara dengannya (23-24). Ketiga, tentang balasan kehidupan akhirat yang menyenangkan (surga) bagi mereka yang mengimani al-Qur’an dan beramal saleh dengannya (ayat 25) dan begitu gampangnya memahami kebenaran di dalamnya segampang memahami kebenaran pada seekor nyamuk, tetapi sekaligus sulitnya orang yang tertutup hatinya memahaminya (ayat 26) sehingga mengantarkan mereka melakukan perbuatan-perbuatan tidak terpuji seperti menginkari janji dengan Tuhannya, memutus tali silaturrahimnya, dan membuat kerusakan di bumi (ayat 27). Keempat, tentang ‘keheranan’ Allah kepada mereka yang mengingkari Diri-Nya—yang juga berarti mengingkari al-Qur’an—padahal asal-usul mereka dan martabat alam yang mereka akan lewati sharusnya bisa mengingatkannya betapa pentingnya PETUNJUK itu (ayat 28-29). Kelima, Tentang pengangkatan “pasangan” PETUNJUK yang bergelar KHALIFAH yang akan melaksanakan Pemerintahan Ilahi di bumi-Nya (ayat 30) beserta kapasitas dan kapabilitas yang ada padanya (ayat 31-33) sehingga para malaikat pun bersujud kepadanya kecuali Iblis (ayat 34). Keenam, tentang keunikan penciptaan manusia—yang sungguh-sungguh berbeda dengan hewan manapun—dimana jasmaninya bersifat material (dari bumi) dan ruhaninya yang bersifat nonmaterial (dari ‘langit’) beserta drama pergulatan hidupnya untuk keluar dari kemelut duniawinya yang penuh permusuhan dan kembali ke haribaan Tuhannya dengan selamat (ayat 35-37). Dan jaminan Allah kepadanya bahwa selama mereka mengikuti PETUNJUK yang datang dari-Nya, maka mereka tidak perlu khawatir dan bersedih (ayat 38).

 

2). Di ayat ini Allah menggunakan kata آيَات (ayāt, ayat-ayat, bentuk jamak). Pertanyaannya: Apa yang al-Qur’an selalu maksudkan dengan ayat-ayat? Kata آيَات (ayāt, ayat-ayat) di sini bisa diartikan dengan beberapa hal. Pertama, semua ayat yang tertera dalam Buku PETUNJUK (al-Qur’an). “Alif, laam, raa. Inilah (diantara) ayat-ayat (dari) Al-Kitab, yaitu (ayat-ayat) Al Qur’an yang memberi penjelasan.” (15:1) Kedua, ayat-ayat dalam pengertiannya yang luas. Yaitu, selain ayat-ayat yang tertulis (al-Kitab atau al-Qur’an) juga ayat-ayat yang tercipta (alam semesta). Karena dalam al-Qur’an manusia dan alam semesta juga disebut sebagai ayat-ayat Allah. Dalam pengertian ini, ayat dimaknai sebagai “tanda” atau “alamat” mengenai kehadiran-Nya. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat ayat-ayat bagi orang yang berakal.” (3:190) Dan antara al-Qur’an dan alam semesta adalah satu kesatuan yang tak mungkin bertentangan satu sama lain. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (41:53) Ketiga, ayat dalam pengertian artefak orang suci. “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat ayat-ayat yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia...” (3:96-97)

Keempat, Azab pun adalah ayat yang menjelaskan perbuatan-Nya. “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai ayat-ayat yang rinci, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (7:133) Kelima, ayat dalam pengertian mukjizat. Kata mukjizat dalam kaitannya dengan kejadian-kejadian adialami atau luar biasa, tidak pernah digunakan dalam al-Qur’an. Umumnya menggunakan kata ayat.  “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu (Muhammad), di antaranya ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak mungkin seorang rasul membawa suatu ayat (mu`jizat), melainkan dengan seizin Allah….” (40:78) Umpamanya hidangan yang turun dari langit: “Isa putera Maryam berdo`a: ‘Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi ayat bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezki Yang Paling Utama’.” (5:114)

Lalu apa makna kata آيَات (ayāt, ayat-ayat, bentuk jamak) di ayat 39 ini? Karena ini dalam bentuk jamak, maka bisa masuk semua makna tadi. Tetapi apabila dikaitkan dengan ayat sebelumnya (ayat 38), maka ayat-ayat yang dimaksud ialah هُدًى (hudan, PETUNJUK, al-Qur’an) yang datang مِّنِّي (minniy, dari-Ku). Dan manakala dikaitkan dengan seluruh ayat yang mendahuluinya hingga ke ayat 1, maka kata آيَات (ayāt, ayat-ayat) bisa bermakna mukjizat. Karena Sepanjang pembahasan Surat al-Baqarah dari ayat 1 sampai ayat 38, ada beberapa hal yang bisa disebut mukjizat. Pertama, adalah al-Qur’an itu sendiri, yang hingga kini tidak ada yang sanggup menerima tantangannya untuk membuat yang serupa dengannya (ayat 23). Kedua, manusia, baik ditilik dari sisi penciptaannya yang unik di bumi ini yang tidak mengikuti pola penciptaan hewan dan tumbuh-tumbuhan, ataupun dilihat dari sisi martabat-martabat alam yang akan dilewatinya untuk kembali ke haribaan Tuhannya (ayat 28-29). Ketiga, khalifah, yang merupakan perbuatan langsung Allah dan ilmunya yang tidak sanggup disaingi oleh makhluk manapun termasuk malaikat, sehingga malaikat pun harus bersujud kepadaanya.

Poin manapun yang kita pilih, ayat 39 ini berlaku: “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.  Baik mengingkari atau mendustakan semuanya atau sebagian, hukumnya sama saja. “… Apakah kalian beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiada balasan diantara kalian bagi orang yang berbuat demikian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat” (2:85. 

 

3). Ayat ini mempertegas kembali ayat 24 yang mengancam orang-orang yang mengingkari al-Qur’an. “Maka jika kalian tidak dapat membuat (nya) dan pasti kalian tidak akan dapat membuat (nya), takutlah kepada neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang kafir (terhadap al-Qur’an)”. Kalau di ayat 24, Allah menjelasan untuk siapa neraka itu disiapkan dan bagaimana watak penghuni neraka itu, maka di ayat 39 ini Allah menjelaskan sifat kekal dari neraka yang sama dengan sifat kekal dari surga yang diterangkan di ayat 25; yakni: “… mereka kekal di dalamnya.” Mereka, para penentang dan pendusta al-Qur’an ini dijuluki oleh Allah sebagai أَصْحَابُ النَّارِ (ashhābun-nār, sahabat neraka) karena yang disebut sahabat atau persahabatan ialah sesuatu yang kita pilih secara sadar untuk kita jadikan sebagai tempat berlindung dan saling berbagi. Seperti golongan pemuda yang dengan sengaja masuk ke dalam gua untuk berlindung dari kejaran penguasa zalim dan iklim, disebut ashhābul-kahfi (sahabat gua). Jadi tidak ada orang yang kebetulan masuk neraka. Semua orang yang masuk neraka adalah konsekuensi dari pilihan sadarnya sendiri.

 

4). Ayat berikutnya (ayat 40 hingga 123) akan bercerita panjang-lebar tentang Bani Israil. Walaupun tema pembicaraan beralih, tetapi kontinuitas penalaran tetap akan terjaga. Karena di ayat-ayat berikut ini Allah memberikan sampel historis—yang fakta sosialnya masih eksis hingga kini—dari satu komunitas yang jatuh (dari ‘sorga’-nya) dan hidup nista dan terhinakan karena menentang (dan bahkan membunuh) Khalifah Ilahi.

 

AMALAN PRAKTIS

Tidak ada diantara kita yang tidak akan meninggal dunia. Setelah kita kembali kepada Allah, Dia hanya menyiapkan dua jenis ‘tempat’ di sana: surga dan neraka. Jadi probabilitasnya tidak banyak. Cuma dua. Camkan: cuma dua. Dan pilihan itu dilakukan di dunia ini, sekarang, sebelum kematian itu datang, Yaitu mengikuti al-Qur’an atau menentangnya. Tidak ada spekulasi di sini. Karena pilihannya jelas. Maka renungkanlah terus-menerus: apakah Anda sudah termasuk mengikuti sepenuhnya al-Qur’an atau menentangnya…!!!

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply