Al-Baqarah ayat 38

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 3, 2011
0 Comments
948 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 38

 

قُلْنَا اهْبِطُواْ مِنْهَا جَمِيعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

[Kami berfirman: “Turunlah kalian semua dari surga itu! Kemudian jika datang kepadamu dari-Ku petunjuk, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.]

[We said: Go forth from this (state) all; so surely there will come to you a ance from Me, then whoever follows My ance, no fear shall come upon them, nor shall they grieve.]

 

1). Setelah di ayat 36, perintah “turunlah” di ayat ini adalah yang kedua di tempat yang berdekatan. Menunjukkan bahwa memahami makna “turunlah” itu teramat sangat penting. Arti pentingnay bisa kita lihat melalui kalimat yang menyertainya. Di ayat 36, setelah kata “turunlah”, kalimat yang menyertainya berbunyi: “sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain”. Artinya, setelah “turun” atau keluar dari wilayah khalĭfah ilahi, suasana surgawi, keadaan fithrah, maka niscaya akan terjadi suasana permusuhan di antara sesama manusia demi kelangsungan hidup duniawi mereka yang bersifat material dan terbatas. Sedangkan di ayat ini, kata “turunlah” disusul oleh kalimat: “Kemudian jika datang kepadamu dari-Ku petunjuk, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Artinya, ayat 38 ini adalah solusi terhadap masalah permusuhan yang disebutkan di ayat 36. Yakni bahwa suasana permusuhan, suasana duniawi, suasana syaitaniyah, akan berakhir dengan mengikuti PETUNJUK yang datang dari Allah. Dengan demikian, sejauh ini—dari awal Surat al-Baqarah sampai ayat ini—kita hanya berbicara tentang dua hal: PETUNJUK (yakni al-Qur’an) dan Pembawa PETUNJUK (yakni para khalĭfah ilahi); dimana keduanya tidak akan pernah terpisahkan selamanya, seperti pernah kita terangkan di Surat al-Fatihah ayat 7. “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al Qur’an) dari urusan Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apa Al Kitab (Al Qur’an) itu dan tidak (pula mengetahui apa) iman (itu), tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (42:52)

 

2). Di potongan ayat: “Kemudian jika datang kepadamu dari-Ku petunjuk,” penekannya harus diberikan pada kata مِّنِّي (minniy, dari-Ku). Yang terfahami oleh kita—dari kata مِّنِّي (minniy, dari-Ku) ini—bahwasanya PETUNJUK tersebut adalah ‘limpahan’ dari DIRI-Nya; karena tidak ada apapun dalam Zat-Nya selain DIRI-Nya sendiri yang Tunggal dan Mandiri. Dan karena semua yang selain DIRI-nya, termasuk manusia, berasal dari DIRI-Nya, maka bisa dipastikan bahwa PETUNJUK tersebut tentu bersesuaian dengan manusia dan seluruh realitas yang ada. Yang juga berarti bahwa PETUNJUK atau Tuntunan Hidup satu-satunya yang bisa memberikan kebahagiaan dunia-akhirat kepada manusia ialah yang datang langsung dari Tuhan, dan tidak dari yang lain-lain. Karena Petunjuk Ilahi ini selain menjadi JALAN (shiraāth) bagi manusia untuk bertaqwa dan kembali kepada-Nya, juga menjelaskan tentang hakikat dan seluk-beluk DIRI manusia itu sendiri. Tidak ada selisih antara Petunjuk Ilahi ini dan Fithrah manusia, sebagaimana tidak adanya selisih antara Petunjuk Ilahi ini dan khalĭfah ilahi. Dan tidak ada selisih artinya tidak ada keraguan padanya: “Itulah al-Kitab/al-Qur’an (yang) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang bertaqwa.” (2:2). Makanya walaupun kata مِّنِّي (minniy, dari-Ku) itu maksudnya berasal dari Allah tapi tidak berarti bahwa Buku Petunjuk itu turun secara ujug-ujug dari langit dan dengan serta-merta ada di rak-rak perpustakaan atau di toko-toko buku. Harus ada “sosok” yang dituju, yang merupakan pilihan Allah sendiri, dan karenanya kita sebut “sosok ilahi”. Itu sebabnya, di ayat Surat al-A’raf (7) yang berbicara soal Nabi Adam juga, yang setara dengan Surat al-Baqarah ayat 38 ini, ialah: “Hai anak-anak Adam, jika datang kepada kalian rasul-rasul dari sesamamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan (dengan mengikuti rasul-rasul tersebut), maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (7:35) Bacalah kedua ayat ini (2:38 dan 7:35) berkali-kali, niscaya akan sampai pada kesimpulan bahwa Petunjuk Ilahi itu adalah Khalĭfah Ilahi itu sendiri; begitu juga sebaliknya. Keduanya tidak pernah berpisah.

 

3). Lalu apakah manusia tidak boleh membuat petunjuk sendiri untuk diikuti sesuai dengan perkembangan zamannya? Boleh saja, tetapi ketahuilah bahwa petunjuk seperti itu pastilah bersifat teknis-pragmatis, parsial dan temporer, dan hanya cocok digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan teknis-pragmatis, parsial dan temporer pula. Misalnya, petunjuk membuat mobil, petunjuk mengoperasikan komputer, petunjuk peraturan lalulintas, petunjuk bongkar-muat kapal di pelabuhan, petunjuk pengaturan tata kota, dan sebagainya. Petunjuk-petunjuk seperti itu memang menjadi hak ikhtiari dan obyek kreativatas manusia, yang dari waktu ke waktu mutlak berubah sesuai dengan kebutuhan zaman. Sains berubah, teknologi berubah, maka petunjuk parsial itupun harus berubah; kalau tidak, maka pasti ketinggalan zaman. Itu sebabnya agar petunjuk-petunjuk parsial seperti ini tetap menjadi instrumen penegakan keadilan, semuanya harus berada di bawah Payung Ilahi. Kalau tidak, petunjuk-petunjuk itu hanya akan menjadi instrumen kezaliman bagi yang kuat terhadap yang lemah. Padahal seluruh urusan keseharian manusia seyogyanya menjadi bagian dari pelaksanaan ayat ini: “Sesungguhnya Allah memerintahkan (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (16:90)

 

4). Allah memberi jaminan bahwa siapa saja yang mengikuti Petunjuk-Ku, dia niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Kalimat yang bergaris miring ini muncul sebanyak 14 kali dalam al-Qur’an, sebanyak jumlah kata كَلِمَة (kalimah)—yang di pembahasan ayat yang lalu kita artikan sebagai “sosok ilahi”.  Oleh karenanya, kalimat bergaris miring tadi juga sekaligus menjadi sifat utama dan tanda yang jelas bagi wali-wali Allah: “Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (10:62) Inilah yang menerangkan kenapa Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw tidak memiliki rasa takut dan sedih sedikitpun ketika disuruh oleh Nabi menempati tempat tidurnya sesaat sebelum berhijrah, padahal eksekusi terhadap pemilik tempat tidur tersebut sebentar lagi dilakukan. Ini juga yang menjelaskan kenapa Nabi sama sekali tidak terganggu dengan hunusan pedang tajam para algojo yang membuntutinya di Gua Tsur. Bahkan kepada Abubakar as-Shiddiq ra—yang menyertainya dalam perjalanan itu—dengan tenangnya berkata: “…’Janganlah kamu (wahai Abubakar) bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita’…” (9:40)

Ada dua kata kuncinya di sini: خَوْفٌ (khawf, khawatir) dan يَحْزَنُونَ (yahzanuwn, bersedih). Di 14 ayat tersebut, kedua kata ini tidak pernah berpisah. Dan agaknya hanya dua ‘penyakit’ inilah yang menjadi sumber ketidakbahagiaan manusia. Rasa خَوْفٌ (khawf, khawatir) muncul manakala kita takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang. Dan rasa يَحْزَنُونَ (yahzanuwn, bersedih) timbul apabila telah terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan di masa yang lalu. Di sebut ‘penyakit’ (tidak normal) karena tiga alasan. Pertama, peristiwa yang sudah berlalu tidak mungkin dikembalikan lagi, karena tidak ada seorangpun dengan kekuatan apapun yang bisa memutar balik waktu seperti memutar balik sebuah kaset atau cd. Misalnya, Anda cacat karena kecelakaan lalulintas; sekarang tidak ada gunanya lagi melakukan pengandaian: “Seandainya dulu saya tidak bepergian dan tetap di rumah saja.” Setiap pengandaian seperti ini akan melahirkan kesedihan dan mengurangi ketenagan hidup. Semakin banyak pengandaian seperti ni semakin tidak tenang pula hidup ini. Yang bisa kita lakukan ialah mengusahakan agar peristiwa yang sama jangan terulang lagi di masa-masa mendatang. Kedua, peristiwa yang belum terjadi, apalagi belum pasti terjadi, juga tidak ada yang bisa memaksanya terjadi sekarang. Artinya, terhadap sesuatu yang belum terjadi, kita masih punya senggang waktu untuk melakukan hal-hal yang positif terhadapnya, misalnya dengan menerapkan safety management (manajemen keselamatan) yang lebih ketat. Ketiga, kalau semuanya toh terjadi, harus kita ketahui bahwa dunia ini memang dunianya peristiwa-peristiwa. Menolak peristiwa-peristiwa itu sama dengan menolak realitas kehidupan yang memang terus berubah. Peristiwa terjadi ketika perubahan terjadi. Tidak ada satupun di dunia ini yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Dan dalam perubahan itu selalu ada yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Maka agar perubahan-perubahan dan peristiwa-peristiwa itu tidak menganggu ketenangan dan kebahagiaan hidup kita, caranya cuma satu, yaitu dengan mendengarkan pesan Allah: “Turunlah kalian semua dari surga itu! Kemudian jika datang kepadamu dari-Ku petunjuk, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” Allah bahkan menjamin akan mengirim malaikat kepada siapa saja yang berpegang teguh secara istiqomah pada Petunjuk-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.” (41:30)

 

AMALAN PRAKTIS

Apakah Anda sering dilanda rasa sedih dan takut sehingga jiwa Anda selalu gunda-gulana? Kalau, ya, maka bacalah ayat ini berkali-kali dan resapi artinya. Setelah itu praktekkan, minimal dengan membaca al-Qur’an pada saat gunda-gulana itu sedang menyerang Anda. Awalnya pasti berat. Tetapi begitu berlalu beberapa ayat, Anda akan merasakan ada sesuatu seperti air sejuk yang menyirami pori-pori jiwa Anda. Karena al-Qur’an adalah syifa’ (obat jiwa) dan rahmah (penyejuk hati) bagi orang beriman.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply